
Ternyata sama saja.
Gista merasa kosong ketika ia masuk ke kamar mandi dalam kamar Endra, menyikat giginya dengan secuil—setengah biji beras—odol, dan masih merasa mulutnya dijejali daging mentah.
Ia sudah terlalu lelah. Mandi meski tubuhnya terasa seperti diusap sampah busuk, kemudian keluar untuk menemukan Endra di dapur yang terbuka, tampak sedang beres-beres.
"Biar saya bantu." Gista menawarkan diri, sadar kalau ia harus balas budi.
Pemuda itu berbalik. "Eh, Teteh. Udah bangun?"
Kalau tidak, mana mungkin Gista jalan-jalan, kan?
Gista lantas mendekat. Baru mendekat, tapi langsung diserang perasaan mual yang gila akibat bau bekas makanan dan sabun yang bercampur.
Endra terkejut. Apalagi Gista berlari keluar, bukan muntah di wastafel saja.
Muntah pagi-pagi adalah siksaan luar biasa, terutama buat Gista yang perutnya kosong. Itu terasa seperti Gista akan memuntahkan lambung dan ususnya.
"Maaf, Teh." Endra langsung mendatanginya.
"Saya yang minta maaf," gumam Gista kosong.
"Sabunnya bau, yah? Nanti saya ganti sama yang enggak ada baunya."
"Bukan salah sabunnya. Emang salah saya." Gista menjatuhkan diri ke lantai, duduk lemas. "Maaf, lanjutin aja dulu. Saya nunggu di sini."
__ADS_1
Dia terlihat punya pikiran, tapi kemudian beranjak untuk menyelesaikan pekerjaan.
Rajin sekali, padahal laki-laki. Maksud Gista, biasanya laki-laki ganteng macam dia lebih suka dilayani daripada bertindak sendiri. Namun dia mencuci piring sendiri.
Di mana yang lain, penghuni rumahnya?
Gista diam saja di sana daripada merepotkan. Menunduk memandangi lantai yang bersih sebelum tiba-tiba sebuah jeruk terulur padanya.
"Jeruk super kecut, Teh."
Gista mengerjap.
"Tadi subuh kebetulan A Zaka ke pasar, jadi saya minta cariin jeruk kecut. Udah saya cobain. Kecutnya bikin menggigil, sumpah."
"Makasih." Gista menerimanya. "Uang kosnya sebulan berapa?"
"Wah, itumah omongan nanti aja, Teh. Betah dulu baru nanya harga kalau saya."
Dia berjongkok agak jauh, seolah takut aromanya dia mengganggu Gista. Dia wangi, pasti. Gista yang tidak bisa menciumnya karena sakit tak jelas ini.
"Ohiya, Teh. Saya mau keluar bentar lagi, Teteh mau ikut? Tenang aja. Setau saya, enggak banyak bau kok di sini. Kecuali asap aja palingan."
Gista tersenyum. Asap adalah sesuatu yang sederhana namun paling tidak bisa ia tahan. Namun dia sudah mengajaknya dengan niat menghibur. Gista tidak mau menolak.
"Boleh." Lagipula mereka kan juga harus menemui kepala desa untuk minta izin tinggal.
__ADS_1
Setelah makan buah jeruk super kecut yang setidaknya bisa ia telan satu buah dengan satu kali muntah, Gista masuk untuk ganti baju. Lalu keluar menyusul Endra yang sudah ada di motornya.
Desa ini kecil. Jalanannya bahkan hanya cukup untuk satu mobil yang tidak akan menyisakan banyak celah jika mobil itu lewat, jadi sepertinya kendaraan utama warga desa memanglah motor.
Gista memakai masker tebal ketika mulai naik ke motor. Sebenarnya samar-samar masih bisa mencium, namun berbeda dari kemarin, tubuh Endra tidak berbau busuk.
Dia tidak pakai parfum. Sepertinya juga tidak memakai apa pun di rambutnya.
Sepanjang jalan, Gista merasa semakin nyaman. Suasana asri khas desa, pemandangan kebun-kebun teh bersusun juga anak-anak berpakaian sekolah lari menuju sekolah mereka—suasana terlihat hidup.
Ia merasa terhibur.
"Teh, mau nonton upacara bendera enggak?"
"Hah?"
Dia berhenti di depan sekolah, yang pagarnya mungkin cuma setengah meter hingga terlihat jelas seluruh sekolah itu.
Bangunannya juga kecil. Tidak bertingkat, dan cuma terbagi antara bangunan dan padang rumput yang mungkin juga jadi lapangan.
Sebagai anak kota, Gista agak aneh melihatnya.
Memang ada yang bisa ditonton dari upacara bendera?
***
__ADS_1