Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
83. Memaksakan


__ADS_3

Malam hari setelah dari kebun, Gista jatuh sakit di kamarnya. Tidak sakit parah, namun kepalanya berdenyut-denyut karena dipaksa terus bergerak padahal tidak punya energi.


Endra jadi menyesal sudah membawa Gista pergi, sebab Gista sebenarnya tidak boleh lagi beraktivitas terlalu berat.


Setelah beberapa waktu mereka tidak terlalu fokus pada pemeriksaan, sekali lagi Endra memeriksa Gista secara intens.


Kali ini, Endra memeriksa berat badannya.


"Teteh turun berapa kilo dari awal sakit?" tanya Endra, memastikan.


Gista merasa pusing saat harus berdiri, menimbang badannya di atas timbangan Juli.


Lemah, Gista menjawab, "Tujuh kayaknya. Aku lupa beratku berapa kemarin."


Ini sudah nyaris dua bulan, jadi Gista mulai lupa berapa. Entah kenapa Gista lupa, padahal biasanya ingat berat badan itu sudah seperti bakat perempuan.


Endra mengerutkan kening serius. Datang mendekati Gista, melingkarkan tali pengukur badan pada pinggang, lengan, juga paha Gista untuk memastikan masing-masing ukuran pastinya.


Ini agak berbahaya karena berat badan Gista setiap hari turun. Gula dari jeruk yang dia makan itu hanya seperti energi sekali pakai dalam badan Gista, sementara kebanyakan dia lebih sering merasa lapar.


Lapar itu bagus, sebab itu adalah kunci dari regenerasi sel-sel tubuh. Tapi dalam kasus Gista, yang tidak lagi memiliki cadangan lemak cukup untuk tubuhnya, kondisi ini berbahaya.

__ADS_1


Beberapa kekurangan di tubuhnya bisa tertutupi dengan ramuan herbal yang Endra berikan tiap pagi dan malam, tapi kalau dilanjutkan terus seperti ini, Gista bisa dilarikan ke rumah sakit.


Dia harus mulai mengonsumsi karbohidrat.


Tapi masalahnya, semua jenis karbohidrat justru yang paling tidak bisa Gista makan.


"Teh, nuhuuuuuun banget ini, Teh. Punteeeen banget." Endra tidak punya pilihan lain. "Dipaksain dulu yah, Teh, yah? Punteeeeeen banget ini."


Ekspresi Gista langsung pucat. Seperti dia sedang disuruh loncat dari jembatan dan tidak akan terjadi apa pun padanya kecuali kematian.


Namun Endra sudah bilang, tidak ada pilihan.


Bukan berarti dalam penyembuhan, memaksa itu tidak boleh. Endra membenarkan paksaan. Tapi paksaan yang sopan dan tidak membuat sangat tertekan.


"Coba, yah? Teteh, yah? Mau, yah?"


Gista terdiam gemetar. Bahkan mata Juli, A Zaka dan Ashar yang berkumpul menyaksikan itu bisa melihat kalau Gista seperti ketakutan.


Tangan Endra langsung bergerak menggenggam tangan Gista. Meyakinkannya bahwa meski itu sulit, setidaknya ia tidak akan memarahi Gista.


Muntah pun tidak apa.

__ADS_1


Asal dia mau coba.


"Y-yaudah." Gista menjawab sangat amat ragu. "S-saya coba."


Endra tersenyum sebagai apresiasi. Langsung beranjak pergi ke dapur, mengambilkan makanan yang bisa Gista konsumsi.


Waktu Endra pergi itu, Gista menoleh pada Ashar. Pria itu banyak diam belakangan, terlihat hanya mengamati.


"You okay?" tanya Ashar begitu pandangan mereka bertemu.


Gista menggelengkan kepala, jelas tidak baik-baik saja.


"Coba aja dulu, Gis." Juli memberi semangat. "Siapa tau udah bisa ditahan."


Ya, siapa tahu memang begitu.


Gista juga tak mau ini terus berlanjut dan merepotkan semua orang. Jadi Gista harus mencoba sekalipun itu menakutkan.


Tak lama Endra datang, dengan sejumlah makanan yang dia sebar di atas piring.


Ada ubi, nasi, jagung, alpukat, kurma yang kemudian dia beri tambahan mangkuk mini berisi kecap dan satu lagi garam.

__ADS_1


Nampaknya Endra siap bereksperimen lagi.


*


__ADS_2