Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
58. Bergetar


__ADS_3

"Endra."


Gista menepuk-nepuk pelan tangan Endra agar dia bangun, setidaknya pindah ke kasur agar tidurnya lebih nyenyak.


"Endra, bangun. Jangan tidur di sini."


Badan Endra yang kaku itu akhirnya bergerak, pelan-pelan tersadar dari tidurnya. Tapi ketika Gista pikir Endra akhirnya sadar dia tidur di posisi salah dan tempat salah, Gista justru dikejutkan.


Tangan Endra justru menarik Gista, memeluknya seperti dia sedang memeluk boneka.


Sesaat Gista pikir Endra sedang bercanda, tapi wajah kelelahan dan dengkuran halus yang terdengar darinya menandakan Endra benar-benar tidur.


Glek.


Posisi ini jauh lebih buruk bagi Gista. Bukan badannya yang pegal tapi hatinya yang terbakar.


Jarak antara wajahnya dengan Endra terlalu dekat. Gista bahkan mungkin bisa menghitung jumlah alis Endra yang tebal tapi tertata rapi.


Gawat. Pikiran Gista mulai liar.


Ia malah mau mencium Endra sekarang.


Haruskah ia cium?


Enggak, enggak, enggak! Gista berteriak dalam hatinya. Nanti dia ngira gue mesum! Nanti dia ilfeel!


Tapi waktu itu dia enggak marah, elak diri Gista yang lain, tetap mau menciumnya.


Yakan mana mungkin dia bilang juga! Endra tuh sopan! Gista membantah sendiri dirinya.

__ADS_1


Tapi mana ada cowok enggak suka dicium, kan? Diri Gista yang lain tetap bersikeras.


Perdebatan tentang cium dia atau tidak malah membuat wajah Gista panas, mungkin hingga memerah jika dilihat orang. Matanya ibarat sudah berputar-putar pusing mengamati wajah damai Endra.


Gista sungguh mau menciumnya tapi takut dikira sebagai perempuan serigala yang menyerang laki-laki saat sedang tidur.


Saking asiknya berpikir, Gista jadi tak sadar kalau matanya pelan-pelan ikut sayu. Ujung-ujungnya malah Gista juga ikut tertidur, dalam posisi yang sangat amat menyakiti punggung dan tulang belakang itu.


Dalam tidurnya Gista tersenyum lebar.


Demi Tuhan, ia tak pernah jatuh cinta sedalam ia jatuh cinta pada ciptaan Tuhan yang satu ini.


*


Endra membuka matanya dan dihadapkan pada wajah tersenyum seorang gadis cantik.


Siapa itu?


Kenapa dia di sini?


Kenapa rasanya Endra memeluk dia?


Kenapa dia tersenyum?


Dan yang paling penting, kenapa dia cantik?


"Teteh?"


Endra mengerjap ketika membuka mata lagi, menemukan itu sama sekali bukan mimpi, karena memang benar Gista di depan matanya.

__ADS_1


Entah bagaimana, karena Endra baru bangun jadi sulit berpikir panjang.


Lalu sekali lagi, karena Endra baru bangun, ia terlalu sulit bereaksi.


Jadi yang pemuda Sunda itu lakukan hanyalah diam memandangi wajah Gista yang tersenyum manis dalam tidurnya.


Hah, jodoh sendiri memang luar biasa. Kalau setiap bangun tidur yang Endra lihat muka ini, kayaknya Endra tidak terlalu suka bangun dari kasur. Ia cuma suka bangun dari tidur, alias buka mata, lalu diam seperti sekarang.


Malah sekarang Endra memutar musik secara internal di kepalanya. Musik-musik yang sering terdengar di film dan FTV pas protagonis 1 jatuh cinta ke protagonis 2.


Endra bergetar disentuh Tetehnya.


"Ckckck, mata aing ternodai."


Endra tersentak kecil. Langsung duduk, menoleh ke pintu.


Ck, ganggu, deh.


A Zaka melipat tangan di pintu, kayaknya tahu Endra bete dia mengganggu. "Bukannya mau ganggu piktor kamu pagi-pagi yah, tapi kamu bukannya ada kerjaan? Inget kan hari ini yang mau beli hasil panen udah janji mau dateng."


Tak tahu kenapa Endra tetap kesal meskipun A Zaka membangunkan dengan niat baik.


Tapi yasudahlah.


Nanti Endra pandangi Gista lagi kalau kerjaannya sudah beres.


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊

__ADS_1


__ADS_2