
Tante Inah jelas menyadari kalau anaknya bisa dengar dari dalam kamar, tapi tetap beliau mengatakannya pada Endra agar pemuda itu paham.
"Satu kampung udah pada ngomongin kamu sama Yura bakal nikah kalau Yura lulus. Terus tiba-tiba kamu suka sama cewek lain, kamu tinggalin Yura diketawain satu kampung?"
"Tante."
"Kamu mau bikin malu Yura? Kamu dari awal enggak ngomong apa-apa. Kalo kamu emang enggak mau, kenapa dari awal kamu bilang enggak?"
Bagaimana caranya Endra bilang kalau itu juga demi menjaga kehormatan Yura?
Sekarang Endra balik pertanyaannya. Saat seseorang dijodohkan secara tidak sengaja lalu spontan di laki-laki bilang 'enggak, aku enggak suka dia', siapa yang malu?
Perempuan juga.
Makanya Endra diam. Karena Endra sadar Yura itu cantik. Banyak yang mau bersanding dengannya. Bahkan kalau satu kampung menjodohkan, mereka juga tidak benar-benar bertunangan, jadi semua orang bisa mengambil kesempatan melamar dan diterima.
Sumpah demi Tuhan, Endra dari dulu tidak menolak karena ia pikir kalau Yura lulus, bakal ada anak orang kaya melamarnya jadi istri dan omongan soal Endra bakal menikahi Yura itu hilang.
Itu cara menolak paling halus. Biarlah Endra dikata ditinggal nikah.
"Sekarang Tante tanya sama kamu. Itu perempuan bisa apa buat kamu?"
__ADS_1
Endra diam.
"Kalo dibandingin Yura, bisa apa dia daripada Yura? Kamu liat Yura. Pagi udah bangun bersih-bersih, cuci piring, cuci baju sendiri, masak apa aja bisa. Itu perempuan yang kamu pengen bisa apa? Bisa dandan? Bisa keliatan cantik?"
"Kamu kira istrimu dinikahin cuma buat ngeliat cantiknya? Kamu kira kamu bakal kuat sama perempuan kayak gitu? Atau kamu yang mau ngurus rumah, hm? Istrimu yang mau ke kantor cari uang? Kamu aja yang masak, cuci baju, cuci piring, ngurus anak, nanti pulang-pulang istrimu minta makan, tidur, kamu yang beresin piring bekas makannya. Gitu?"
Endra diam-diam melirik ke arah pintu kamar Yura, di mana gadis itu menguping.
Ekspresi Yura juga terlihat murung. Endra terus terang tidak menyangka kalau Yura juga menaruh harapan padanya menikahi dia.
Hah, kenapa sih? Kenapa hal sepele jadi rumit begini?
"Tante, aku udah jelasin Tetehnya enggak bisa nyium bau sabun."
"Halah, basi!" Tante Inah meninggikan suaranya. "Kamu kira beneran ada yang begituan?! Kamu nih bukan dokter, Tante udah bilang berkali-kali! Kalo beneran dia enggak bisa makan, enggak bisa napas enggak bisa ini itu, dia pasti ke rumah sakit! Bukan malah ke sini! Kamu nih kayak orang bodoh aja mau ditipu-tipu perempuan."
Endra mengeraskan ekspresi. "Tante udah keterlaluan."
"Keterlaluan apa, sih?! Tante ngomong kenyataan! Kamu ngurusin orang yang—"
"Tolong jangan ngomong kalau Tante enggak tau apa-apa."
__ADS_1
Suara dingin Endra mengudara, bersamaan dengan matanya menatap sang bibi penuh tekanan. Ucapan barusan itu berada di luar toleransi Endra dalam bersabar.
"Tante enggak bakal tau berapa orang yang sakit karena omongan Tante barusan."
"Kamu berani ngomong—"
"Aku punya ijasah lulusan kedokteran dan sertifikat pendidikan jadi aku punya hak ngomong buat sesuatu yang aku pelajarin." Endra beranjak. "Aku ngerti Tante marah, Tante kecewa sama aku. Tapi ngomong tentang sakit orang itu bohong, enggak ada, pura-pura, Tante kira dia mau sakit?"
"Kalaupun dia pura-pura sakit, itu juga penyakit jadi itu juga perlu sembuh. Jadi aku ingetin sekali lagi, jangan pernah ngomong kalau Tante enggak paham. Itu enggak ngasih kontribusi ke masyarakat, Tante."
Dengan menyadari bahwa setelah ini ia akan dianggap sangat sombong, Endra berbalik pergi, keluar dari rumah itu dengan raut wajah marah.
Tidak.
Endra bukan hanya marah karena Tante Inah menghina Gista.
Endra marah sebab Tante Inah menganggap sepele penyakit seseorang.
Harusnya dia ingat hal sepele itu pernah membuat Endra kehilangan seseorang selamanya. Yang hanya menyisakan penyesalan sia-sia sampai sekarang.
*
__ADS_1