Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
56. Kenapa Segitunya?


__ADS_3

Gista terbangun oleh suara ketukan pintu kamar tidurnya. Baru saja Gista mau berkata masuk, karena mengira itu Endra, ternyata yang datang adalah Ashar.


Dia berjalan masuk agak terpincang karena kecelakaan kemarin. Sebenarnya, Endra sudah menyuruh dia buat beristirahat dan tidak terlalu sering memakai kakinya kecuali untuk sedikit stimulasi.


Gista yakin Endra juga pasti tidak menyuruh Ashar buat datang membawakan Gista segelas rimpang yang sudah diseduh air panas dan ditambahkan jeruk nipis.


Lalu kenapa Ashar yang datang?


"Juli bilang ini buat kamu, jadi aku bawain."


Gista menerimanya, tapi menatap Ashar bukan dengan sorot berterima kasih. "Kamu enggak perlu susah-susah ngambilin minum aku. Aku bisa ambil sendiri."


Sebenarnya, Endra selalu datang lebih dulu membawakan gelas minuman Gista, tapi kalau Endra tidak bisa, lebih baik Gista yang turun sendiri.


Yah, walau berarti ia harus menunggu jam sepuluh atau jam sebelas, sampai semua bau masakan bekas Juli hilang tersapu angin karena Gista tidak sanggup menghirupnya.


"Aku tau kamu udah mau mutusin hubungan kita." Ashar mendudukkan diri di sebelah Gista. "Tapi aku dateng jauh-jauh ke sini buat perbaikin itu."


"Aku udah enggak mau. Terserah kamu mau anggep aku selingkuh. Iya, aku selingkuh sama Endra."


"Oke, Gis, oke. Aku enggak maksa kamu. Anggep aja aku ngabisin waktu sampe aku bisa pulang—juga habis aku liburan."


"Liburan?"

__ADS_1


Ashar mengangkat bahu. "Aku punya waktu kosong sebulan, makanya aku nyusul kamu."


Rasanya itu bukan sesuatu yang Gista mau lihat—Ashar berada di sini sebulan lamanya. Tapi karena itu juga merupakan hak dia dan ini rumah Endra, Gista tidak bisa seenak jidat mengatur.


"Terserah kamu."


Gista beranjak, bermaksud buat ke kamar mandi untuk gosok gigi dengan garam halus dan lemon, baru ia keluar buat mencari Endra.


Tapi saat Gista keluar dari kamar mandi, Ashar berkata, "Gasendra masih tidur."


"Endra biasanya udah bangun jam segini."


Malah lebih pagi. Dia benar-benar rajin buat ukuran laki-laki, mengalahkan Gista malah.


Ashar ikut beranjak mengikuti Gista. Keluar dari kamar, pergi ke kamar Endra tidur.


Ternyata, Ashar tidak berbohong. Endra sungguhan sedang tidur, bahkan dalam posisi sangat tidak nyaman yaitu duduk dengan punggung melengkung dan kepala di atas buku terbuka.


Diam-diam, Ashar melihat ekspresi sedih Gista waktu melihat Endra.


Itu membuat Ashar jadi ingat semalam, ia keluar dari kamar barunya karena suara bising orang mondar-mandir. Ternyata itu Endra, sedang sibuk mencari-cari buku di rak atas sampai harus memanjat dengan tangga.


"Kamu ngapain malem-malem begini?"

__ADS_1


Saking fokusnya, Endra malah tidak terkejut, tapi menjawab sambil lalu, "Saya nyari referensi kelainan saraf."


Dia sibuk mencari tahu penyakit yang diderita Gista sekalipun penyakit itu tidak tertulis di buku yang biasa dia baca. Tapi Endra tetap mencari, karena semakkm banyak referensi yang dia punya maka akan semakin banyak pula kesimpulan yang bisa dia buat.


Ashar tahu dia sedang sibuk dan pastinya tidak mau diganggu.


Meski begitu, Ashar merasakan kejanggalan atas sesuatu. Karena itu Ashar harus mengganggunya sedikit.


"Kamu kenapa segitunya bantuin Gista?"


Itu yang mengganggu Ashar sejak awal.


Kenapa?


Tentu saja ada sesuatu yang disebut kemanusiaan dan lain sebagainya. Tapi, kenapa dia membantu Gista seperti dia sudah sangat mengenal Gista? Seperti dia sedang membantu kerabatnya jadi tidak boleh tanggung.


Gista di kamar ber-AC, sementara dia harus tidur dengan kipas angin. Gista di kamar luas, sementara dia berada di kamar yang agak lebih sempit.


Menolong memang menolong, tapi bukankah biasanya orang tidak segitunya mengorbankan diri untuk orang lain?


*


tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊

__ADS_1


__ADS_2