
Endra bergegas keluar melihatnya. Panik mendengar Gista muntah-muntah, apalagi langsung mengundang perhatian semua orang di tenda dan bahkan dalam rumah.
"Waduh, Ibu-Ibu, ini kenapa pasien saya malah dikasih makan gula? Alergi gula ini."
Endra dengan alami mendekat dan membawakan air untuknya. Bicara seakan itu adalah hal ringan, buat mempengaruhi orang-orang yang mulai berpikir Gista 'punya' sesuatu di perutnya.
"Dikasih kue susu pula. Teteh-nya enggak biasa makan susu sama gula, Ibu-Ibu. Liat aja tuh badannya kurus begini," ucap Endra lagi, secara tidak langsung memaksa semua orang beralih dari pikiran A ke B.
Gista yang mendengar jelas tercenung.
Dia berbohong?
Tapi Gista tidak membantah, karena kalau tidak dikatakan begitu, yang muncul di benak mereka adalah 'hamil'.
Meski gara-gara itu mereka harus duduk di sana berpura-pura santai mengobrol sambil diam-diam menyelipkan penekanan bahwa Gista tidak hamil, melainkan sakit alergi.
*
"Maaf yah, Teh."
Dia langsung mengucapkannya begitu mereka meninggalkan lokasi itu. Sambil mengendarai motor pelan-pelan, sesekali dia menoleh dengan raut wajah penat.
Pasti dia stres dituduh menghamili anak orang. Tentu saja tidak ada orang yang suka dipojokkan jadi penjahat kelamin.
__ADS_1
"Kalau enggak digituin, susah bilangnya," jelasnya lagi. Seperti takut Gista berpikir macam-macam.
"Saya paham."
Gista tidak keberatan dikata alergi. Tadi juga ia dapat body shaming. Katanya Gista cantik karena ia kurus, tapi perempuan itu harus sedikit berisi biar seksi, begitu katanya.
Juga beberapa hal lagi yang sebaiknya tidak dibahas.
"Saya juga terpaksa makan soalnya mikir mau dijelasin gimana juga enggak paham."
Dan capek menjelaskan berulang-ulang. Capek, demi Tuhan. Capek harus menjelaskan hal sama demi memuaskan rasa penasaran orang, lalu ternyata nanti mereka juga tidak paham.
Endra tertawa pasrah. "Berhadapan sama orang awam memang begitu, Teh. Maksudnya baik kok. Bukan jelek-jelekin atau terlalu ikut campur. Memang cara interaksi mereka begitu."
Iya, Gista tahu. Gista juga bukannya dari keluarga super pintar. Gista cuma belajar menghargai justru pas ia berpisah dari orang tua, mengalami banyak masalah sendiri di luar dan akhirnya sadar kalau tidak banyak omong itu kunci perdamaian dunia.
"Tapi emangnya enggak masalah?" Gista lebih penasaran mengenai hal itu.
"Apanya, Teh?"
"Kamu sama Yura."
Endra tidak pernah mau membahas itu, jadi sebenarnya Gista ragu.
__ADS_1
Namun berkat ocehan panjang ibu-ibu tadi yang secara rinci memberitahukan bahwa Endra dan Yura berencana dinikahkan setelah Yura lulus, Gista rasa tak masalah kalau ia bertanya.
Apalagi katanya Yura sakit, sementara orang tuanya takut dia operasi.
Persoalan menstruasi sampai kadang pingsan karena kesakitan itu Gista pernah lihat di temannya. Meski temannya itu cuma meredakan dengan senam karena tidak mau menikah cepat juga tidak mau operasi.
Wajar saja memang. Rasa sakit mereka yang punya rahim terbalik itu berkali-kali lipat dari sakit menstruasi perempuan yang rahimnya normal.
Orang tua Yura pasti mau memberi anak mereka kenyamanan terbaik.
"Saya nganggep Yura adek aja, Teh." Endra ternyata menjawab tenang. "Saya sebenernya enggak tau kenapa malah ke sana."
"Kok bisa?"
"Saya enggak tau juga, deh. Padahal saya cuma bilang kalau hamil nanti sembuh. Kayak kata orang tua dulu."
Endra menjelaskan halus. Laju motornya supeeer pelan karena dia sesekali menoleh, berbicara pada Gista penuh perhatian.
"Pertumbuhan janin di rahimnya orang yang punya kasus rahim terbalik itu secara alami bakal balikin posisi rahimnya dari B ke A, misal aja. Jadi saya bilang, ini bisa sembuh kalau hamil."
Ya tapi mungkin di telinga orang itu malah terdengar seperti kode. Padahal Endra cuma menjelaskan dengan bahasa awam.
*
__ADS_1