Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
80. Doain Nikah Dulu


__ADS_3

Sudah jadi rahasia umum sebenarnya orang desa lebih ramah dalam bersosialisasi daripada orang kota. Makanya jika Gista bandingkan bagaimana rasanya jadi tamu di desa dan di kota, itu luar biasa jauh bedanya.


Padahal Gista masih di dekat pagar rumah, tapi orang-orang di teras rumah Teh Gina sudah memanggilnya.


Justru lebih duluan Gista yang mendapat panggilan daripada Juli.


"Tadi katanya di kebun," gumam Gista diam-diam, pada Endra yang masih memegang tangannya.


"Kebunnya lewat belakang, Teh." Endra menunjuk jalanan di samping rumah Teh Gina. "Banyak orang tuh di belakang. Teteh mau ke belakang? Mau liat-liat?"


Gista menengok ke teras rumah Teh Gina, di mana anak bayinya tampak sedang diayun-ayun.


"Terserah kamu."


Untuk urusan ini, Endra cukup peka bahwa Gista ingin melihat anak bayi. Namanya juga perempuan, jadi dia gampang tertarik dengan anak kecil.


Makanya Endra menggandeng Gista ke teras rumah Teh Gina, walaupun langsung diledek-ledek karena mereka gandengan.


Gista tidak paham awalnya. Mereka semua berbicara dengan bahasa Sunda yang tidak Gista pahami.


"Teteh sini." Endra duduk di teras tinggi itu, menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya agar Gista duduk. "Teh Gin, anaknya aku gendong yah."


"Yaudah, biar cepet nyusul kamu teh."

__ADS_1


Endra tertawa kecil sebelum pelan-pelan mengambil anak bayi itu.


Dia menggendongnya bersama selimut tipis. Tapi saat anak itu didekatkan pada Gista, hal spontan yang Gista lakukan adalah menghindar.


Menutup mulutnya.


"Dia bau minyak telon," celetuk Juli menyadarinya. "Bau banget, Gis?"


Sangat.


Maunya menyengat sampai Gista mau menangis karena sesak napas.


Tapi mustahil Gista bicara begitu di depan banyak orang, jadi ia menggeleng. Menutup hidung dan mulutnya dengan tangan kiri sementara mengulurkan tangan kanannya ke wajah bayi itu.


"Said." Teh Gina bergeser mendekat, ikut melihat anaknya yang tenang dalam gendongan Endra. "Namanya Said, Tante. Suka banget kalo digendong, apalagi sama cowok."


Gista berusaha tidak bereaksi ketika Teh Gina mendekat, dan bau dari minyak telon anaknya justru tercium makin tajam.


Bahkan rasanya sudah ada sesuatu yang mau muncul dari tenggorokan Gista, tapi ia telan sebisa mungkin.


Tidak. Jangan. Orang lain akan tersinggung jika Gista sampai muntah di sini.


"Jadi Teteh Gista ceritanya enggak bisa nyium minyak telon, yah?" tanya Teh Gina, senormalnya orang yang bingung.

__ADS_1


Memang. Kebanyakan orang, apalagi perempuan biasanya suka wangi minyak telon karena itu sangat identik dengan bayi. Jadi kalau ada orang merasa itu bau, dia terlihat seperti orang aneh.


"Iya." Gista menahan napas saat menurunkan tangan dari mulut dan hidungnya. Takut jika terlalu berlebihan, orang-orang ini malah akan tersinggung.


"Kok bisa gitu yah, Teh? Mual-mual gitu kalo nyium minyak telon?"


"Bukan hamil."


Endra langsung menyeletuk, sekaligus menyodorkan sebutir buah jeruk kepada Gista dengan tangannya yang tidak menggendong bayi.


"Teteh cium ini biar enggak terlalu bau. Jangan tahan napas, nanti oksigen ke otaknya kurang."


Gista berusaha tidak tersenyum akan perhatian itu. Meskipun bau minyak telon tercium sangat pekat, Gista merasa lebih baik karena Endra.


Kini, ia tak canggung lagi mendekatkan jeruk ke hidungnya.


"Ya aku kan enggak bilang Teh Gista hamil, Gasen. Baperan banget, sih."


"Soalnya kalo diliat Teh Gista emang kayak lagi hamil. Jadi biar diperjelas aja." Endra menjawab santai tapi terlihat tegas akan pernyataannya. "Nanti aku hamilin kali udah nikah. Doain nikah dulu baru hamil."


"Endra!" Gista melotot sementara yang lain tertawa.


Bukannya merasa bersalah, Endra cuma tersenyum manis.

__ADS_1


*


__ADS_2