
"Saya enggak tau." Itu jawaban Endra.
Tapi Ashar tidak mungkin percaya kalau dia sudah memberikan banyak hal dan ternyata jawabannya malah tidak tahu.
Mustahil tidak tahu. Dia bukan anak kecil yang tidak tahu menahu tentang apa yang dia lakukan.
"Mungkin karena kasian," jawab Endra lagi, bahkan sebelum Ashar bertanya ulang. "Waktu Teteh pertama banget dateng, Teteh udah keliatan mau bunuh diri. Saya inget dia jawab pertanyaan saya pake emosi. Saya nanya sebagai penolong, tapi dia ngeliat saya kayak saya udah bikin dia frustrasi."
"Kamu kasian karena dia emosi sama kamu?"
Endra menutup buku di tangannya dan menatap Ashar dari balik kacamata. "Mohon maaf kalau omongan saya mungkin rada sombong, Kang. Saya bukan dokter, karena saya enggak sempet bisa nyelesaiin pendidikan buat jadi dokter. Tapi kalau soal mentalitas, saya ngelatih diri sama banyak pelajaran yang menurut saya penting."
"Di otak saya, kalau saya ngeliat ada emosi, berarti ada masalah. Dan kalau ada masalah berarti ada yang mesti dipecahin. Waktu Teteh saya tanya baik-baik dia kenapa Teteh balesnya marah, ya saya enggak punya waktu buat mikir dia enggak sopan atau enggak tau terima kasih. Yang lebih penting buat saya, apa yang bikin dia emosi?"
Ashar terdiam.
"Akang mungkin kemarin pacarnya Teteh dan waktu saya tau, saya beneran enggak ada niatan buat ngerebut Teteh dari Akang. Teteh yang mutusin buat sama saya, jadi sekarang Teteh punya saya."
__ADS_1
Endra mengambil semua buku-bukunya dan mulai berjalan ke kamar. "Sekali lagi, bukan karena saya mau ngajak berantem, tapi Teteh sekarang butuh saya bukan Akang. Jadi kalau bisa jangan diganggu lagi."
".... Gimana kalau nanti Gista sembuh, dia enggak butuh kamu lagi?"
"Satu kebutuhan ke kebutuhan lain, itu manusia, Kang. Jadi tenang aja."
Yang bisa diartikan, kalau nanti Gista sembuh, Gista tetap akan membutuhkan Endra untuk hal lain lagi.
Kepercayaan diri dan ketenangan dia Ashar akui memang melebihi Ashar. Padahal awalnya Ashar agak memandang rendah dia, karena dia orang desa.
Pantas saja Gista menyukainya.
Biarpun begitu, bukan berarti Ashar mengaku kalah. Ia cuma menerima bagaimana Endra mau bersaing secara sehat, tanpa keributan ataupun hal yang mengganggu mental Gista sebagai pasien.
"Aku denger dari Juli, Gasendra sering ngajak kamu jalan. Kalo diingat-ingat kamu emang suka pemandangan alam, kan? Gimana kalau kita ke depan buat—"
"Kalo enggak ada Endra, biasanya bakal banyak bangat asap. Aku enggak bisa napas kalau ada asap."
__ADS_1
Gista melangkah masuk ke kamar Endra sekaligus menolak usaha Ashar itu. "Sori, Ashar, aku nemenin Endra aja. Kamu mending istirahat."
Mungkin itu terbilang kejam, tapi jika disuruh memilih antara kasihan pada Ashar atau peduli pada Endra, Gista akan memilih Endra.
Jadi Gista menutup pintu, mendekati tempat Endra duduk dengan sejumlah buku tebal memuakkan di mejanya.
Ada coret-coretan di salah satu catatan terbuka dekat tangan Endra. Gista membacanya walau agak sulit. Semua itu hanya bertuliskan bahasa kedokteran dan penjelasan singkat yang berhubungan dengan saraf.
Perasaan Gista jadi agak buruk melihatnya.
Tentu, ia terharu karena Endra berusaha. Tapi, bukankah itu berarti Gista menyusahkan dia? Orang-orang sering muak ketika mereka kesusahan akan keberadaan seseorang lainnya, kan?
Gimana kalau Endra capek? Terlalu capek sampe enggak mau lagi peduli sama aku?
*
tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊
__ADS_1