
Gista mengambil batal dan memukuli pemuda yang malah sibuk terbahak kencang itu. Gara-gara tawa itu, rasanya Gista mau ganti tubuh agar semua badannya yang merah ini bisa padam.
"Dasar! Dasar! Dasar! Nyebelin!" Gista dengan ganas memukulinya. "Endra nyebelin! Dasar nyebelin! Kamu nyebelin!"
"Hahaha!"
"Jangan malah ketawa!" Gista memukulinya semakin keras, tak bisa menahan diri karena malu luar biasa.
Sialaan! Endra kalau menyebalkan malah benar-benar sulit diprediksi! Dia terus mengungkit hal yang bikin Gista mau hilang akal saking malunya.
Kenapa Gista harus melakukan itu, sih?! Dan kenapa dia terus mengungkit-ungkitnya?!!
"Aduh aduh, Teh. Meni radikal pisan. Masa habis diPELUK dipukul-pukul. Kan harusnya DIPE—"
"ENDRAAAAAA!" jerit Gista membahana.
"Waduh, urang datang di waktu tidak tepat." Tiba-tiba, suara lain itu menginterupsi.
Gista terkesiap. Tambah malu dan tengsin waktu Zaka masuk ke kamarnya, menyaksikan ia memukuli Endra seperti ... ugh, seperti itulah intinya.
Sekarang orang itu malah melihatnya dengan mata yang semakin bikin malu. Seolah-olah dia yakin ada sesuatu yang SESUATU.
"Kapan resminya ini, Ndra? Nyusul dong habis nikahannya Puput nanti."
"Doain, Kang." Endra malah menjawab asal, tak lupa mengedip iseng pada Gista.
"Enggak usah ngaco!" Padahal jantung Gista berdebar.
__ADS_1
Dua pemuda itu terkekeh usil. Sangat amat menikmati wajah sebal Gista.
Untungnya mereka menyudahi di sana. Kalau tidak, Gista kayaknya sudah gosong karena ulah mereka.
Setelah semua reda, Zaka mengulurkan kantong plastik ke atas kasur Gista duduk.
"Eh, ini saya dikasih semangka tadi, Neng. Katanya buat Neng Gista."
"Hah?"
"Mungkin buah-buahan buat es buah nanti kali." Endra membuka tupperware yang dibawa Zaki. "Mau cobain, Teh? Ini semangka ditanem di sini langsung, jadi fresh banget ini pasti, paling baru dipetik kemarin subuh."
Meskipun bingung, Gista mengambil sepotong semangka itu. "Kok saya dikasih semangka?" tanyanya heran, karena tidak merasa pernah pesan semangka.
"Maunya dikasih apa, Neng? Seperangkat alat solat dan emas permata?" goda Zaka usil.
Dan senyumnya Endra itu bukan sekadar senyum biasa. Dia tersenyum-senyum menyebalkan seolah dia bilang 'iya kayaknya, Kang, maunya dikasih seperangkat alat solat aja' sambil menertawakan Gista.
Gista bukan perempuan yang gampang digombali, karena jenis-jenis manusia berbatang dengan mulut manis itu banyak bertebaran di pinggir jalan kota.
Namun sepertinya keberadaan Endra sudah membikin dirinya out of character. Masa begitu saja Gista sudah baper?
Buat mengalihkan diri, Gista bergegas makan. Semangka itu dibawa ke mulutnya. Dan seperti yang selalu saja terjadi, Gista memuntahkan semua itu.
"Enggak enak juga yah, Teh?"
Gista buru-buru beranjak karena rasa semangka itu seburuk rasa nasi. Ia memuntahkan isi perutnya di wastafel, berulang kali membiarkan perutnya berkontraksi sampai kemudian terduduk lemas sendiri.
__ADS_1
Apa sih yang dirinya pikirkan? Baper karena laki-laki ketika ia sendiri bahkan tidak bisa makan.
Gista mengacak rambutnya. Hanya bisa merasa kesal pada diri sendiri.
Jangan baper. Demi Tuhan, jangan baper.
Dirinya sekarang tidak normal. Lagipula mana mungkin Endra mau dengan perempuan yang menderita penyakit entah apa ini?
Bagaimana kalau penyakit ini suatu saat menurun ke anaknya? Mustahil dia mau punya anak penyakitan dari perempuan sakit.
"Teh Gista?"
Perasaan Gista yang tadi membaik jadi buruk. Tapi setidaknya belum seburuk malam kemarin. "Enggak pa-pa, Kok. Udah biasa."
Endra malah terlihat bersalah. "Lain kali enggak saya paksa-paksa lagi, Teh."
"Enggak pa-pa." Gista merasa harus tersenyum pada dokternya ini. "Kan kata kamu harus dirangsang terus. Enggak pa-pa, kok."
Memang sih rasanya sangat sedih dan frustrasi tiap kali ia makan setelah itu ia muntah. Namun Endra selalu sabar, tidak pernah mengeluh, dan tidak pernah berkata 'aneh' meski nyatanya Gista aneh.
Rasanya itu sudah jadi hiburan yang cukup. Gista merasa lebih baik bahkan jika Endra cuma diam, karena setidaknya dia tidak menekan mental Gista.
"Makasih yah, Endra." Gista tersenyum tulus untuk pertama kali justru sesat setelah muntah. "Kamu baik banget."
Gista tidak menyadari kalau Endra berdiri kaku, dengan jantung berdebar keras.
*
__ADS_1