Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
88. Bujukan Terakhir


__ADS_3

Kadang kalau jatuh cinta, pernyataan bodoh itu terdengar manis.


Jadi sekalipun Gista mengatakan sesuatu yang sangat tidak bertanggung jawab, Endra malah tersenyum, memeluknya erat-erat.


Tidak apa. Tidak masalah kalau dia bergantung pada Endra, mencintai Endra, dan bahkan menolak berpisah dari Endra.


Justru Endra senang.


"Teteh enggak boleh sakit."


Tapi dia tetap harus ke rumah sakit.


"Daripada 'biar aja sakit asal ada Endra' gimana kalau 'sehat terus ada Endra'? Lebih bagus kan, Teh? Mau, yah? Teteh pinter, yah?"


Gista menggeleng, mulai menangis karena tidak mau.


Namun biarpun Endra itu lembut, Endra juga tegas.


Jadi sekali A, ya harus A. Sebisa mungkin.


Endra peluk Gista lama-lama, mengusap-usap rambutnya, bahkan Endra mencium pipinya agar Gista terbawa perasaan.


Biasanya jika perempuan sudah baper, mudah membujuknya.


"Ayok, Teteh. Kita ke rumah sakit."


"Enggak mau."


"Mau yah Teteh? Sama Endra, loh."

__ADS_1


Gista tetap menggeleng.


Saat Endra masih berusaha keras membujuk Gista, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Ashar berdiri di depan pintu itu, menyaksikan mereka berpelukan.


Ekspresinya tidak banyak. Juga tidak terlihat sangat terganggu.


Namun apa yang dia katakan membuat Endra terganggu.


"Saya mau ngomong sama Gista sebentar."


Akan sangat tidak sopan jika Endra berkata tidak, tapi Endra juga tidak mau setuju.


Masalahnya semua orang pasti ingin bicara karena ada urusan, jadi Endra mendahulukan adab, memberi dia waktu bicara pada Gista.


Mau tak mau Endra keluar dan Ashar masuk, duduk di lantai sebagaimana Gista masih duduk di sana.


"Kamu kenapa enggak mau ke rumah sakit? Kamu kan mau sembuh."


Bahkan kalau Gista sudah bukan kekasih Ashar dan hubungan mereka sudah berakhir, ada sejarah sekian tahun di antara mereka.


Keduanya jugalah sahabat saat menjadi kekasih, maka tentu ada kalanya Ashar bisa jadi teman bicara tanpa tekanan.


Pertanyaan lembut itu membuat Gista menunduk. Tidak seperti saat ada Endra di mana Gista bersikap manja, Gista sekarang terlihat sedih.


"Aku enggak mau ketemu Ayah," jawab Gista apa adanya. "Aku enggak mau ngeliat Ayah."


"Kenapa?"


"Ayah bilang aku gila." Gista terisak-isak hanya dengan mengingatnya. "Ayah bilang sendiri aku udah gila makanya aku begini. Kalo aku ketemu Ayah menurut kamu Ayah bilang apa lagi?"

__ADS_1


"Ayah kamu nanyain kamu ke aku."


Gista tersentak. Apa? Kenapa Ashar tidak pernah mengatakan itu?


"Aku datang ke sini udah pamit sama Ayah sama Ibu kamu. Aku juga tiap malem tukeran kabar kamu gimana di sini."


"Tapi Ayah sendiri yang bilang aku gila."


"Mungkin Ayah enggak sengaja, Gis."


Gista menggertak giginya marah. "Enggak sengaja apa? Kamu bisa enggak sengaja ngatain orang gila?"


"Ya terus gimana? Kamu enggak mau ke rumah sakit karena Ayah kamu? Kamu mau gini terus? Kamu yang kesiksa sendiri loh, Gis."


"...."


"Kamu kira aku enggak sadar? Kamu enggak mau lepas dari Gasendra karena cuma dia yang mau manjain kamu."


Perkataan itu mau tak mau membuka lebar kedua mata Gista.


Gadis itu hanya bisa membeku oleh perasaan tertusuk.


"Cuma Gasendra yang mau perlakuin kamu kayak bayi, makanya kamu enggak mau lepas dari Gasendra. Aku enggak mau ngomentarin itu, terserah kamu. Tapi kamu lagi sakit. Ayo ke dokter, ke rumah sakit."


Gista kini hanya menunduk.


"Kamu enggak bisa nyuruh Gasendra terus-terusan sabar sama kamu. Dia udah ngasih kamu banyak, jadi harusnya kamu bales ngasih dia sesuatu. Bukan terus minta."


*

__ADS_1


__ADS_2