Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
67. Ayo Pulang


__ADS_3

Gista mengepal tangannya di tembok, menunduk saat air matanya jatuh membasahi lantai.


Ia dengar pembicaraan di bawah sana. Ia dengar karena suara Endra agak keras dan tembok rumah membuatnya bergema di mana-mana.


Satu badan Gista malah sakit mendengar perkataan Endra.


Apa ini? Jangan katakan bahwa sebenarnya Gista sedang bermimpi? Apakah nyata orang seperti dia, lantang membela seseorang yang sebenarnya asing dan dia mengatakan seolah dia benar-benar mengerti isi hati Gista?


Ini sangat menyakitkan.


Ini sangat menyesakkan.


Gista nyaris tak tahan.


Ia rasanya mau mati.


Tidak ada yang paham.


Tidak ada yang benar-benar bisa mengerti.


Sebenarnya di mana Gista harus pergi agar seseorang bisa memahaminya?


Itu semua adalah hal yang berputar di kepala Gista selama ini dan Endra menyebutkannya.


Seolah dia berkata dia mengerti.


Memangnya orang seperti dia itu nyata? Orang itu bukan khayalan Gista saja?

__ADS_1


"Aku enggak bisa ngomong apa-apa." Ashar yang tiba-tiba bersandar di dekatnya, bergumam pada Gista. "Secara teknis dia saingan aku tapi aku akuin dia lebih baik."


Gista memejamkan matanya berharap tangisan itu berhenti. Namun saat terpejam itu pun air mata Gista mengalir.


"Dia baik banget," bisik Gista lirih. "Dia baik banget sampe aku takut aku enggak pantes buat dia."


"...."


"Aku sampe mikir aku ketemu dia buat sadar dia jodoh aku ... atau justru buat sadar diri kalo aku terlalu jelek buat orang kayak dia."


Ashar merenung, memandangi langit-langit kediaman ini.


Jauh Ashar datang ke sini untuk mengejar Gista. Sejujurnya, di awal Ashar juga merasa bahwa Gista hanya sedang cari perhatian.


Karena kalau dipikir pakai logika, masa satu saja dokter tidak tahu dia sakit apa?


Tapi orang itu berbeda. Dia melihatnya dari sisi yang benar-benar berbeda. Itu juga sebuah logika, tapi itu bukan logika yang dipakai oleh Ashar atau orang lain.


Dia baik dengan cara yang menakutkan.


"Pantes enggak sih kalo aku mau sama dia?" Gista menoleh dengan wajah bersimbah air mata. "Pantes enggak sih aku di sini?"


Sepertinya Gista lupa kalau Ashar adalah mantan kekasihnya yang berharap bahwa hubungan mereka kembali.


Tapi setelah mendengar Endra, Ashar bahkan tidak sanggup jika harus mengatakan sesuatu yang mengompori Gista agar meninggalkan Endra.


Rasanya Ashar bahkan tak tega berbuat jahat pada Endra.

__ADS_1


"Gimana kalau kita ke rumah sakit?" ucapnya, walau itu bukan jawaban bagi pertanyaan Gista barusan. "Kita ke dokter lagi buat mastiin. Kamu kan juga belum rontgen."


Gista menekan keningnya ke tembok saat mendengar kata dokter dan rumah sakit.


Sungguh Gista sudah takut. Ia benar-benar sudah bersumpah pada dirinya kalau itu terakhir kali ia mau melihat wajah dokter, dokter apa pun itu.


Tapi sekarang Gista memikirkannya, itu menjadi sangat egois. Apa Gista harus terus menyusahkan Endra padahal dia pun tidak benar-benar mengetahuinya?


Paling tidak, rumah sakit memiliki alat yang lebih memadai untuk Gista diperiksa.


"Kamu enggak mau?"


Gista menggeleng.


"Mau," jawabnya, nyaris tak terdengar. "Ayo ke dokter."


Kalau ke dokter membuat Gista bisa berhenti menyusahkan Endra, maka ia akan ke dokter apa pun itu.


Sekarang, Gista sudah baik-baik saja. Ia tidak akan bunuh diri seperti yang Endra takutkan.


Mungkin Gista akan melakukannya kemarin, jika ia putus asa dan semua orang malah memaksanya ke dokter. Tapi sekarang Gista mengerti bahwa Endra memahaminya. Endra mau memahami luka di hati Gista.


Itu cukup.


Gista cuma mau seseorang mengerti. Tidak perlu semua orang asal Endra memahaminya.


"Kamu udah enggak pa-pa, kan?" Gista menoleh pada Ashar sekali lagi. "Ayo pulang. Besok."

__ADS_1


*


Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊


__ADS_2