
Saya takut baper, adalah apa yang mau Gista katakan agar dia mengerti bahwa itu bukan cuma tentang sakit. Itu bukan cuma tentang Gista takut merepotkan dia atau membuat dia merasa kesulitan.
Kalau sampai Gista kecanduan, Gista sendiri yang bakal kesusahan.
Gista takut.
Takut bergantung, takut jika nanti ia suka lalu di saat semua sudah berakhir dan dia benar-benar lelah, Gista tidak lagi mau berpisah sementara dia memiliki hal tentang hidupnya yang tidak ada Gista di sana.
Tapi ....
"Makasih."
Manusia ... itu egois, yah?
Padahal takut tapi bukannya dilepas malah tetap digenggam. Padahal takut jika ia akan jatuh hati, tapi Gista malah berpura-pura tidak tahu, tetap menerima kebaikan candu itu.
*
Endra menjatuhkan diri ke lantai kamarnya di malam hari lepas memastikan Gista minum semua obat dan vitaminnya. Juga, Endra masih diam-diam memberi dia obat tidur.
Tidak baik bergantung pada obat tidur, namun Endra khawatir dia menghabiskan malam dengan menangisi penyakitnya.
Tanda-tanda keikhlasan di wajah Gista belum ada. Raut wajahnya masih menunjukkan dia lelah dan muak pada kondisinya.
Endra tidak bisa meninggalkan dia sendirian dalam kondisi itu. Tidak jika ia terus merasa sesuatu akan menghantuinya jika meninggalkan dia.
"Nisa enggak mau sendirian, A."
__ADS_1
Kenangan itu menyusup lagi, memaksa Endra untuk membayangkan sosok gadis kecilnya lagi.
Itu adalah kenangan ketika Endra mau meninggalkan desa, pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan, tapi adiknya tidak mau ditinggal.
Nisa tidak mau sebab kedua orang tua mereka memang sudah tidak ada. Dia dan Endra hanya tinggal berdua.
"Kan udah dibilang Aa mau sekolah, Nis. Kamu kalau takut malemnya nginep sama Yura, nanti siang ke sini lagi jagain rumah," ucap Endra waktu itu, capek pada tingkah adiknya.
Waktu itu, Endra belum sedewasa sekarang yang bisa peduli pada perasaan orang. Endra cuma memikirkan hidupnya sendiri.
"Tetep aja lama, A. Nisa enggak mau," rengek adik Endra penuh permohonan.
"Nis, ngerti dong, Dek. Aa mesti kuliah. Kamu juga sibuk, sekolah yang bener, biar nanti kuliah Aa ajak ke Jakarta."
Dulu Endra menganggap adiknya menyebalkan saat dia menangis. Bagi Endra, dia tidak mengerti sama sekali bahwa seseorang tidak bisa selamanya ada.
Tapi sekarang Endra tersenyum kecut. Berpikir bahwa, kalau saja dulu tidak ia tinggalkan tangisan gadis kecilnya, mungkin dia masih ada di sini.
Bukan pergi dan meninggalkan rasa bersalah menggunung pada Endra.
Sekarang yang ia lakukan cuma berkeliling di sekitar rumah ini, menyaksikan setiap sudut yang diam-diam menyimpan kenangan Nisa, sambil berpura-pura seakan ia sudah sembuh.
Karena itulah Endra tidak bisa meninggalkan Gista.
Jangan sakit mental. Itu luar biasa menyiksa.
Lebih baik dia bahagia, entah dengan cara apa pun dia bisa bahagia.
__ADS_1
"Oi, Bujang." Dari pintu, Zaka menegur Endra dari posisinya tidur di lantai.
Maklum dia, karena Endra sebenarnya paling tidak tahan panas. Makanya Endra berbaring di lantai buat mendinginkan diri.
"Kamu enggak makan dulu? Itu Juli udah bikinin makan."
"Enggak laper."
Zaka melipat tangan. "Kenapa? Kepikiran sama Enengnya?"
"Enggak usah salah paham."
"Salah paham apa? Aku kan cuma bilang kepikiran."
Endra mendengkus. Tapi tidak membantah juga.
"Terus itu gimana? Kamu enggak bawa ke dokter buat periksa lebih jelas?"
"Orangnya enggak mau, Kang. Udah hopeless sama dokter. Menurutku dia perlu healing dulu. Jadi yah, biarin aja dulu tenang-tenang."
"Yura gimana?"
Endra cuma bergumam samar, tidak menjawab karena tidak tahu.
Lagipula A Zaka seharusnya juga tahu kalau Endra memang tidak suka pada Yura.
*
__ADS_1
*