Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
92. Berusaha Siap (end of season 1)


__ADS_3

Jarak antara kota tempat tinggal Gista dan rumah sakit yang mereka tuju sebentar tidak sejauh jarak dari kediaman Endra ke rumah sakit, tapi karena mereka berangkat lebih dulu dan sengaja datang pagi-pagi, lebih duluan rombongan Gista tiba di rumah sakit.


Gista bisa duduk, bisa berdiri, bisa berjalan, tidak diinfus dan tidak pula kesakitan hingga tentunya ia tidak diberi perawatan khusus.


Seperti yang lainnya, Gista duduk mengantri bersama sejumlah pasien juga.


Satu-satunya siksaan Gista saat itu adalah bau rumah sakit yang membuatnya sakit kepala.


Gista bahkan harus memasang empat lapis masker agar benar-benar bisa bernapas, itupun dengan sangat sesak.


"Bentar yah, Teh. Saya mau ketemu kenalan saya dulu."


Gista menganggukkan kepala, diam melihat Endra pergi. Sebagai orang yang dikenal dokternya kampung dia tinggal, memang wajar Endra kenal berbagai jenis orang di rumah sakit ini.


Butuh waktu sekitar setengah jam Gista menunggu, sampai pelan-pelan juga ia merasa lemas karena sulit bernapas, baru Endra datang.


"Ayok, Teh. Kita ketemu dokternya langsung."


Gista beranjak, tapi merasa sangat pusing karena aroma di sekitarnya sekaligus pernapasannya yang sesak.


Tubuh Gista oleng. Nyaris saja jatuh jika Endra tak buru-buru menangkapnya.

__ADS_1


"Endra." Napas Gista mendadak sangat sesak. Badannya lemas bukan main, dan kepalanya mulai terasa sangat berat. "Hah, hah, hah."


Suara napas Gista terdengar kasar dan susah payah.


Endra langsung menyadari empat lapis masker itu terlalu ketat memblokir oksigen. Mau tak mau Endra harus melepaskan, walaupun setelahnya Gista seperti tercekik oleh bau disinfektan rumah sakit.


"Izin yah, Teh." Ini sudah kondisi gawat darurat, jadi Endra tak lagi memedulikan sekitarannya, langsung mengangkat Gista di antara lengannya.


Buru-buru Endra bawa Gista ke ruangan yang telah dimintakan oleh kenalannya.


Dua orang suster datang menangani Gista sebagai bentuk pertolongan pertama. Mereka memeriksa dengan teliti, sekaligus memasangkan alat bantu pernapasan dan menyuntikkan cairan infus.


Endra pun sigap meminta agar semua hal yang berbau harum dalam ruangan itu tolong disingkirkan. Baru setelah itu kondisi Gista terlihat lebih baik.


Gista mengangguk lemah. Justru mendadak sakit karena suasana rumah sakit yang seperti memaksanya jadi orang sakit.


Tapi, setidaknya Gista merasa lebih baik saat tangannya menggenggam Endra.


Ada ketakutan dalam diri Gista bertemu dokter sekali lagi. Ia benar-benar sudah tidak mau sebenarnya. Walau begitu, Gista juga sangat ingin sembuh dari penyakit entah apa ini.


"Saya temenin Teteh." Endra mengecup punggung tangan Gista yang tak terpasangi selang infus. "Saya yakin Teteh enggak bakal kenapa-napa. Bulan depan saya sama Teteh bakal nikah, terus bulan delapnnya lagi Teteh hamil, terus sembilan bulan kemudian punya anak."

__ADS_1


Gista mau tak mau tertawa mendengar hal itu.


Bisa-bisanya dia masih berusaha membuat Gista tertawa dengan omongannya yang setengah gombal itu.


Tapi, justru itulah alasan Gista merasa lebih tenang.


Hufh. Semua akan baik-baik saja jadi seharusnya tidak masalah.


"Teteh." Endra tersenyum sekali lagi, menggenggam tangan Gista lebih erat. "Janji sama saya Teteh bakal baik-baik aja, yah? Pokoknya janji sama saya."


Meski terdiam sesaat, Gista mengangguk.


Ia paham berat kata-kata itu. Endra menyuruhnya untuk menerima, apa pun itu nanti, yang dokter akan katakan padanya.


Ya, Gista sudah siap.


Tanpa tahu bahwa, sebenarnya, mungkin Endra-lah yang tidak siap.


*


cerita ini diangkat dari kisah nyata, jadi butuh banyak persiapan mental dan banyak pertimbangan untuk alur ceritanya. di sini Candradimuka izin untuk break sebentar. sejujurnya lagi bimbang antara nulis ulang (karena aku ngerasa ada yang kurang) atau lanjut s2 dengan cerita yang lebih maksimal.

__ADS_1


hiatus dulu sebentar untuk cerita ini, yah 🙏


__ADS_2