
Gista baru pertama kali merasakan pemeriksaan benar-benar tanpa masalah padahal Ashar ada di sana. Bahkan sebenarnya waktu Gista dijejali makanan entah apa, Gista dua kali muntah, tapi ia merasa jauh lebih baik karena ada Endra di sana.
Selesai pemeriksaan, Endra menyuruh Gista menghabiskan buah jeruk kecut dan dua gelas air putih. Baru setelah itu Endra menyuruh Gista buat pergi beristirahat, karena Gista memang terlihat kelelahan lepas dipaksa muntah karena makanan.
Tadinya Gista mau pindah kamar, tapi Ashar ternyata memberikan kamar Gista kembali, berkata dialah yang akan tidur di kamar lagi.
AC di rumah Endra memang benar-benar cuma di kamar Endra. Sementara Gista tidak bisa terlalu berkeringat, sebab bau keringatnya pun mengganggu.
Gista beristirahat sampai jam satu sore. Tidur pulas sebelum akhirnya dia terusik oleh ketukan pintu.
"Gis, ini aku."
Tentu yang berbicara aku-kamu pada Gista hanya Ashar di rumah ini. Jadi jelas itu dia.
Setelah Gista persilakan dia masuk, Ashar datang dengan gelas di tangannya, yang Gista langsung tahu kalau itu seduhan rimpang yang dicampur beberapa jenis rempah.
"Gasendra bilang ini buat kamu, jadi aku bawain."
Gista menerimanya, tapi diam-diam kecewa karena bukan Endra yang bawa. "Makasih."
Ashar lalu duduk di tepi kasur Gista. Masih terlihat jelas dia sakit dan luka bekas kecelakaan kemarin, namun Gista tak mau lagi terlalu berkomentar.
Kalau ia terlalu khawatir, Ashar bisa saja mengartikan kalau Gista masih punya rasa padanya.
"Gosendra udah jelasin ke aku lebih detil soal kondisi kamu. Aku juga udah liat sendiri. Aku minta maaf karena kemarin enggak ngerti maksud kamu apa."
__ADS_1
"Iya." Gista mengangguk. "Enggak pa-pa."
"Tapi, Gis—"
Ashar menoleh, menatap wajah Gista beberapa saat sebelum dia kembali menunduk, meremas tangannya sayu sama lain.
"Aku masih ngerasa kalau kita enggak seharusnya putus."
"Ashar."
"Iya, Gis. Aku paham, aku salah sama kamu. Kamu lagi sakit, aku secara enggak langsung malah bikin kamu tambah sakit. Cuma, maksud aku, aku bisa belajar. Aku bisa belajar buat paham kamu kenapa."
"Secara enggak langsung kamu ngeremehin keputusan aju."
"Tapi itu egois buat aku, Gis." Ashar menoleh lagi, mengerutkan wajah frustrasi. "Aku ngerti kamu marah, tapi aku dateng jauh-jauh ke sini buat buktiin ke kamu aku enggak pernah punya maksud nyakitin kamu."
"...."
"...."
"Aku salah, Gis, aku minta maaf. Lain kali aku janji bakal lebih terbuka lagi. Oke? Aku bakal di sini, nemenin kamu. Aku mungkin enggak bisa sepaham Gasendra soal medis, karena dia anak kedokteran, aku anak mesin. Tapi bisa ngertiin kamu kalau semuanya jelas."
Benar juga.
Memang kesalahan Ashar hanyalah dia tidak memahami kondisi Gista, karena kondisi Gista memang tidak akan bisa dipahami siapa pun kecuali mereka yang mempelajari seluk-beluk rumit tubuh manusia.
__ADS_1
Gista sendiri pun tidak paham dengan kondisinya. Ia tak bisa terlalu menyalahkan Ashar.
Hanya ... kalian tahu pepatah 'nasi sudah jadi bubur'?
Pada akhirnya, perasaan Gista sudah berlabu pada Endra dan tidak lagi pada Ashar.
Jadi bahkan sekalipun dia sekarang mengerti, Gista lebih memilih Endra yang mengerti.
"Gis, jawab aku. Gimana menurut kamu?"
"Aku—"
Tok tok.
Pembicaraan mereka diinterupsi oleh ketukan pintu, bersama dengan kemunculan Endra di sana. Pemuda itu tersenyum pada Gista dan itu membuat Gista langsung tersenyum padanya.
"Maaf, Teh, ganggu obrolannya. Saya mau ke rumah temen saya yang baru lahiran. Teteh mau ikut?"
Gista mengerjap, spontan mengangguk. "Mau."
"Yaudah, diminum dulu jamunya baru pergi."
Gista buru-buru menenggak minuman itu tanpa masalah, karena bau dari rempah dan rimpamg sedikitpun tidak berubah di mulutnya.
"Kamu mending istirahat di kamar," ucapnya pada Ashar, sebelum ia beranjak menyusul Endra.
__ADS_1
*