Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
28. Teteh Cantik, Enak Dipandang


__ADS_3

"Tadi ngomong sama Yura, Teh?" Begitu yang Endra tanyakan waktu mendatangi Gista.


Ternyata dia lihat dari kantornya ketika Yura datang ke bawah pohon di mana Gista duduk. Tapi dari reaksinya, seharusnya Endra tidak tahu apa yang bibinya katakan pada Gista.


"Iya, dikasih jeruk. Saya kira kamu yang suruh."


Endra duduk di samping Gista setelah dia selesai membuka jeruk besar yang katakan dibeli oleh pamannya tadi. Jeruk itu dibuka bukan untuk dia makan, namun justru untuk Gista makan.


Di depan Gista, Endra benar-benar tidak makan atau bahkan minum kecuali air.


Dia seolah tahu kalau memperlihatkan betapa normal dia bisa makan dan merasakan rasa makanan tanpa muntah akan membuat Gista merasa terluka diam-diam.


Dan mungkin iya, karena Gista sering iri pada mereka yang baik-baik saja. Itu membuatnya merasa telah melihat neraka kecil kaena cuma ia satu-satunya di bumi yang memiliki makanan tapi tak bisa makan.


"Yura teh orangnya baik, gampang perhatian sama orang. Enggak usah disuruh juga begitu, Teh."


Gista sudah tahu. Kelihatan jelas dari mata anak itu.


Namun Gista putuskan tidak membahas lagi, fokus pada jeruk. Tangannya mengambil daging dari jeruk besar itu untuk dimasukkan ke mulutnya.


Ternyata rasanya tidak seenak jeruk kuning. Rasanya agak tengik, namun Gista memaksa untuk menelan.


Jika jeruk juga tidak bisa ia makan, apa lagi yang bisa ia makan di dunia ini? Pun rasanya tidak terlalu buruk jadi Gista bisa menoleransi.


"Kamu enggak bilang sama saya." Gista bergumam, menyinggung hal yang tadi dibahas oleh tantenya Endra.


"Apa, Teh?" tanya Endra polos. Saking polosnya, Gista bahkan tak bisa kesal.

__ADS_1


"Baju saya enggak sopan."


"Kok bisa?"


"Terlalu press body." Gista mengalihkan mata tak nyaman.


Lagi-lagi spontan bergerak menutupi bagian bahu dan tengkuknya yang terbuka, karena memang kaus itu tidak menutup sampai leher.


Ia cuma bisa menggeser rambutnya agar lebih menutup bagian yang terbuka itu. Malu juga, apalagi jika berpikir kalau Endra diam-diam juga merasa Gista tidak tahu sopan santun, memakai baju terlalu vulgarr di desa.


Bisa-bisa Gista malah dikira menghina adat mereka.


"Saya enggak tau kalau kaus begini aneh di sini." Gista mau tak mau merasa sangat salah.


"Bukan aneh, Teh. Orang enggak terbiasa." Endra masih membahasakan lembut.


Tapi Gista sudah terlanjur mendengar pendapat pedas dari tantenya.


"Teteh kan beli baju sebelumnya karena alasan sendiri. Enggak perlu ngubah penampilan kalau emang sukanya itu."


Duh, ini orang bisa tidak sih sedikit terlihat jahat? Dia baik terus dari kemarin! Sesekali tolong jahat sedikit.


"Tetep aja enggak sopan, kan?" Gista sangat yakin dia berpikir begitu.


"Ya kalau buat saya sih sopan-sopan aja. Tapi emang ibu-ibu kayaknya enggak."


Endra malah tertawa. Membuat Gista diam-diam menggembungkan pipinya sebal, bukan pada dia, tapi pada bagaimana mulutnya itu bicara lembut.

__ADS_1


"Teteh sama ibu-ibu kan beda. Seleranya juga beda. Habisnya mereka enggak bisa pake baju kaos kayak Teteh. Bodynya Teteh mah bagus pake kaos begitu. Apalagi Teteh cantik. Enak dipandang."


Hening.


Itu masuk pelecehan seksu*l kalau menyinggung soal body, apalagi dari mulut laki-laki, tapi Gista merasa wajahnya memerah untuk alasan lain.


Bagus, katanya.


Cantik, kata dia juga.


Enak dipandang.


Berarti dia memerhatikan?


Endra di sampingnya terbatuk-batuk menutup mulutnya. "Maaf," gumam dia dengan suara rendah. Serak basah menahan canggung.


".... Enggak pa-pa."


Mungkin waktu sepuluh menit habis hanya untuk meredam suasana awkward di antara mereka.


Keduanya berusaha keras buat mengabaikan kecanggungan itu karena tak mau baper.


Untungnya makan jeruk membuat Gista bisa pelan-pelan meredam rasa malunya. Gista sudah merasa kenyang dengan dua potong jeruk besar itu.


Dirinya yang dulu bisa makan dua burger double beef and cheese sekarang kenyang karena dua potong jeruk. Itu menyedihkan untuk dipikirkan.


".... Kalau mau, pake kaos saya aja."

__ADS_1


Tiba-tiba Endra menjatuhkan bom.


*


__ADS_2