
Nasib orang desa itu tidak banyak. Kewajiban hidup manusia di sini tidak seperti di kota yang harus begini atau begitu. Yang penting kalian kerja, punya uang buat makan, lalu menikah, setelah menikah punya anak, setelah anaknya dewasa nanti dinikahkan lagi.
Tidak salah sih, namun hal itu membuat Endra sering dijodoh-jodohkan dengan anak gadis lain.
Salah satunya Yura, sepupu Endra sendiri.
Endra bisa menolak sebenarnya. Terus terang kalau ia tidak mau menikah, setidaknya dengan Yura. Karena buat Endra, Yura itu adiknya. Bergaul baik dengan adik Endra dulu.
Masalahnya, ketika kalian sudah berurusan dengan keluarga, yang bermain bukan cuma kejujuran atas perasaan. Kadang perasaan keluarga bisa lebih penting dari perasaan sendiri.
"A Gasen suka yah sama Teteh-nya?" Begitu yang Yura tanyakan setelah memberi Endra rantang makanan.
Pura-pura polos, Endra kembali memindahkan rumput liar yang sudah dipotong ke dalam gerobak. "Suka atuh, Dek. Kalau enggak suka mah enggak aku ijinin ngekos di sini."
"Teteh-nya mau tinggal sampe kapan, A?"
"Hm? Enggak tau juga. Dia kan lagi sakit, Dek, jadi lama kayaknya."
Itu tidak sepenuhnya bohong. Melihat dari tidak adanya perubahan dari penciuman dan perasa Gista, kemungkinan itu akan lama.
Endra sebenarnya khawatir dia benar-benar mengalami sesuatu, namun sekali lagi, yang bisa ia lakukan pada orang tak mau ke dokter adalah membujuknya. Sambil memperbaiki mentalnya pelan-pelan yang trauma akibat penyakit itu.
Pelan-pelan. Sampai dia mau dan tanpa merasa dia dipaksa.
Bukan memanjakan juga. Cuma tidak semua orang bisa dipaksa. Apalagi Gista yang nampaknya secara mental luar biasa terguncang sampai depresi.
__ADS_1
".... Kok dia di kamarnya Aa?"
Ternyata Yura melihat waktu Gista di balkon kamar Endra.
Karena kamar itu memang kamar utama, jadi Yura jelas tahu kalau memang Endra biasanya tidur di sana.
"Namanya orang kota, enggak bisa kalo enggak pake AC." Alasan itu tidak sepenuhnya bohong juga.
"Terus A Gasen tidur di mana?"
"Mana-mana aja mah aku." Endra tersenyum. Berbalik sebentar melihat Yura, lalu fokus lagi membersihkan. "Makasih yah makanannya. Bilangin sama Mamah juga."
Secara halus ia mengusir, biar pembicaraan ini berakhir. Endra tidak mau sampai Yura menyinggung soal 'hubungan' mereka.
"A."
"Hm?" Endra tetap mendorong gerobak sampah itu.
"Jangan, yah?"
"Jangan apa?"
Aneh sekali dia tiba-tiba mengatakan itu.
Yura sempat diam, membuat Endra berhenti, menoleh pada gadis SMA cantik itu. "Dek?"
__ADS_1
"Jangan selingkuh."
Endra tertegun. Agak terlalu terkejut untuk mengontrol diri, mengerjap melihat Yura yang malah berpaling ke arah lain.
Dia terlihat ... malu namun sedih. Memegang ujung pakaiannya sendiri seolah berharap Endra tidak menertawakannya atas perkataan tadi.
Selingkuh.
Maksudnya ... jangan batalkan apa yang semua orang sudah sering bicarakan bahwa ketika Yura lulus, mereka akan menikah?
Endra waktu itu masih baru datang dan belum memahami cara berkomunikasi dengan baik. Tentu saja, Endra lahir dan besar di sini, tapi ia sempat tinggal lama di kota karena kuliah.
Endra berterus terang mengatakan bahwa rasa sakitnya Yura entah saat menstruasi atau tidak adalah karena posisi rahimnya terbalik. Endra cuma bilang kalau rahim terbalik bisa sembuh sendiri ketika dia hamil, karena biasanya solusi operasi itu terdengar horor di telinga orang desa.
Dan memang itu lebih alami saja. Endra menyarankan dari kacamatanya sebagai anak medis. Lalu tiba-tiba malah berkembang berita Endra dan dia akan menikah segera setelah Yura lulus.
Agak lucu sih. Endra mengabaikannya saja karena ya Endra tidak pernah bilang mau menikahi Yura. Sebenarnya Endra juga harap Yura tidak mau.
Ternyata malah begini.
"Dek."
"Anaknya Pak Hadi kemarin bilang mau lamar Yura, A." Dia menggigit bibirnya gelisah. "Tapi Yura bilang udah ada A Gasen."
*
__ADS_1