Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
13. Tidak Normal


__ADS_3

Pemeriksaan itu masih terus berlanjut. Endra mengganti pemeriksaan penciuman jadi pemeriksaan indera pengecap.


"Teteh bisa tahan saya suapin jeruk nipis sesendok, enggak? Kalau enggak, saya berenti. Soalnya ini tes ala-ala saya aja."


"Enggak pa-pa." Setelah semua yang dia lakukan dan katakan, Gista malah tidak tahu diri kalau masih berpikir dia punya niat jahat.


"Yaudah, saya suapin yah, Teh. Siap-siap."


Dia menyuapinya sesendok air jeruk nipis dan itu luar biasa kecut. Gista sampai tersentak, reaksi normal dari siapa pun jika menelan kecutnya jeruk nipis.


Tapi Gista juga terkejut bahwa ia benar-benar tak muntah, tak merasa ada yang aneh atau ada perubahan di dalam mulut atau tenggorokan.


Itu rasa jeruk nipis yang semua orang rasakan.


"Enggak enak, Teh?"


"Enggak. Rasa jeruk nipis normal. Enggak berubah sama sekali."


Endra bergumam menerima itu, sekaligus mengakhiri proses pemeriksaannya. "Udah. Pinter aih, Teteh."


Gista tertawa diperlakukan seperti bocah. Meski tawanya agak surut begitu penutup mata dibuka, karena ternyata perempuan tadi di sana, memegang nampan di dekat Endra.


Dia melihat?


"Kita rangsang dulu yah, Teh, inderanya. Rasa yang lain bermasalah, kecuali kecut." Endra meletakkan sendok di atas nampan yang gadis itu pegang. "Teteh makan mangga? Mangga kecut?"


"Belum pernah nyoba."

__ADS_1


"Nanti kita coba makan mangga kecut, yah. Lidahnya pelan-pelan kita rangsang biar familier lagi sama rasa."


Endra menunjukkan nampan yang ternyata memang berisi kopi, gula, teh, namun dengan tambahan lain.


"Handbody amis, minyak telon amis—ini paling amis kata Teteh tadi yah, jeruk nipis—enggak ada baunya, Teh?"


Gista menggeleng. "Tapi di saya jeruk harum."


"Jeruk harum? Bau jeruk biasa? Enggak ada bau busuk?"


Gista menggeleng lagi. "Cuma jeruk yang enggak bau, yang saya coba. Tapi sabun jeruk sama pengharum jeruk bau."


"Jeruk asli enggak bau, pengharum bau, yah?"


Dia benar-benar berbakat jadi dokter. Sabar sekali bertanya hal-hal rinci, dan persis seperti dokter ahli yang Gista temui.


"Teteh-nya kenapa, A?" tanya perempuan yang sejak tadi melihat.


"Penciumannya ilang?"


"Enggak. Cuma bau." Endra menyerahkan air pada Gista. "Rasa besi masih tahan kan, Teh?"


Dua puluh hari begini, tentu saja. Kalau ia tidak memaksa menelan air, Gista benar-benar akan mati.


"Vitaminnya tetep konsumsi yah, Teh. Terutama yang B12 abisin dulu. Itu penting buat Teteh yang ada masalah saraf. Kita liat pelan-pelan progresnya."


Gista mengangguk sekali lagi.

__ADS_1


Orang ini kalau bicara membuat kalian mau tidak mau dengar.


*


Jadi cewek tadi namanya Yura?


Gista merasa kesal pada diri sendiri karena kepo, tapi ia panjang memikirkan apakah Endra juga suka pada Yura atau tidak.


Tanpa mendapat hasil apa-apa dari pertanyaannya, ia dan Endra pulang ke rumah membawa dua biji mangga muda. Kebetulan di rumah ternyata sudah ramai penghuninya hingga Gista bertemu dengan siapa itu A Zaka dan siapa guru SD honorernya.


Namanya Juliana.


"Mangga muda sore begini?"


Pandangan mereka sama saja. Mencurigai sesuatu.


Gista baru sadar kalau ia memang mirip ibu-ibu ngidam. Cuma mau makan kecut, sensitif pada bau, tampak lemas tidak bertenaga.


Kebetulan yang tidak lucu sebenarnya, karena itu malah bikin Endra jadi sasaran julid orang.


"Yaudahlah, kalau aku punya anak, punyalah." Endra langsung bete. "Ayok, Teh. Makannya di atas aja. Entar Juli masak baunya ke mana-mana."


"Heh! Bau apa, yah?!"


Gista naik ke atas meski ia agak penasaran dengan mereka. Endra menyuruhnya untuk mandi dulu jika mau, sementara dia pergi untuk mengupas mangga padahal Gista bisa melakukannya sendiri.


Begitu selesai mandi air hangat, Gista pun berencana keluar. Namun baru di depan pintu, wangi masakan dari bawah membuatnya lari ke kamar mandi.

__ADS_1


Lagi-lagi ia tersadar bahwa kondisinya sama sekali tidak normal.


*


__ADS_2