
Besoknya, Gista tentu sudah bersiap memberitahu Endra. Semua barang-barang Gista pun sudah ia kemas dalam koper. Semalaman Gista juga berpikir, bahwa ia sudah terlalu lama lari dari kenyataan.
Tempat ini memang sangat nyaman, tapi mau sampai kapan ia bermanja-manja di balik punggung Endra? Ibu sama Ayah di rumah pasti sudah sangat khawatir pada Gista, jadi memang sudah seharusnya Gista pulang secepatnya.
Di tempat ini ia memberi Endra masalah dan di tempat lain Gista meninggalkan masalah.
Gista tak mau seperti itu terus.
"Teteh." Pintu kamar Gista akhirnya diketuk, bersama dengan suara Endra memanggilnya lembut. "Saya masuk, yah."
Pintu kamar pelan-pelan didorong terbuka, disusul kemunculan Endra yang membawa gelas rimpang seduh di tangannya.
Wajah Endra terlihat sangat tampan saat dia tersenyum manis. Manis senyumnya benar-benar menggambarkan manis cowok Sunda.
Tapi walaupun terlihat manis seperti itu, Endra masih tidak meninggalkan kesan terhormat dalam dirinya. Dia rapi, bersih, tertata walaupun sebenarnya ini masih pagi, dan kalau harus ditekankan ya ini kampung.
Dia berbaju lusuh pun orang-orang tidak akan menganggap itu terlalu aneh.
"Teteh saya udah bangun?" tanya Endra lembut. Masih tersenyum mendekati Gista. "Kok megang koper, Teh? Lagi bongkar-bongkar, yah? Saya bantuin?"
Gista jadi merasa sangat tidak nyaman.
Bagaimana caranya ia bilang pada Endra kalau dirinya sudah mau pulang? Apa terlalu tiba-tiba? Bagaimana kalau Endra merasa Gista tidak memikirkan pendapatnya?
__ADS_1
"Teteh?"
Gista mencengkram pegangan koper saat ia menunduk. Karena Gista tak berani menatap Endra, ujung-ujungnya Gista memejamkan mata. Pelan, Gista berbisik, "Saya mau pulang."
"Eh?"
Sebenarnya Gista cuma mau bilang kalau ia mau ke dokter agar bisa segera sembuh dan mereka bisa menikah. Peduli setan kalau nanti tidak akan sesederhana itu, tapi yang jelas Gista mau segera bersamanya secara normal.
Namun yang keluar dari mulut Gista justru hal lain.
"Saya nyusahin kamu." Suara Gusta gemetaran mengatakannya. "Gara-gara saya kamu berantem sama Om sama Tante kamu."
"Teteh—"
Nanti jika sudah tidak menyusahkan, baru Gista akan kembali. Tentu saja, ia sangat berharap kalau Endra mau menunggunya sebentar saja.
Sampai Gista sembuh. Sekarang ia sudah baik-baik saja jadi Gista tak akan bersedih lagi bertemu dokter.
Bahkan kalau dokter mengatakan hal yang sudah ia tebak pun Gista tidak akan marah. Ia akan selalu ingat kalau dokter pribadinya, Gasendra ini, sudah bilang kalau Gista pasti sembuh.
Tidak peduli penyakitnya apa.
"Saya sama Ashar mau pulang hari ini. Makasih udah nolongin saya. Juga, saya minya maaaf karena ...."
__ADS_1
Endra hanya diam, pelan-pelan tak mendengar penjelasan Gista.
Di telinga Endra sekarang, Gista sedang mengucapkan sebuah kalimat sangat dingin.
Yang kalau disingkat rasanya berbunyi : saya udah enggak butuh kamu jadi saya mau pulang. makasih.
Kenapa Gista mengucapkan kalimat yang sekejam itu? Bukankah Endra sudah berjanji akan menemaninya sampai dia sembuh?
"Teteh udah baikan sama Akang Ashar?" Endra mau tak mau berpikir begitu. "Teteh mau ninggalin saya karena udah baikan lagi sama dia?"
"Apa?" Gista tersentak mendengarnya. "Endra, saya enggak—"
"Terus kenapa Teteh mau pergi? Padahal Teteh janji cuma mau sama saya."
"Endra—"
"Kenapa? Karena saya cuma orang desa? Teteh udah kepikiran kalo lebih bagus sama mantan Teteh yang lebih sukses?"
"Endra, dengerin dulu. Saya enggak—"
"Dengerin apa?" Endra beranjak. Menatap dingin pada Gista akibat kekecewaan hatinya. "Ujung-ujungnya Teteh juga mau ninggalin saya."
*
__ADS_1