
Gista lupa mematikan data ponselnya sampai di rumah. Biasanya ponsel itu tenang karena yang menghubungi lewat panggilan biasa cuma Ibu.
Setelah ia kembali ke kamar dan duduk di kasur, didapati ternyata memang ada chat dari kekasih—maksudnya mantan kekasihnya.
Ashar.
Gista membaca serentetan chat yang nampaknya baru dikirim kemarin itu.
Gis.
Aku ke kosan tp kamu gak ada.
Kamu ke Bandung?
Lalu chat yang dia kirim tadi.
Aku telfon Ibu katanya kamu ke rumah temen.
Kamu di mana?
Aku khawatir.
Gis?
Hey, talk to me.
Kamu di mana?
Gista.
Mulut Gista terasa kering membaca itu, padahal ia cuma membacanya dalam hati.
Jujur, ia pikir Ashar tidak peduli padanya dan cuma peduli pada pekerjaan dia.
Atau yah, setelah Gista berpikir lebih waras, mungkin waktu itu Ashar capek. Dia fokus kerja, Gista malah mendesak dia perhatian dan sebagainya.
__ADS_1
Padahal bukan Ashar super cuek juga. Cuma memang dia 'sedang' sibuk, dan Gista tidak baca situasi. Semua orang pasti punya saat-saat di mana mereka sangat tidak mau diusik, sebab pikirannya tertuju pada hal lain.
Cuma ....
^^^Kenapa nyari aku? ^^^
Gista membalas.
Tapi yang masuk setelahnya bukan balasan chat, melainkan panggilan. Seketika itu juga, seolah Ashar sudah menunggunya membalas agar dia bisa segera menghubungi Gista.
Gista menekan bibirnya satu sama lain sebelum ia menjawab, duduk memeluk dirinya sendiri sebagai tindakan defensif.
Mungkin Gista baperan jadi biarpun tidak dilukai, ia gampang terluka gara-gara penyakit aneh ini.
Hubungan mereka memang berakhir dengan tidak baik, jadi bukannya tidak ada lagi yang harus dibicarakan. Dan pembicaraannya pasti akan emosional.
"Gis, kamu di mana?" Ashar bertanya demikian.
"Kamu kenapa nyari aku?" Tuh, kan. Gista langsung mau menangis padahal baru kalimat pertama.
".... Aku minta maaf."
"Gis, kamu marah?"
"Enggak." Gista semudah itu menangis.
Ia sedih. Sedih karena sebenarnya kemarin ia berharap Ashar mengerti bahwa ia tersiksa. Gista berharap Ashar setidaknya mengatakan 'aku enggak tau gimana perasaan kamu tapi aku di sini buat kamu' atau sejenisnya.
Tentu Gista juga tidak bisa menyalahkan kalau Ashar sibuk. Dia orang baik, sungguh. Dia bukan orang cuek atau terlalu sibuk sampai berminggu-minggu tidak mencari Gista.
Dia bekerja sungguh-sungguh, dan setiap kali bertemu, dia akan memperlihatkan hasil kerja itu dengan membeli banyak hal untuk Gista.
Laki-laki yang royal memberi, tidak perhitungan dan jarang marah.
Sekali lagi, memang waktu itu saja dia sibuk dan kebetulan Gista sakit hingga malah jadi pertengkaran. Lalu, semuanya berakhir.
__ADS_1
Semudah itu.
"Kamu di mana? Aku susulin kamu sekarang."
"Enggak usah. Aku baik di sini."
"Gis, jangan gitu, Sayang. Please." Ashar menghela napas. "Aku khawatir sama kamu."
"Kita udah putus."
"Kamu serius?"
"Kenapa bohong?"
"Tiga taun lama loh, Gis. Enggak sebentar."
Gista juga tahu. Tapi memang dirinya bisa apa kalau sudah terlanjur kecewa?
Bahkan kalau Ashar tidak berbuat salah, dia pergi di titik terburuk Gista hingga rasanya membekas.
Dia, juga Ayah. Dua orang yang peduli padanya dengan cara yang Gista tidak bisa terima.
Mungkin dirinya memang manja. Mungkin memang yang penting mereka sayang. Tapi Gista merasa bisa pecah dan gila.
Gista tidak bisa selalu mengerti apa keadaan mereka sementara ia sendiri tidak mengerti keadaannya ini.
"Aku lama di sini." Gista menelan ludah sebelum ia menyeka air matanya, menarik napas dalam. "Dua tiga bulan kayaknya."
"Gis, kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Ya begini." Ashar mulai terdengar muak. "Aku mana paham kalau enggak kamu jelasin. Kamu sakit, oke. Tapi emang mesti kabur begini? Kamu bukan anak-anak, loh."
Gista merasa tengah disalahkan. Dan ia tak mau disalahkan atas apa yang ia rasa bukan salahnya.
__ADS_1
Memang dia pikir Gista yang minta penyakit ini ada?
*