
Waktu Gista menoleh, didapati Endra nampaknya baru mandi dengan rambut basah, yang berarti sekarang dia bau sabun dan sampo.
Endra menutup mulut dan hidung Gista baik-baik, biar ia tak perlu mencium bau apa pun yang baginya mengerikan.
"Teteh kenapa jadi teriak-teriak? Lima menit marah dampaknya lima jam, loh. Kasian badan Teteh." Endra tersenyum manis. "Biar saya jelasin, yah? Kayaknya saya paham."
"...."
"Teteh keluar dulu, yah? Nih, sambil ditutup kalau-kalau ada bau."
Air mata Gista menggenang. Bukankah pemandangan ini sendiri sudah jelas menunjukkan kenapa Gista 'selingkuh' dari Ashar? Orang ini jauh lebih paham memanusiakan penderitaan Gista daripada siapa pun.
Gista mau berteriak mengatakan itu pada Ashar. Sangat mau. Namun ia mengangguk, patuh disuruh keluar oleh Endra.
Ia terus menutup mulut untuk menghindari bau, pergi ke bawah daripada harus ikut emosi.
Sementara itu, Endra sedang diserang oleh dua sisi berbeda.
Satu sisi, ia sangat mau menatap tajam Ashar lalu berkata 'situ kan udah putus jadi Teteh-nya punya saya, jadi kalo kamu bikin nangis, kamu saya sleding' tapi sisi lain sadar juga kalau itu perilaku tidak berpendidikan.
Endra bukannya tidak paham Ashar mungkin juga bingung. Reaksi dia bukan tidak berperasaan, cuma memang butuh pemahaman dan kesabaran luar biasa menghadapi penyakit langka.
Orang normal pada umumnya akan terus mempertanyakan, sedangkan Endra, sebagai salah satu orang yang belajar ilmu kedokteran sampai sekarang, ya punya mindset berbeda. Dan harus bersikap berbeda pula.
__ADS_1
Ini hanya perbedaan sederhana, tapi dampaknya memang luar biasa.
"Besar kemungkinan Teh Gista punya tumor di kepala."
Endra mulai menjelaskan. Menyimpulkan semua yang sudah ia amati.
"Saya enggak bisa secara pasti bilang, tapi Teteh bilang dia enggak pernah kena benturan dan kecil kemungkinan inveksi. Buat tau itu, sebenarnya butuh rontgen, tapi Tetehnya enggak mau ketemu dokter."
"Kamu siapa?"
"Saya lulusan kedokteran UI, Kang. Nama saya Gasendra."
Endra tak bisa menunjukkan lisensi, jadi setidaknya ia bisa menunjukkan ijasah kelulusan.
Endra menarik kursi untuk duduk. Menatap pria yang dipenuhi bekas-bekas kecelakaan hanya karena menyusul Gusta itu.
Hampir Endra merasa kalah. Seseorang sampai rela kecelakaan demi Gista, normalnya dia memang akan lebih tersentuh dengan itu.
Tapi ternyata hati tidak bisa diatur. Dan Gista yang sakit memang tidak bisa merasa baik-baik saja di samping seseorang yang terus mempertanyakan apa yang juga dia pertanyakan.
Jadi yah, maaf kalau Endra menang.
"Saya udah denger dari Teh Gista, katanya orang tuanya bilang dia gila. Teh Gista keliatan putus asa banget justru habis ketemu dokter. Dia justru ngerasa kalau dia ketemu dokter, dia malah dapat kepastian kalau satu-satunya yang aneh di dunia ini cuma dia, cuma Teteh Gista sendiri. Makanya ...."
__ADS_1
Mata Endra berpendar dingin.
"Kalo enggak bisa bantuin sembuhin, tolong seenggaknya bantu buat jaga mental pasien. Bukan dirojok-rojokin."
Itu adalah masalah darurat manusia yang menurut Endra suka dilakukan banyak manusia. Bicara sesuka hati, tanpa memikirkan dampak apa pun dari ucapannya.
"Akang mungkin bingung, keluarganya mungkin susah, tapi yang paling-paling susah, paling bingung siapa lagi kalo bukan pasien?"
Ashar menunduk frustrasi. "Saya juga tau."
"Nyesel sekarang enggak ngubah apa-apa, Kang. Orang yang udah ditinggalin bakal terus ngerasa ditinggalin."
Saat mengucapkan itu, sebenarnya Endra merasa jantungnya diremas.
Berhakkah ia bilang sementara Endra dulu meninggalkan Nisa sendirian demi dirinya sendiri?
Rasa sakit itu tiba-tiba merajam, tapi Endra berusaha keras untuk menahannya.
"Ohiya, Kang." Endra beranjak. "Teh Gista udah bukan pacarnya, kan? Soalnya saya mau lamar."
Dia harus tahu itu karena Endra benci gadisnya masih disangka milik seseorang.
Apalagi sampai diajak berdua-duaan lagi di kamar.
__ADS_1
*