Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
29. Makanya Jangan Baper


__ADS_3

Mustahil bagi Gista menahan rasa malunya karena perkataan itu. Susah-susah ia mengendalikan diri, kenapa Endra malah seperti mau menjebaknya?


Tapi, susah juga buat marah pada Endra.


Gista cuma bisa menoleh salah tingkah. "Kaus kamu?"


Dan ternyata dia juga. Endra mengusap-usap belakang kepalanya sendiri, kentara sedang canggung, melirik ke sembarang arah tanpa alasan jelas.


"Ya soalnya sayang aja Teh beli kaos padahal cuma buat orang," jawab Endra, berusaha santai.


Padahal dia tidak perlu berusaha santai, soalnya Gista juga sedang tidak santai.


"Atau kalau keluar Teteh pake jaket besar biar enggak keliatan. Di rumah Teteh bebas-bebas aja. Soalnya enggak bakal ada yang komentarin."


Pipi Gista panas. Napasnya berembus berat karena gugup. Tapi ia tak mau sampai terlalu jelas salah tingkah, jadi bergegas Gista berdehem.


Membuang muka. "Yaudah."


Endra juga berdehem dua kali sebelum kembali bertingkah biasa saja. "Tapi ngomong-ngomong, Teteh punya baju kondangan? Bukan kebaya, maksud saya, dress semi formal gitu, ada?"


"Saya cuma bawa kaos ke sini." Kan Gista sudah bilang. Isi kopernya benar-benar cuma baju santai karena Gista datang ke sini buat istirahat.


Kemeja saja Gista tidak bawa. Karena Gista pikir tidak akan butuh juga.


"Nanti saya pinjemin ke Yura kalau Teteh mau," kata Endra. "Teh Juli kan rada besar yah Teh, kayaknya enggak pas juga sama Teteh. Kalau Yura kayaknya masih pas."

__ADS_1


Gista mengangguk, lagipula tidak mungkin ia kondangan pakai kaus.


*


Kok keceplosan bicara soal badan? Duh, Endra malu luar biasa. Walaupun sudah bisa berusaha terlihat biasa, sebenarnya Endra masih terus kepikiran.


Kalau begini, dirinya jadi terkesan memerhatikan hal tidak senonoh tentang gadis yang ia bantu.


Sejujurnya, Endra kadang-kadang memang memerhatikan Gista dari tubuhnya. Dia mungkin tidak sadar karena sudah terlampau terbiasa.


Pakaiannya yang mencetak dan tipis itu kadang-kadang memperlihatkan terlalu banyak hal. Dari bentuk, ukuran, dan yah beberapa hal lain.


Kalau kata orang, dia pakai baju tapi telanjang.


Ya namanya orang kota. Mereka berpenampilan mengikuti trend serta standar fashion. Mungkin untung saja dia bukan dari Jakarta Selatan, karena baju-baju anak Jaksel malah dibilang baju gembel oleh orang desa.


Menurut Endra, baju Gista biasa saja. Cuma memang masalahnya itu terlalu ketat.


Dia cantik, itu yang Endra kadang-kadang pikirkan kalau melihat Gista dari jauh. Meski wajahnya dirambati kesedihan karena penyakitnya, dia tetap menarik perhatian dengan kecantikan dan penampilan itu.


Maksud Endra, oke, baiklah, tidak ada. Ia berdosa sudah menatapnya dengan mata kasar.


Sambil berusaha menepis pikiran buruk, Endra menyelesaikan pekerjaan dan kembali ke rumah.


Gista belum bisa membantu apa-apa karena kondisinya itu. Endra malah takut dia kehabisan energi tiba-tiba lalu pingsan lagi. Tapi saat baru tiba di depan rumah, handphone Gista tiba-tiba berbunyi.

__ADS_1


Itu secara otomatis menghentikan mereka.


Endra berada di dekatnya jadi tidak sengaja ia melihat nama yang tertera di layar.


Love.


Dia ... punya pacar?


Anehnya, Gista tidak mengangkat panggilan itu.


"Siapa, Teh?" Endra berusaha tidak terlihat tahu.


Gista menggeleng, hanya menurunkan volume suara hingga panggilannya berlangsung namun tidak terdengar.


Jelas dia ada masalah dengan si Love itu makanya tidak mau mengangkat. Endra mau bertanya, masalahnya kalau ia terdengar terlalu ikut campur, dia mungkin akan risi.


Dalam hati Endra kepo, di depan ia cuma terlihat tidak peduli.


Hah. Ada yang punya, yah?


Telat banget taunya, ringis Endra dalam hati.


Mana sudah baper begini, Endra malah baru tahu hal yang penting.


Duh, makanya jangan gampang baper, dasar Endra bodoh.

__ADS_1


*


__ADS_2