Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
35. Mulai Terbuka


__ADS_3

Endra menuntun Gista untuk duduk di kursi kosong dekat pintu masuk. Ada beberapa orang di sana termasuk A Zaka dan Juli, jadi Gista tidak terlalu merasa sungkan bergabung.


Gista diperkenalkan oleh mereka-mereka yang seumuran dengannya dan di sekitar umurnya. Dan Gista luar biasa senang karena untuk pertama kali setelah sakit ini, ia bisa bergaul normal kembali.


Walau lagi-lagi diledek.


"Cieee, yang main dokter-dokteran udah sampe kondangan bareng. Cieeee. Nanti sampe duduk di pelaminan bareng kan, yah?"


Gista menyikut Juli. Perempuan itu malah tertawa meledek. Menikmati godaannya terutama pada ekspresi Gista.


Dia pasti tahu Gista berdebar-debar karena Endra. Dia juga pasti tahu kalau Gista mulai memandang Endra dengan cara berbeda.


Bukan lagi sekadar dokter baik hati merawat pasien yang sakit langka. Dia pasti bisa melihat bahwa ada perasaan tumbuh kuat dalam diri Gista pada Endra, yang berusaha ia sembunyikan walau gagal.


Perempuan kan paling paham perempuan. Makanya dia menikmati tawanya itu.


"Neng, hamil beneran yah anaknya Gasen?"


Endra menginjak kaki temannya yang bernama Anto itu. Orangnya malah ketawa sambil meringis, berkata kalau dia cuma bercanda, sekaligus minta konfirmasi berita.


"Emangnya sakit apa sih Neng sampe katanya sering muntah-muntah? Pengen manis-manis enggak? Atau yang kecut? Atau pengen liat Gasen gelindingan di gunung?"

__ADS_1


Tetap saja dikira hamil, ya Tuhan.


Tapi susah gitu membantahnya, karena memang gejala Gista lebih mirip orang hamil kalau dilihat cuma dari kejauhan. Cuma Juli dan A Zaka sepertinya yang paham kalau Gista tidak sedang hamil, sebab mereka melihat Gista sama sekali tidak bisa makan apa pun, APA PUN, kecuali jeruk kecut.


Kalau Gista benar-benar sedang hamil, ia sedang membunuh anaknya sendiri dengan membuat janin itu kelaparan.


"Penyakit saraf." Endra yang menjawab, bicara baik-baik. "Ada salah persepsi makanya makanan yang enak jadi enggak enak, makanan yang harum jadi bau."


"Lah, penyakit saraf bukannya struk? Nengnya struk?"


"Kalo struk gimana bisa jalan-jalan! Geblek mah kamu." Juli mendengkus.


"Jadi karena sakit sarap jadinya muntah-muntah?"


"Tapi saya kepo juga loh, Neng." A Zaka menoleh pada Gista. "Belum paham ini otak saya sebenernya sakit apa. Sakit apa, sih? Spepisiknya tuh kayak apa?"


"Spesifik!"


"Iya, itulah pokoknya."


Gista mengangkat alis, lalu meringis pada Endra. Tapi pria itu mengodenya untuk bicara langsung saja sesuai dengan apa yang ia alami dan ketahui.

__ADS_1


Mungkin karena kondisi mental Gista sudah lebih baik, mulutnya kembali mau menjelaskan tanpa rasa terpaksa.


"Jadi ... tiba-tiba saya enggak bisa makan."


"Loh, enggak bisa makan juga?"


A Zaka yang mengangguk mengonfirmasi. "Di rumah yah Eneng-nya makan belimbing ulek doang sama cabe. Sama jeruk juga. Tadi dititipin semangka enggak bisa dimakan."


"Kok bisa gitu, Neng? Udah ke dokter?"


"Iya. Saya udah datengin tiga dokter saraf," jawab Gista pelan. Agak sedikit mendung mengingat pengalamannya ke dokter kemarin.


"Buset. Sampe tiga dokter? Apa tuh kata dokternya?"


"Enggak jelas." Gista tersenyum miris. "Sama aja kayak Endra. Diagnosis ada kesalahan persepsi makanya makanan jadi enggak enak, bau jadi busuk. Nasi rasanya kayak daging mentah. Sampo sama sabun juga baunya kayak sampah."


Mereka memandang tak paham sekaligus kasihan. Jelas tidak bisa membayangkan sama sekali. Karena itu jauh berbeda dari rasanya tidak bisa makan saat sakit demam.


"Saya sampe udah lupa sama bau harum atau makanan enak. Rasa kopi, rasa teh, rasa gula, rasa apa pun di saya semuanya sama, kayak satu rasa. Rasa daging mentah, digiling sama sampah, sama kotoran kali, yang nyentuh lidah aja udah enggak bisa."


Gista selalu paling sedih pada bagian tidak ada orang yang paham. Insting Gista mau orang paham, setidaknya satu saja, rasa dari makanan yang Gista makan biar mereka tahu bahwa Gista tidak melebih-lebihkan.

__ADS_1


Tapi, ya tidak ada yang paham. Tidak ada yang dapat membayangkan apalagi mengerti benar bagaimana rasanya.


**


__ADS_2