Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
54. Nikah Aja Belom


__ADS_3

Endra tertawa kecil. Menepuk-nepuk luaran selimut anak itu dan dia sedikitpun tidak bereaksi.


"Lidahnya agak putih, yah. Itu perlu dibersihin, takutnya nanti jamur. Bisa jadi juga demam karena itu. Panas juga, jadi biarin kena hawa sedikit. Sedikit aja, jangan dikipas. Pokoknya ada hawa sedikit. Nanti merahnya reda, insyaa Allah."


"Tapi kok dia enggak nangis ya, A?" tanya ibu dari bayi itu.


Endra menoleh pada Gista karena tahu dia juga penasaran.


"Nangis enggak nangisnya anak-anak itu enggak selalu soal sakit, yah. Dasarnya, itu masuk ke watak—termasuk kalau ada indikasi lain. Ini anaknya Teh Gina kemungkinan besar anaknya plegmatis. Wataknya tenang. Jadi kalau pipis, kalau—maaf—pop, dianya enggak banyak suara. Diem aja malah. Beda sama tipe yang lain."


Gista mengerjap kaget. Dirinya yang cukup akrab dengan psikologi saja tidak tahu itu.


"Nentuin wataknya dari situ?"


"Dari bentuknya masih air putih aja udah ditentuin, Teh. Kalo anak-anak yang sedikit basah langsung nangis itu biasanya melankolis. Kayak Teteh, nih."


Gista melotot. "Kok saya?"


"Iya. Pasti waktu Teteh kecil pipis dikit nangis. Emang wataknya Teteh begitu. Baperan."


"Endra!"


Anak di ranjang tersentak sedikit, kayaknya kaget mendengar suara Gista walau sebenarnya tidak terlalu tinggi.


Hebatnya, anak itu cuma menggeliat, lalu diam seribu bahasa.

__ADS_1


Endra menepuk-nepuk anak itu lagi. "Jarang nangis anak plegmatis, mah. Emang wataknya damai. Pasrahan anaknya. Jadi enggak pa-pa. Enggak ada kelainan kalau enggak sering nangis. Enggak usah dipaksa. Nanti nangis beneran, susah sendiri loh nenanginnya."


Setelah berbincang-bincang, Endra pun minta izin buat berkonsultasi ke bidannya. Baru setelah diberi izin, Endra bantu membersihkan lidah bayi sekaligus mencontohkan ke ibunya buar dia bisa melakukan secara mandiri.


Habis melakukan, Endra lagi-lagi menggendong bayi laki-laki tersebut, terlihat sangat menikmati malah walaupun bayi itu belum bisa merespons.


Gista juga mau menggendong, tapi takut luar biasa hingga ia cuma sedikit menyentuh pipinya, melihat Endra menggendong sampai kemerahan parah di wajah anak itu reda.


Kayaknya benar dia kepanasan.


Mereka ditawari untuk makan dan minum sesuatu dulu, duduk-duduk dulu sebelum pulang. Apalagi ternyata ada A Zaka juga di sana. Tapi Gista tidak bisa, sebab bau makanan dari dalam tercium pekat. Jadi Endra langsung pamit pulang, disertai cie-ciean.


"Buruan yah, A, punya gini."


"Aamiin." Endra malah jawab. "Doain taun depan."


Bukannya merasa bersalah, Endra malah ketawa.


"Taun depan punya juga yah, Teh?" kata Endra waktu mereka sudah meninggalkan kediaman itu.


"Nikah aja belum!"


"Yakan beberapa bulan lagi nikah, Teh."


Gista merasakan wajahnya mendadak panas. Memang Aa Dokter nih bisa saja kalau bikin baper. "Kata siapa?"

__ADS_1


"Ya kata saya atuh, Teh, masa kata temen saya."


"Kalo saya enggak mau?"


"Teteh yang nyesel."


"Dih, kenapa?"


"Soalnya Teteh enggak bersyukur, udah dikasih yang kayak saya masih nyari yang lain. Emang tuh Teteh suka begitu."


Ternyata dia benar-benar bisa jail jika sudah niat.


Gista cuma berulang kali mencubit dan memukulnya, sedangkan Endra malah terus tertawa.


"Kamu kok enggak takut sih memang anak kecil? Kamu belajar juga soal kedokteran anak gitu?"


Endra langsung menoleh, walau hanya sekilas. "Saya dulu punya senior—dosen sebenernya, dokter anak. Saya sering main ke kliniknya, jadi saya diajarin beberapa juga. Tapi enggak banyak kok, Teh. Saya juga sebenernya takut kok."


"Ohya?"


"Iya. Teteh enggak tau, yah? Laki-laki itu lebih ketar-ketir kalo udah ngeliat anak bayi atau ibu mau ngelahirin. Mau jantungan rasanya. Kemarin aja saya diminta dampingin Teh Gina, saya angkat tangan. Enggak berani kalo harus dampingin sampe melahirkan."


Gista tak tahu kenapa mulutnya malah langsung berkata, "Kalo saya ngelahirin, kamu dampingin?"


*

__ADS_1


tinggalin like kalian sebagai bentuk dukungan buat author 😊


__ADS_2