Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
40. Jangan Jauh-Jauh


__ADS_3

"Tante." Endra menyahut tajam.


Suasana hati Endra sedang buruk sekarang. Capek batin karena memikirkan Gista sepanjang waktu dan nyesek karena dia punya pacar dari kota padahal Endra sudah kelewat baper.


Sekarang benar-benar bukan waktunya Endra mau meladeni ocehan tantenya. Bahkan jika itu untuk kebaikan Endra sendiri.


"Dianya orang kota, jadi bajunya emang kebiasaan begitu," jelas Endra berusaha sesingkat mungkin dan berharap tantenya berhenti di sana.


Tentu saja, tidak berhenti. "Ya terus? Ada perubahan dia pamer? Kemarin juga Tante liat di rumah kamu, dia jalan-jalan di teras udelnya keliatan. Yang enggak tau sopan santun begitu kamu suka?"


Endra berusaha keras tidak membalas daripada panjang.


"Kamu itu udah umurnya nikah. Kerja yang bener, siapin modal nikah, pikirin istri yang bisa ngurus kamu ngurus anak. Bukan perempuan kota yang bajunya aja masih harus dikomentarin."


Endra duduk, menoleh muak.


Tante Inah berhasil memancingnya. Dan mungkin Tante lupa, jika Endra sudah kesal, biasanya sopan santunnya dibuang ke belakang.


"Tante tuh kenapa sih meni egois banget?"


"Apa?!"


"Aku juga punya hak nentuin pilihan aku, Tan, terutama soal urusan istri. Yang mau hidup sama istri aku itu aku. AKU bukan Tante. Sama siapa pun aku nikah, termasuk sama Yura, istri aku enggak bakal setiap hari ketemu Tante tapi setiap hari ketemu AKU. Jadi yang milih AKU bukan TANTE. Please."

__ADS_1


Wajah bibinya langsung memerah murka.


"Kamu berani ngomong begitu sama Tante?! Gara-gara perempuan kota kamu ngelawan Tante?! Kamu kira dia bakalan mau kamu ajak tinggal di sini?!"


"Aku—"


"Atau apa? Kamu udah janji sama dia mau ke kota tinggal berdua?! Hah?! Tinggalin aja! Tinggalin semuanya! Lupain tuh rumah yang Mama kamu tinggalin, yang Nisa tinggalin buat kamu! Buang aja semuanya! Begitu terus kan kamu! Tante kasih tau kamu kemarin jangan ke kota ninggalin Nisa, liat kan hasilnya apa?!"


"Kenapa jadi bawa-bawa Mama sama Nisa?" Kemurkaan Endra kini membara. Apalagi ketika Tante Inah membawa-bawa nama Nisa. "Lagian aku enggak pernah bilang aku sama Gista mau begini begitu! Aku cuma bilang urusan milih itu hak aku, bukan Tante."


Perdebatan dua orang itu terdengar oleh Yura dan ayahnya, Pak Hanung.


"Ada apa sih ini? Pagi-pagi malah ribut."


"Hah? Kenapa jadi aku?"


Endra bukan melawan, namun membela diri karena memang tidak merasa salah. Kalau Tantenya benar bicara baik-baik, bahkan kalau dikritik, mana mungkin Endra melawan.


Ia tahu diri kalau Tante-nya banyak repot mengurus Endra dan tulus menyayangi Endra. Tapi masalahnya cara bicara Tante Inah memang bukan lagi soal nasehat, melainkan paksaan.


Dia berkata menasehati, tapi menekankan bahwa pendapat Endra itu salah dan pendapat dia yang benar jadi ikuti saja dia, lupakan soal pendapat Endra sendiri.


"Tante seenaknya mutusin aku mesti begini mesti begitu. Peduli sama aku bukan berarti ngatur."

__ADS_1


"Gasen, udah." Pak Hanung memberi isyarat Endra diam. "Yura, bawa Ibu masuk."


Waktu saudara ibunya dibawa masuk oleh Yura, Endra berpaling dan merasa agak bersalah.


Bukan ia mau bersikap kurang ajar. Tapi siapa sih yang suka diatur terlalu berlebihan? Apalagi soal kehidupan yang akan dijalani sendiri-sendiri.


"Gasen."


Bersamaan dengan Pak Hanung mau mengajaknya bicara, Endra melihat Gista berlari susah payah.


Pemandangan Gista tersengal-sengal langsung menyentak Endra.


Spontan Endra beranjak. Kakinya yang masih lemas ia paksakan pergi daripada Gista pingsan.


"Teh—"


Di depan rumah bibinya yang menolak keras Gista, di depan rumah sepupunya yang dijodoh-jodohkan dengan Endra, di depan mata Pak Hanung yang akan menasehati Endra, laki-laki itu malah terpaku.


Diam mematung, terkurung dalam pelukan erat Gista.


"Saya kangen kamu." Gista bergumam. "Jangan jauh-jauh."


*

__ADS_1


__ADS_2