
Ekspresi Endra mendadak kosong. Pemuda itu bengong merasakan jejak lembut dari bibir Gista di pipinya.
Tunggu, barusan Teteh manisnya mencium Endra? Serius?
Anj*r. Endra menutup mulutnya, menahan malu. Kenapa jadi aku mulu yang dibikin baper? Harusnya yang begini kan dia.
Biasanya sih Gista itu tidak tahan digoda, tapi dia ternyata berhasil mengendalikan diri, pura-pura tidak merasa malu.
Endra mau membalas dia. Mau menggodanya entah dengan berkata 'masa pipi doang, Teh, bibirnya enggak?' atau sekadar bilang 'cie, nyosor saya duluan'.
Masalahnya, Endra malu betulan. Jadi ujung-ujungnya Endra bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa, ikut duduk di sofa di seberang Gista.
Terus, biar tidak berlarut-larut malu dan salah tingkah, Endra putuskan membuat pemeriksaan ulang.
"Kita cek kondisi Teteh lagi, mau enggak, Teh?"
Gista mengerjap kaget. Sebenarnya dari tadi sedang merutuk dalam hatinya sendiri. Gista luar biasa malu melakukan hal barusan.
Tapi ... kok reaksi Endra biasa saja?
"Cek ... apa?" Gista sampai bingung menjawab karena lebih fokus pada kecupan tadi.
Jangan bilang Endra ilfeel? Duh, apa seharusnya Gista tidak terlalu agresif, ya?
__ADS_1
Ta-tapi itu kan cuma ciuman. Maksud Gista, cuma kecupan pipi. Jadi ia pikir tidak apa-apa.
Tunggu, jangan bilang di desa ini tindakan semacam itu adalah dosa besar? Eh? Tapi kalau dipikir-pikir memang dosa besar, yah. Soalnya di desa ini, pakai kaus ketat pun ia dikomentari.
Kalau begitu, jangan bilang Endra—
"Teh? Teteh kenapa?"
Gista tersentak, bingung dan linglung. Tunggu, tadi Endra bilang apa?
"Teteh kenapa?" Endra tiba-tiba berpindah ke sebelah Gista, memegang kedua sisi wajahnya agar menoleh. "Mukanya kok tiba-tiba sedih? Kenapa? Teteh enggak mau diperiksa? Kalau enggak mau Teteh bilang, yah? Saya enggak mau maksa. Jangan maksain diri karena saya nyuruh."
Gista menunduk, memegang tangan Endra dengan kedua tangannya.
Bukan soal pemeriksaan. Gista sama sekali tidak keberatan lagi kalau Endra mau memeriksa sesuatu tentang penyakitnya. Gista sudah yakin bahwa apa pun itu, Endra akan berusaha mengerti, sebab dia selama ini selalu berusaha mengerti.
"Kamu enggak suka yah saya gituin kamu?"
"Eh?"
"Kamu diem aja." Gista memegang tangan Endra kuat, tak rela jika dia melepaskannya.
Bahkan kalau aroma pengharum baju Endra terasa aneh, Gista lebih peduli pada Endra sekarang menyentuhnya.
__ADS_1
"Saya enggak sopan yah gituin kamu? Makanya kamu diem. Kamu marah sama saya?"
Endra malah tercengang, karena tidak paham apa yang Gista bicarakan.
Gituin apa?!
Otak Endra berpikir keras, berputar-putar mencari makna 'gituin kamu' yang Gista maksudkan. Tapi sekeras apa pun berpikir, Endra tidak punya clue untuk menemukan makna gituin yang Gista maksudkan.
Mendadak banget!
"Tuh kan kamu diem." Mata Gista mulai berkaca-kaca. Dalam kepalanya malah Gista sudah memikirkan kalau Endra akan benci padanya, jijik padanya, atau bahkan risi dan berubah pikiran.
Biasanya cowok dicium bakal bereaksi, minimal menggodanya. Kok Endra malah diam saja? Kenapa?
"Jangan diem. Plis. Saya minta maaf." Gista akhirnya menangis. Benar-benar takut karena Endra malah terus diam memandanginya.
Plis, plis, plis. Jangan jijik pada Gista. Ia mencium Endra tadi bukan untuk niat apa pun tapi karena sayang.
Gista bukan mau bersikap murahan.
"Saya minta maaf. Saya enggak bakal gitu lagi."
Endra cengo. Luar biasa kepo dengan apa yang Gista maksud 'gitu'.
__ADS_1
Apa, sih?!
*