
"Enggak habis pikir Tante sama kamu. Emang kalau orang lain liat dia mual-mual terus mereka paham dia sakit?"
Endra masih harus menanggapi kemarahan saudara ibunya ketika ia meninggalkan Gista di luar.
Bikin capek sih tapi mau bagaimana lagi. Bibinya bukan orang dengan keluasan ilmu dan pengetahuan untuk memahami makna 'sakit'.
"Aku udah bilang, Tante, dia itu pasien. Enggak ada urusan sama persepsi orang."
Kenapa jadi harus disangkut-pautkan dengan kata orang? Kata orang Gista hamil? Orang yang sehari cuma makan roti dan jeruk kecut satu dua butir begitu, kalau sungguhan hamil, berarti dia sedang membunuh janinnya sendiri.
Tapi tantenya Endra tidak mengerti. Tetap membalas agresif. "Kamu bukan dokter, yah, Gasen. Nolongin orang sama ngerepotin diri sendiri itu beda!"
"Dan aku udah bilang sama Tante kalau aku enggak pernah minta jadi dokter. Aku punya ilmu, aku terapin di hidup aku. Cuma itu."
Endra berusaha keras tidak membalas kasar karena lelah. Ia menarik napas, melunakkan sikapnya yang mungkin terlalu agresif juga.
Salahnya juga tidak menjelaskan.
"Dia itu sakit, Tante. Sakit. Sakit yang—"
"Kamu suruh dia ke dokter kalo sakit, bukan bebanin kamu!"
"Dia bayar kos di rumah aku, Tante. Please, dong. Tante nih mau aku ngapain, sih?"
"Nanti orang-orang ngiranya kamu sama dia cemceman!"
__ADS_1
"Kalo gitu satu kampung cewek cemcemanku semua. Yang pernah aku bantuin cewekku semua, gitu? Kan enggak. Udah dong, Tante. Dia enggak minta makan gratis. Enggak."
Sepertinya mau dijelaskan bagaimanapun, tantenya tetap merasa kesal.
Endra hanya pura-pura tidak paham, meninggalkan rumah setelah ia mengambil sejumlah catatan yang dibutuhkan.
Tak sengaja waktu ia keluar, anak tantenya, Yura baru saja pulang. Dia melihat Endra, lalu pada Gista yang sedang melengkungkan tubuh di sana.
"Cepet pulang, Dek?" tanya Endra basa-basi.
Yura tersenyum samar. "Iya, A. Keram perut jadi disuruh pulang aja sama guru."
"Dateng bulan, yah? Langsung istirahat. Kompres air panas biar enakan."
"Iya, A."
Sepupunya, Yura, punya penyakit rahim terbalik.
Atau mungkin tidak bisa disebut penyakit. Itu suatu kondisi langka di mana posisi rahimnya tidak normal hingga setiap kali menstruasi, dia akan kesakitan luar biasa.
Tidak ada obat untuk hal itu kecuali operasi atau hamil.
"Teh." Endra menepuk bahu Gista agar mendongak. "Ayok. Kita ke kantor saya aja. Di sana ada sofa."
*
__ADS_1
Kantor maksud Endra ternyata adalah rumah-rumah kecil tempat dia bisa langsung memantau kebunnya.
Dia sempat bercerita kalau kebun luas itu adalah warisan orang tuanya. Lalu karena dulu dia sempat kuliah di kota, bagian itu dikelola oleh pamannya.
Pamannya baik, kalau Gista lihat. Beliau tadi datang menyapa, lalu minta maaf karena istrinya sempat berpikir Gista hamil anak Endra.
Dia bahkan mendengar cerita Gista dengan prihatin, tampak sangat kasihan padanya waktu tahu ia sudah tidak makan kecuali sedikit demi sedikit roti juga buah kecut selama dua puluh hari terakhir.
Malah suami dari saudari ibunya yang lebih mirip Endra.
Mereka mengobrol beberapa saat, lalu pria itu pamit karena harus bekerja.
Setelah ditinggal berdua, Gista diam sejenak. Menyadari kalau sinyal ponselnya lemah.
"Sinyalnya enggak bagus yah di sini?"
Endra mengalihkan mata dari dokumen yang dia lihat. "Tergantung kartunya sih, Teh. Nanti saya cariin kartu kalau butuh."
"Enggak. Enggak usah." Mungkin sebaiknya ia memang menjauh dari orang lain dulu. "Saya perlu bantu apa?"
"Istirahat dulu lah, Teh. Enggak usah buru-buru. Kerjaan saya mah gampang. Bacain ini doang, nih."
Orang tuanya Gista juga pedagang, jadi ia paham kertas-kertas itu sudah cukup membikin pusing. Nampaknya kertas, isinya bisa saja hutang, rugi, dan sebagainya.
Lantaran dia tak mau dibantu, Gista pun diam.
__ADS_1
Hanya termenung sampai tiba-tiba pintu terbuka. Gista terkejut menemukan seorang gadis masuk dengan canggung.
*