Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
34. Kondangan Bareng


__ADS_3

Malamnya, Gista bersiap-siap untuk datang ke pernikahan orang desa yang dirinya belum kenal siapa.


Gista memakai baju Yura yang tadi sore dibawakan oleh Endra. Panjangnya pas, namun lingkar dadaa dan pinggangnya tidak. Jadi baju itu tetap kelihatan kebesaran di badan Gista.


Berat badan Gista jelas turun drastis, ia tak bisa memakai baju yang dulu mungkin pas-pas saja di badan. Karena sekarang badannya berada di berat terkurus yang pernah Gista punya.


Gista juga tak memakai make up. Tidak bisa, lebih tepatnya, hingga ia cuma tersenyum kecewa waktu Juli menawarkan beberapa alat make up yang memang harusnya dipakai ke kondangan.


Baunya tidak enak. Gista merasa akan muntah saat membaui foundation. Skincare saja Gista tidak bisa pakai lagi gara-gara penciumannya. Gista hanya bisa cuci muka dengan memaksakan diri agar tak muntah oleh bau sabun.


Gista cuma menata sedikit rambutnya, dan memaksakan pakai liptint agar tidak terlalu pucat. Salah-salah ia malah dikira kurang darah.


"Maaf yah, Ndra. Saya bikin malu nanti." Gista merasa harus minta maaf buat itu.


Pasti Endra juga mau mengajak perempuan cantik jalan, bukannya perempuan sakit yang kelihatan mau pingsan.


"Lah, Teh, malu kenapa?" Endra malah bertanya.


Tentu saja Gista merasa sedikit tidak pede. Apalagi malam ini Endra memakai setelan batik hitam yang modis. Rambut dia distyling ke belakang, meski tidak memakai wewangian tertentu di badannya.


"Teteh nih suka banget deh overthinking," ucap dia lagi.


Endra memberhentikan motornya di depan lokasi acara yang nampak menyala-nyala bahkan dari kejauhan.

__ADS_1


"Saya ajak Teteh biar bisa hibur diri. Enggak usah mikirin yang berat-berat dulu, Teh. Santai aja."


Gista menghela napas. Ingin memasang maskernya tapi mendadak takut jadi aneh sendiri.


Diam-diam dilepaskan saja benda itu, mengikuti Endra yang berjalan beberapa langkah di depannya.


Suara musik berdentum-dentum. Sepasang pengantin sudah duduk di pelaminan dan sebagian besar tamu menyebar untuk makan.


Endra mengajaknya untuk naik dulu, menyapa dua pengantin yang malam ini nampak berseri-seri oleh kebahagiaan. Katanya sih ini perjodohan, tapi nampaknya mereka sudah menerima satu sama lain.


Gista cuma bisa tersenyum palsu.


Bau parfum pengantin pria membuatnya mau muntah. Dicampur dengan bau parfum pengantin wanita, lalu bau parfum ibu ayahnya mereka.


Tapi, terlepas dari itu, Gista tulus mengucapkan selamat. Memperkenalkan diri secara singkat bahwa ia datang ke sini untuk 'liburan' karena 'sakit', bukan justru perempuan aneh dari kota yang hamil lalu menunggu Endra mau tanggung jawab.


"Ditunggu undangannya juga yah, Kang." Pengantin Pria menepuk-nepuk bahu Endra penuh canda.


Itu agak memalukan sampai Gista berdehem berulang kali. Apalagi ketika turun, banyak pasang mata memandangi mereka seolah yakin mereka pasangan.


"Maaf yah, Teh." Endra menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Saya jelasin kok, Teh. Berkali-kali malah saya bilang. Cuma orang teh meni suka salah paham."


Gista membuang muka. Tak mau ketahuan bahwa ia agak baper.

__ADS_1


Murahan, rutuknya dalam hati. Bisa-bisanya malah senang waktu dikira pasangan padahal itu fitnah berat buat Endra.


"Aduh, Teh. Marah, yah? Maaf, yah? Jangan marah, dong. Nanti saya jelasin lagi deh ke orang-orang. Saya jelasin ulang-ulang biar paham."


Bibir Gista bergetar. Ia mau muntah tapi benar-benar gagal oleh keberadaan Endra ini.


".... Enggak duduk?" Gista mengalihkan pembicaraan.


Karena sebenarnya Gista tidak masalah. Sedikitpun ia tak masalah kalau dikira pasangannya Endra. Malah ia takut Endra yang bermasalah.


Takutnya justru dia yang risi, yang berarti dia tidak benar-benar menyukai Gista.


"Teteh enggak marah lagi, kan?"


Ih, dia malah nanya lagi. Kadang dia peka, kadang dia sangat tidak peka.


"Saya enggak pa—maksud saya, yaudah."


Endra tersenyum, membuat Gista buang muka buru-buru.


Dasar orang desa. Kenapa manis banget, sih?!


*

__ADS_1


__ADS_2