Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
89. Manjain


__ADS_3

Ashar beranjak dari kamar Gista setelah menerima persetujuan bahwa mereka akan ke rumah sakit. Gista pun juga setuju untuk menghubungi ibunya alamat rumah sakit yang akan mereka datangi, agar beliau bisa menyusul.


Niatnya Ashar mau turun memberitahu Endra bahwa Gista sudah mau, tapi ketika keluar, ternyata Endra tengah bersandar di tembok dekat pintu kamar.


Niat Endra bukan menguping. Ia tahu itu tindakan tidak sopan.


Tapi Endra juga tak bisa meninggalkan Gista begitu saja dengan Ashar, sebab Endra tidak suka. Lalu, suara Ashar terdengar jelas jadi Endra bukan menguping.


Hanya tak sengaja dengar.


"Kamu teh udah enggak ada rasa sama Teh Gista, yah?" Endra bertanya begitu setelah mereka berjalan menjauh dari kamar Gista.


Ashar terdiam. Sempat melirik ke arah lain dan terlihat memikirkan sesuatu yang rumit.


"Kamu cuma enggak suka kalah dari saya makanya kamu mau keliatan masih suka sama Teh Gista, gitu?"


Laki-laki itu tidak seperti perempuan.


Kalau perempuan mau pura-pura suka, dia bisa. Tapi kalau laki-laki tidak suka, mau berusaha suka pun bakal terlihat kalau dia tidak suka.


Ashar terlihat seperti itu di mata Endra.


"Yah, saya sih malah seneng kalau gitu. Kamu enggak bakal gangguin Teh Gista lagi. Tapi," Endra menatap dingin padanya, "ngasih tekanan kayak gitu ke Teh Gista cuma bikin dia depresi jadi enggak perlu."


"Terlalu manjain dia malah bikin dia ngelunjak."

__ADS_1


"Tenang aja. Saya emang mau bikin dia ngelunjak." Endra berlalu. "Jangan maksa-maksa Teh Gista lagi. Biarpun makan waktu sebulan, saya lebih suka bujuk pelan-pelan daripada keras."


Bukan karena Endra punya kesabaran seluas langit dan bumi, namun karena Endra mau menjaga mental Gista yang masih berupa kaca tipis.


Pecah sekali lagi, memang ada yang mau bertanggung jawab?


Tidak ada. Jadi lebih baik diam saja.


*


Endra itu paling benci tindakan yang tanpa alasan. Mungkin orang-orang menilai Endra itu baik, Endra itu sabar, Endra itu penyayang, Endra itu mudah memberi toleransi—maka disingkat Endra itu lemah, bodoh dan tidak paham kerasnya dunia.


Which is itu salah besar.


Itu hanya sepuluh persen alasan.


Kecil? Sepuluh persen itu sudah cukup besar.


Lalu apa alasan terbesar Endra memanjakan Gista?


Jawabannya : Endra tidak memanjakan Gista.


Endra berusaha menyembuhkan luka di hati Gista agar dia bisa lebih memahami dunia. Cuma, Endra melakukannya dengan ilmu pengetahuan dan dasar yang jelas.


Aku paling enggak suka sama orang kayak gitu, gerutu Endra dalam dirinya sendiri. Berlindung sama kalimat 'nanti dia ngelunjak' sambil nyakitin orang. Enggak bisa bedain tegas sama keras. Ngenggep kalau nyakitin orang itu bisa jadi booster dia kuat.

__ADS_1


Jaman Belanda jadi penjajah udah mau seratus tahun, ya Tuhan, kenapa mental orang masih kayak mental orang dijajah?


Segalanya harus keras, keras, keras karena nanti dipukul oleh tentara Belanda.


Hah.


"Teteh." Endra membuka pintu kamar Gista lagi, melihat dia tertunduk.


Gista yang mendengar suara Endra spontan mengepal tangannya di atas paha. Memikirkan ucapan Ashar tadi.


"Saya ...." Saya minta maaf udah nyusahin, adalah apa yang mau Gista katakan.


Tapi Endra menyadari itu cepat dan buru-buru membungkam Gista.


Jangan sampai dia mengucapkan kalimat yang mengisyaratkan jarak diantara mereka. Seakan-akan dia orang super asing jadi seharusnya tidak meminta apa-apa.


"Teteh inget waktu pertama Teteh bilang nyusahin?"


Endra meraih tangan Gista, tersenyum saat menggenggamnya. "Saya bilang sama Teteh kalau kita itu ada buat saling nyusahin. Emang begitu namanya makhluk sosial."


Cepat-cepat Endra 'manjakan' lagi, agar Gista tak tertekan.


"Teteh mau ke mana kalo enggak nyusahin orang, hm? Teteh ke dokter emangnya enggak nyusahin dokter?"


*

__ADS_1


__ADS_2