Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
46. Keasikan Ngomong


__ADS_3

Gista turun ke bawah menemui Zaka. Karena dia tidak bekerja mengikuti jadwal rutin seperti Juli, Zaka memang bisa tiba-tiba sibuk bisa tiba-tiba senggang.


Terlihat pria itu sedang mencuci motornya di garasi kecil beratap tenda yang diisi beberapa motor.


Gista langsung duduk di dekat tembok, mendengar Zaka menyanyikan lagu Sunda entah apa artinya.


"Endra enggak punya pacar yah, A?" tanya Gista mendadak sekaligus penuh rasa ingin tahu.


"E pocong!"


Zaka terjungkal, ternyata tidak sadar Gista ada di sana.


"Aih Eneng Cakep mah ngagetin orang. Teu lucu atuh Neng kalo saya jantungan gara-gara diajak ngomong cewek cantik."


Gista tersenyum setengah meringis. "Sori."


"Tadi pulang saya liat Eneng sama Gasen gandengan. Benih-benih apa nih kalo boleh nanya?" goda Zaka, mungkin bermaksud bercanda.


Tapi Gista melepas kain di mulutnya dan tersenyum. "Endra ngelamar saya."


Sendirinya yang bertanya giliran dijawab malah dia tersedak.


Zaka sampai terjungkal ke belakang, menyebabkan sarungnya jadi basah oleh air berbusa dari motor. Mata dia melotot, tapi mulutnya melongo.


"Serius ini?"


"Emangnya saya keliatan suka boong soal begituan?"


Zaka berbalik pada Gista. "Cepet amat, Neng. Efek samping takut direbut, yah?"


Dia langsung tahu Ashar dan Gista punya hubungan. Yah, mungkin itu memang kelihatan cukup jelas.


"Endra emangnya enggak punya pacar?" Gista mengulang pertanyaannya lagi.

__ADS_1


"Setau saya sih enggak yah, Neng. Lagian itu anak orangnya enggak suka ganjen di depan. Ganjen dalam hati doang tuh kayaknya."


Gista tertawa.


"Cuma kalo bisa jangan nikah terlalu cepet, Neng."


"Kenapa?"


"Ya soalnya saya lebih tua tapi belom punya calon, masa Eneng sama Gasen duluin saya? Teu bisa atuh, Neng."


Gista menggeleng tak habis pikir. Apa karena ini desa dan bukan kota, yah? Maksud Gista, ia selalu merasa candaan di sekitarnya itu terasa hambar dan dipaksa-paksakan.


Tapi sejak datang ke desa, bertemu Endra dan temannya Endra, candaan sederhana mereka jadi terasa menghibur.


"Neng Gista emang suka apa dari Gasen?" tanya A Zaka tiba-tiba.


Pertanyaan yang membuat Gista mengangkat alisnya, tapi langsung menjawab, "Pengertian."


Gista tak merasa harus berpikir untuk menjawab.


"Kok capek?"


"Ya kamu bayangin aja."


Gista menekan bibirnya satu sama lain, mau tak mau jadi murung tiap kali ingat akan kondisinya.


"Ada orang tiba-tiba ngaku enggak bisa makan tapi masih idup. Orang lain ngerasa itu harum, buat satu orang malah bau banget. Nyium apa pun muntah, makan apa pun muntah."


"Kayak orang hamil yah, Neng, yah?"


"Iya. Emangnya kamu enggak muak harus nanganin orang begitu? Kamu enggak ngerti mau dia apa, enggak ngerti harus ngasih dia apa. Mungkin malah lebih bagus saya hamil, soalnya, paling enggak ada alasan buat saya kenapa. Ada pengertian dari orang-orang kalo 'oh yaudah dia hamil jadi begitu'. Tapi nyatanya enggak. Saya enggak hamil, saya enggak jelas kenapa."


Zaka menggaruk kepalanya. "Iya juga, sih."

__ADS_1


"Tapi, Endra sabar banget. Entah dalem hati dia muak atau enggak, buat saya, dia sabar depan saya aja cukup. Itu udah bikin saya mau ngelakuin apa pun buat bales dia. Kalo perlu, kalo dia selalu ngertiin saya begitu, saya cuciin kakinya setiap hari juga mau."


"Engh ...." A Zaka diam-diam mengerang, tapi Gista tak sadar dan terus bicara.


"Jangankan harus masakin, saya tanem padinya sendiri pun saya mau. Soalnya, setelah saya ngalamin ini, saya jadi tau, kalo yang paling saya butuhin biar saya hidup nyaman ya emang cuma orang pengertian."


"Neng ...."


"Sebenernya," Gista tertawa malu sambil menggaruk belakang kepalanya, "saya pengen banget jadi orang spesialnya Endra sekarang juga. Tapi mau gimana lagi. Saya begini, jadi enggak mungkin juga—kamu kenapa?"


Baru Gista sadar ekspresi Zaka terlihat aneh.


Pria itu menepuk dahinya tiba-tiba. "Neng, jangan suka muji dia kayak malaikat begitu, deh. Eneng belum liat busuknya. Lagian, Neng—"


Badan Gista menegang waktu Zaka menunjuk ke belakang tembok Gista duduk.


"—kepalanya jadi makin besar tuh Eneng puji-puji."


Gista menoleh horor. Menahan napas karena Endra ternyata berdiri di sana, tengah berusaha tidak tertawa dengan muka memerah.


"KOK KAMU ENGGAK BILANG?!"


"Habisnya Eneng keasikan ngomong."


"Ya tapikan!"


Endra datang, berjongkok di depan Gista. Spontan saja Gista membuang muka. Sulit menatap Endra setelah ia mengatakan semua hal memalukan itu langsung di depan orangnya!


Kenapa sih?!


"Enggak sabar jadi istri saya yah, Teh?"


Gista rasanya mau bilang 'Tuhan, tolong jemput saya' karena ia benar-benar mau lari dari hadapan Endra sekarang!

__ADS_1


*


__ADS_2