
Ashar memerhatikan wajah gadis desa ini dengan seksama.
Dia cantik. Sangat cantik malah untuk ukuran orang desa yang mungkin tidak rajin perawatan seperti gadis-gadis cantik di kota.
Sebenarnya, dari kemarin Ashar mau mengajak dia bicara. Terutama setelah ia mendengar sendiri gadis ini menangis di depan Gista karena Endra.
"Kamu mau temenin aku duduk nungguin Gasendra?"
Kelihatannya dia tidak nyaman, tapi dia juga tidak menolak karena kesopanan.
Yura menemani Ashar duduk di bawah pohon berteduh, berulang kali menunduk sampai-sampai mungkin lehernya akan sakit.
Paham dia canggung, Ashar segera pada tujuannya.
"Aku udah denger kamu sama Endra katanya mau dinikahin."
Wajah Yura mendadak pucat. "Ke-kenapa yah, A?"
"Aku pacarnya Gista. Yah, mungkin buat dia udah mantan pacar kali, yah? Aku ke sini mau jemput Gista, tapi malah kecelakaan."
Yura langsung mendongak, terkejut akan fakta itu. "Tapi katanya A Gasen sama Teh Gista mau nikah, A."
"Berarti Gista udah mutusin pisah biar bisa sama Endra."
"Emangnya Aa-nya enggak sakit hati?"
__ADS_1
Yura bisa langsung menyadari orang itu mengalihkan pembicaraan karena dia tiba-tiba mengatakan hal lain.
"Kamu mau bantuin aku misahin mereka?"
Kenapa dia mengatakan sesuatu yang seakan dia sendiri tidak meniatkan itu? Yura mungkin gadis desa polos, tapi Yura sering bicara dengan orang lain hingga dia peka.
Pria ini tidak terlihat sakit hati karena hubungan Endra dan Gista. Dia terlihat biasa-biasa saja. Sekadar mengatakannya biar orang lain percaya dia merasa terganggu, padahal tidak.
"Maksudnya apa yah, A?"
"Maksudnya, mungkin aja Gista sama Gasendra enggak beneran saling suka. Kayak, Gista cuma merasa berterima kasih karena Gasendra perhatian, terus Gasendra juga cuma sekedar penasaran karena Gista beda dari cewek-cewek yang biasa dia liat di sini. Yang kayak gitu biasanya ada. Mungkin aja sama."
Yura mengerjap pada penjelasan itu.
Terlepas dari bagaimana dia terlihat tidak sakit hati pada Gista dan Endra, tawaran itu terdengar sangat menarik.
"Terus harus gimana, A? Cara misahinnya gimana?"
"Tunggu aja sampe bosen."
"Tunggu?"
Sayangnya tak ada waktu untuk mereka berbincang-bincang lebih jauh sebab Endra sudah naik dari bawah sana.
Yura buru-buru berdiri, takut jika Endra mengira ia sedang menggoda seorang laki-laki di bawah pohon. Tapi sebenarnya daripada itu, Endra lebih memicing pada kehadiran Ashar di sana.
__ADS_1
"Kenapa ke sini, Kang?" Susah bagi Endra menyembunyikan raut persaingannya.
Meski begitu, Ashar hanya menanggapi tenang. "Saya ke sini mau jelasin sesuatu."
"Maaf, Kang, saya ada kerjaan. Kalo bisa nanti aja di rumah."
Endra mau berlalu, tidak mau dengar kalau itu tentang dia dan Gista mau pulang. Endra bahkan curiga kalau Ashar datang cuma mau menertawakannya karena berakhir ditinggalkan oleh Gista.
Tapi ....
"Gista mau ke dokter."
Endra membeku.
"Dia denger kamu belain dia kemarin, jadi dia nangis bilang kalau dia nyusahin kamu. Dia mau ke dokter biar sembuh. Saya ikut sama dia ya karena saya ke sini emang cuma buat dia."
Itu luar biasa mengejutkan bagi Endra.
Tentang fakta Gista mau ke dokter dan fakta bahwa Gista bukannya balikan dengan Ashar.
Tapi yang lebih terkejut adalah Yura.
Dia terkejut melihat pria asing dari kota itu.
Kalau dia mau membuat Gista dan Endra berpisah, kenapa dia tidak bilang saja kebohongan seperti 'Gista udah milih saya jadi kamu jangan egois nahan dia di sini'.
__ADS_1
Kenapa dia datang jauh-jauh cuma buat meluruskan kesalahpahaman yang membikin Gista dan Endra berdamai?
*