Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
71. Candaan Aa Sunda


__ADS_3

Gista tak tahu bagaimana situasi Ashar menjelaskan pada Endra. Tapi Gista juga tidak terlalu cemas, sebab ia tahu Ashar tidak gampang emosian.


Paling tidak Gista cukup yakin kalau mereka tidak akan ribut, sebab Endra tidak emosian dan Ashar tidak suka cari ribut. Gista lebih khawatir kalau Endra masih akan salah paham, menganggap Gista mau mengkhianatinya.


Astaga, Gista masih tidak percaya.


Kalau ada yang boleh dibuang di hubungan ini, itu tidak akan mungkin siapa pun kecuali Gista.


Endra terlalu baik buat ia buang. Bahkan kalau Gista bisa, Gista rela sepenuh jiwa jadi parasit di hidup Endra asal tetap bersamanya.


Bahkan Gista malah heran kenapa sampai sekarang Endra tidak dekat dengan perempuan mana pun.


Hello? Di mana semua mata dan telinga wanita di desa ini? Bagaimana bisa mereka hidup tentram dengan seorang jomblo siap santap macam Endra?


Enggak bakal aku lepasin. Gista membatin penuh keyakinan. Kalo bukan dia yang ngelepasin, enggak bakal kulepasin. Gila aja aku ninggalin orang kayak Endra.


Gadis itu makhluk egois. Mereka mau seseorang yang sempurna untuk hidup mereka sekalipun mungkin gadis itu tidaklah pantas bersanding dengan sang makhluk sempurna.


Tapi terserah. Gista tidak akan menyerah.

__ADS_1


"A Zaka." Maka, sementara Ashar membujuk Endra, Gista pergi mencari A Zaka.


Orang itu yang ia tahu paling dekat dengan Endra. Juga paling bisa Gista ajak bicara setelah Endra di kampung ini.


"Loh, Eneng?" A Zaka langsung berhenti dari kegiatannya menjemur baju yang mungkin baru dicuci.


Waktu Gista mendengar, bau pewangi pakaian A Zaka langsung tercium pekat. Gista sampai harus menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat agar tidak terpengaruh oleh aroma memualkan itu.


"Oiya, Neng. Bau downi ini, hehe." A Zaka memaklumi ketika Gista mundur dengan canggung. "Kenapa, Neng? Tumben nyarinya saya bukan Aa yang satu lagi."


Walau harus menutup mulut dan hidung, Gista tetap cemberut akan godaan itu. "Enggak usah usil deh, A."


"Saya mau ngobrol sama kamu sebentar bisa enggak?"


"Aduh, kayaknya enggak bisa, Neng. Kalo cowok sama cewek ngobrol berdua, yang ketiganya setan. Saya lagi enggak mau ketemu setan. Maap, yah."


Gista tidak tahu apakah selera humornya yang turun standar ataukah lama-lama ia jadi terbiasa menganggap candaan tidak lucu para Aa Sunda itu jadi lucu.


Yang jelas, ucapan A Zaka mau tak mau bikin Gista tertawa kecil. Sudah cukup dekat untuk merespons candaan dia dengan melempar kerikil kecil di kakinya.

__ADS_1


"Saya serius, A!"


"Eneng mau serius sama saya? Dah atuh saya mah hayuk. Tapi kasian Gasen atuh, Neng."


"Ah, serah kamu lah!" Gista berbalik pergi. "Dasar enggak jelas!"


A Zaka malah tertawa keras, tidak mengejar Gista yang masuk ke dalam karena ngambek. Tapi A Zaka menyelesaikan dulu acara berjemur bajunya, masuk ke dalam mengembalikan ember, baru dia mencari Gista yang duduk di teras depan macam orang galau.


"Jadi kenapa, Neng?" tanya A Zaka, memastikan apa yang sebenarnya mau Gista bicarakan sampai mencarinya. "Tadi mau bahas apa?"


"Katanya enggak mau."


"Eleh, Eneng Cakep jago ngambek juga. Becanda doang, Neng."


Gista mengembuskan napas sebal, tapi sebenarnya terbantu juga karena sekarang ia tak terlalu mencium bau pewangi pakaian. Ada sedikit tersisa dari badan A Zaka, tapi Gista tidak sampai harus menutup hidungnya.


"Soal Endra ...."


*

__ADS_1


Tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan karya author, yah 😊


__ADS_2