
Rencana pulang Gista buat ke dokter pun terlupakan sudah. Ashar juga tidak menyinggung apa pun ke Gista dan lebih banyak menghabiskan waktu ikut dengan A Zaka bekerja.
Kayaknya Ashar mukai akrab dengan beberapa orang desa dan Gista tidak heran sebab kemampuan bergaul Ashar itu sudah terjamin.
Hari Minggu pun datang. Hari di mana Juli tidak punya kegiatan apa-apa karena sekolah tempatnya mengajar libur.
Setelah dia makan bersama seluruh penghuni rumah kecuali Gista—karena setiap kali orang masak, Gista harus sembunyi di kamar—Juli tiba-tiba menyeletuk.
"Sen, ke kebun yuk. Katanya hari ini mamanya Teh Gina syukuran, kan?"
Gista tidak paham kenapa orang harus ke kebun jika syukuran, tapi ternyata maksudnya keluarga Teh Gina baru akan memulai menanam di kebunnya, jadi memanggil orang buat makan-makan sekaligus menanam benih.
Waktu mendengar makan-makan, Gista tidak tertarik. Tapi ternyata Endra mau.
"Hayuk, Teh. Ketemu Adek Bayi lagi, mau?"
Ditawari ketemu anak bayi, Gista ikut.
Tadinya mereka mau naik motor, tapi ternyata A Zaka memakai motornya Juli hingga mereka harus berjalan.
Sebelum mereka pergi, Endra masuk buat mengambilkan Gista sejumlah jeruk keprok.
"Endra, buat apa?"
"Teteh kan enggak makan karbo, jadi cadangan energinya dikit." Endra memasukkan jeruk itu ke dalam tas kecil yang dia bawa bersama botol air mineralnya Gista. "Kalau Teteh lemes langsung masukin gula lagi, kalo enggak nanti Teteh drop."
__ADS_1
Gista mengerjap, tak menyangka Endra bakal memikirkan itu.
Tapi sejurus kemudian Gista tersenyum. Oiyayah, Endra kan anak kedokteran.
"Hadeh, aku mah meringis liat kalian." Juli geleng-geleng di depan mereka, memilih berjalan duluan. "Pantes aja A Zaka setres."
"Hah?"
Endra terkekeh, tapi tidak menjelaskan kenapa pada Gista.
Daripada itu, Endra meraih tangan Gista, tanpa izin menggenggamnya.
Jelas saja Gista menoleh. Bertanya dari tatapannya kenapa mereka harus gandengan tangan.
Bukan apa-apa, tapi bukannya yang seperti ini kelihatan menyebalkan di mata orang-orang desa? Maksud Gista, seperti ... itu tidak pantas atau sejenisnya.
Alesan, guman Gista dalam hati.
Tapi ya jelas tidak menolak. Malah Gista mengeratkannya, agar tidak lepas dari pegangan Endra.
Mereka berjalan nyaris tanpa suara. Lebih menyerahkan pada alam bagaimana suara-suara angin juga burung mewarnainya.
Sebelum keheningan itu dihentikan oleh Juli di depan mereka.
"Ohiya, Gis, kamu teh enggak dicariin sama keluargamu? Kamu kan enggak jadi pulang kemarin."
__ADS_1
Endra langsung mengintip ekspresi Gista.
Terakhir kali membahas keluarga, Gista terlihat sangat terbebani akan sesuatu. Makanya Endra kadang ragu-ragu sekalipun mau bertanya mengenai hal itu.
"Enggak. Aku enggak bilang sama Ibu," jawab Gista pada Juli.
Mereka memang sudah lebih dekat dan satu sama lain setuju menggunakan bahasa santai.
"Lagian aku emang dari dulu tinggal sendiri. Jadi sebenernya pulang enggak pulang ya sama aja."
Endra memutuskan menyimak saja. Biasanya jika perempuan saling mengobrol, tanpa sadar bakal bocor rahasia.
Jadi jangan diganggu. Cukup dengarkan.
"Terus keluarga kamu ceritanya enggak tau kamu sakit?"
Gista sempat diam akan pertanyaan itu. Bahkan diamnya membuat Endra agak khawatir, takut Gista merasa tertekan.
Tapi Gista tersenyum pada Endra seolah berkata dia baik-baik saja.
"Tau. Ibu Ayah tau. Cuma ...," Gista menggenggam erat tangan Endra. "..., enggak ada yang tau aku harus digimanain biar sembuh."
*
note: menjelang lebaran, update agak ngaret ya 🙏🙏
__ADS_1
Tinggalin like kalian sebagai dukungan buat author 😊