Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
42. Teteh Sayang


__ADS_3

Keberadaan omnya Endra di sana membuat Gista mati kutu. Apalagi waktu pria itu menatapnya, Gista jadi ingat kalau Endra dan anaknya om Endra ini, Yura, sudah dijodohkan.


"Bener Neng mau nikah sama Gasen? Yakin?" tanya pria paruh baya itu.


Gista tidak bisa menjawab itu, juga.


Sebenarnya bukan tidak yakin. Tapi sekarang Gista ingat kalau di rumah ada Ashar dan bibinya Gasen tidak menyukai Gista, juga Yura adalah tunangan tak resminya Endra di depan semua warga desa.


Bagaimana bisa Gista berkata 'iya'?


"Teh."


Gista tersentak. "Ya?"


"Teteh bilang kangen sama saya, kan?"


Malah diungkit! Masa Gista harus bilang iya?!


"E-emang kenapa?!" tanya Gista keras, karena terlalu malu.


Memang kebiasaan Endra itu mengungkit-ungkit hal memalukan! Dia bakal terus mengucapkannya buat meledek Gista. Itu kebiasaan buruk dia, serius!


"Padahal di rumah ada itu, tapi Teteh ke sini nyari saya. Berarti lebih pilih saya, kan?"


Gista tertegun. Seolah baru bisa berpikir sekarang, Gista langsung sadar.


Kenapa ia sampai harus berlari ke tempat ini padahal jelas-jelas Ashar ada di rumah? Bahkan kalau Endra itu baik, bukankah aneh ia malah sampai meninggalkan Ashar?


Tapi ....

__ADS_1


"Iya." Gista tidak merasa akan menyesali jawaban itu. "Iya." Maka ia mengulangnya.


Endra tersenyum. "Kalo pilih saya, berarti ada alasan nolak orang itu juga, kan? Ada alasan kenapa lebih milih saya, kan?"


"Iya."


"Kalo gitu Teteh enggak perlu ngerasa harus takut. Mau seberat apa pun orang berjuang buat Teteh, mau sebaik apa pun dia sama Teteh, mau sesayang apa pun dia sama Teteh ...."


Endra meraih tangannya, memegang erat tangan kurus Gista.


".... Yang mutusin sama siapa Teteh besok itu Teteh sendiri. Maunya Teteh."


".... Iya." Gista tiba-tiba tersenyum. Merasa bebannya sedikit ringan hanya karena ucapan itu. "Saya mau kamu."


"Yes, berakhir fix nikah." Endra menyengir lebar pada omnya.


Pak Hanung mengembuskan napas lelah. Sebenarnya pria itu juga berharap bahwa Endra dan Yura bisa bersama. Karena Endra bisa dibilang pemuda terbaik di desa ini.


Tapi kalau Endra mau yang lain, Pak Hanung tidak akan memaksa.


Endra benar. Yang akan menjalani adalah dia. Kalau dia tidak punya rasa pada istrinya, ya mana mungkin dia sejahtera?


Kalau dia maunya Gista dan Gista juga maunya Endra, masa harus dihentikan?


"Yasudahlah kalau kalian mau. Om setuju aja. Masalahnya, keluarganya Nak Gista setuju enggak?"


Tangan Gista memegang Endra seketika. Lagi-lagi dibuat sadar situasi sekarang tidak memungkinkannya buat berpikir apa-apa, apalagi sampai menikah.


Ia sedang tak mau bertemu keluarganya, demi Tuhan. Pulang atau apa pun, Gista belum mau.

__ADS_1


"Kenapa, Teh?"


Gista menunduk hingga Endra harus membungkuk agar bisa mendengar dia berbisik.


"Saya enggak mau ketemu Ayah."


Untuk alasan apa pun sekarang, Gista tak mau bertemu orang tuanya. Bukan karena Gista merasa mereka tidak akan mengerti atau ia akan semakin tersiksa.


Endra saja sudah cukup. Gista tak butuh lagi yang lain mengerti.


Namun, Gista tidak mau bertemu mereka dalam kondisi sakit ini. Ia takut jika Ayah sampai benar-benar marah padanya, lalu berkata hal-hal yang akan membuat Gista semakin takut pada Ayah.


"Teteh sayang."


Gista menegang. Matanya membulat pada panggilan Endra itu.


"Nanti Teteh cerita sama saya soal keluarga Teteh, oke?"


Seolah terhipnotis, Gista mengangguk.


Tangan Endra langsung menepuk-nepuk kepalanya. "Teteh tetep harus healing dulu, yah. Sekarang mah cuma pembukaan doang. Bukan berarti bulan depan kita langsung nikah."


Gista malah mencengkram lebih erat tangan Endra, spontan saja. Jauh di hatinya, Gista malah berharap secepatnya. Secepatnya ia mau memiliki Endra.


Tapi ia tak mau pulang bertemu Ayah.


Bagaimana ini?


*

__ADS_1


__ADS_2