
Setelah Endra mengembalikan anak bayi Teh Gina ke ayunannya lagi, mereka masih duduk di sana mengobrol.
Endra sendirian laki-laki di sana, tapi dia tetap duduk sebab Gista juga masih berada di sana.
Hawa panas di sekitar mereka karena teriknya matahari membuat keringat Gista perlahan bercucuran.
Mungkin karena Gista yang tidak terbiasa, sebab orang-orang di sekitarnya masih tampak baik-baik saja. Gista juga sebenarnya tidak masalah sedikit berkeringat, tapi yang membuat Gista gelisah itu karena bau keringatnya sendiri.
Itu bukan bau keringat yang biasa tercium setelah beraktivitas seharian di luar. Itu sesuatu yang berbeda dan hanya Gista yang bisa menciumnya demikian.
Makanya Gista diam.
Niatnya diam, tapi Endra ternyata memerhatikan.
"Teteh kepanasan?" Endra mengulurkan tangan, menyeka keringat Gista tanpa sungkan.
Bahkan Gista sendiri heran kenapa Endra terlalu memamerkan kedekatan mereka di depan orang-orang begini.
Tapi karena dia bertanya, Gista pun mengangguk.
Diam-diam, Teh Gina berbisik pada Juli, menyuarakan keheranannya.
"Perhatian banget kayaknya."
Satu kampung ini sudah pada kenal siapa Endra. Pemuda baik-baik yang walau dia berhenti menempuh pendidikan kedokteran di kota, dia tetap kaya karena punya perkebunan besar yang sukses.
__ADS_1
Bahkan Endra masuk jajaran orang paling kaya di kampung, kalau semua penghasilannya dari berkebun itu dihitung.
Orang-orang sudah pada hafal celetukan bahwa Endra akan menikahi Yura, sepupunya sekaligus kembang desa mereka.
Memang terdengar rumor kalau Endra dan Gista sebenarnya sudah pacaran sejak Endra kuliah, tapi sebagian besar orang masih yakin Yura akan jadi pengantin Endra.
Tapi melihat ini, ibu-ibu desa mau tak mau jadi percaya.
"Saya anter cuci muka aja, Teh. Kalo ganggu banget baunya kita keringin dulu. Nanti habis kena air bakal lebih seger."
Endra sangat perhatian memegang tangan Gista berdiri, lalu pamit membawa dia masuk buat cuci muka.
Tentu bagi sebagian orang yang tidak paham keringat Gista bau bagi pemiliknya, jadi menganggap Endra berlebihan.
"Emang Endra begitu, Teh. Di rumah aja yah kita enggak pake mesin cuci, soalnya AC kamar Gista nyala dua puluh empat jam. Enggak dibolehin sama Endra mati."
"Karena sakitnya itu?"
"Iya, sih."
"Sakit apa sih?"
"Enggak tau Teh sakit apa. Cuma," Juli merenung mengingat apa yang bisa dijelaskan, "kalo aku numis itu bisa muntah-muntah sampe nangis. Nasi aja enggak bisa dimakan."
Ketika Gista sedang cuci muka di dalam, teras penuh dengan suara yang membicarakannya.
__ADS_1
Beberapa orang masih curiga dia sebenarnya hamil dan Endra masih menyembunyikan itu, tapi beberapa juga merasa itu mustahil.
Kalau benar Gista hamil anak Endra, masih lebih mending Endra yang ke kota daripada Gista datang ke kampung.
Sebab berbeda dari di kota yang orang-orangnya tidak pedulian satu sama lain, orang desa suka ikut campur urusan orang.
Jika Gista hamil diluar nikah, apalagi anak Endra, satu kampung yang akan berisik.
Lagipula, kalau Gista sungguhan hamil, apa kabar janinnya yang cuma diberi limau kecut dan belimbing tumbuk tiap hari?
Sebagai teman Gista, Juli menyangkal apa adanya.
Sementara di dalam sana, Gista yang masuk ke kamar mandi langsung muntah-muntah.
"Teteh nahan yah dari tadi?" Endra memijat-mijat tengkuk Gista sambil memegangi rambutnya agar tidak mengganggu. "Apanya yang bau, Teh?"
Gista menjawab sambil menahan napas. "Enggak tau."
Tatapan Endra langsung mengarah ke sekitar. Mencari sumber dari bau itu yang ternyata adalah di sudut kamar mandi.
Ada pengharum ruangan gantung di sana.
"Teteh buruan cuci muka baru keluar. Ayok."
*
__ADS_1