
"Teteh belum nikah udah KDRT," keluh Endra sambil menatap bekas gigitan Gista di lengan atasnya. "Sakit atuh, Teteh."
"BODO AMAT."
Endra pura-pura cemberut. Lalu meringis menahan perih di tangannya yang tidak diobati apa-apa.
Bekas gigitan Gista bukan main dalamnya. Kayaknya cuma tinggal sedikit sebelum darah Endra keluar. Itu sakit luar biasa, sumpah. Endra tidak bercanda sekarang.
Tapi, anehnya Endra tidak marah juga.
Sakit sih sakit, cuma yasudah malau Gista yang lakukan.
Meskipun Endra masih meringis. "Ssshhh, pedih, Teh." Mata Endra malah sampai merah, kelihatan mau menangis menahan sakit.
Gista tidak mau tahu. Malah berbalik membelakangi Endra karena sudah sebal parah.
Sayangnya, ringisan Endra itu terus berlanjut menyuarakan rasa sakitnya. Dan pelan-pelan Gista jadi berpikir ulang.
Apa barusan ia keterlaluan, yah?
Ya Endra salah sih, tapi sebenarnya Gista juga tahu dia bercanda. Dia cuma sengaja menggoda Gista. Dan sebenarnya Gista agak suka digoda walaupun bikin malu.
Tapi Gista malah menggigit dia terlalu kuat.
"Huuufh." Suara Endra menahan sakit akhirnya membuat Gista menangis lagi.
Pelan-pelan ia berbalik, tanpa suara mendekati Endra. Gista duduk di sampingnya, mencengkram kaus yang dipakai Endra sambil menunduk, karena rasa bersalah.
Endra yang sebenarnya dari tadi sengaja meringis biar Gista menyesal diam-diam menyeringai.
__ADS_1
Apalagi waktu melihat ekspresi menyesal Gista yang sangat amat kental. Bagaimana dia mencengkram baju Endra tanpa suara terlihat luar biasa imut.
Endra mau menggigitnya juga saking gemesnya.
"Teteh." Endra pura-pura tidak paham. "Teteh kenapa? Saya salah lagi, yah?"
Ditanya begitu pasti bikin Gista makin menyesal. Kentara dari mukanya dan tangisannya yang semakin jelas.
"Abis kamu," isak dia akhirnya. "Kamu ngejek terus, hiks."
Dasar perempuan. Sudah salah, mengaku salahnya pun pakai menyalahkan orang.
Tapi yah itulah perempuan. Bagi Endra dia malah terlihat menggemaskan.
Kini Endra makin meringis, makin memperbesar ekspresi kesaktiannya.
"Ssshhh, sakit banget, Teh." Terus, biar kesannya itu luaaaaaaar biasa sakit, Endra pura-pura tidak bisa menggerakkan tangannya. "Akh, sakit banget. Tangan saya rasanya mau copot."
Lucunya, Gista percaya. Dia menjadi panik. Bahkan saking paniknya, Gista berlari keluar memanggil-manggil A Zaka.
A Zaka langsung masuk melihat Endra guling-guling di kasur. Daripada terlihat kesakitan, sebenarnya di mata A Zaka lebih terlihat Endra minta ditimpuk.
Yang menyebalkan, Endra mengirim kode.
Kedip, kedip, kedip.
Biar A Zaka bekerja sama mengerjai Gista.
Kalau bukan menganggap dia adek, sudah A Zaka sleding. Tapi ingat juga kalau ia tinggal di rumah Endra gratis.
__ADS_1
Jadi mau tak mau ya dibantu.
"Wah, parah ini, Neng." A Zaka pura-pura memegang lengan Endra sambil diam-diam mencengkramnya biar tambah sakit.
Nih, rasain!
Tapi sambil melakukannya juga, dia menipu Gista.
"Mau copot ini dagingnya. Kuat juga Neng gigitnya. Kalo yang itunya digigit udah meninggal ini mah."
"A Zaka!" Gista berteriak kesal sekaligus panik. "Serius itu gimana? Atau ke rumah sakit? Puskesmas?"
"Aih Neng pikun juga ternyata. Gasen jadi dokter kampung kan karena puskesmas jauh, Neng, apalagi rumah sakit. Yang ada mah cuma bidan. Mau dibawa ke bidan? Entar kalo ditanya ini kenapa, Eneng jawab apa? Anaknya udah mau lahir?"
Gista pucat pasi menyadari dia benar.
"T-terus gimana?"
Tenggelamin aja di sungai. A Zaka mau jawab begitu, tapi lagi-lagi dikode sama Endra.
Hah, anak merepotkan ini. Urusan jodoh dia kenapa harus A Zaka yang repot?!
"Kompres aja dulu, Neng. Terus kasih tidur, siapa tau nanti bangun lagi udah enggak sakit."
Setelah itu A Zaka pergi, sambil menahan diri tidak menemui dukun buat menyantet Endra.
Dasar tukang caper.
*
__ADS_1
tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊