
"Hati-hati yah, kalian." Juli mengucapkan salam terakhir sebelum mundur, memberi ruang bagi mobil itu keluar dari halaman rumah Endra. "Telfon-telfon, Gis, jangan lupa."
Gista melambaikan tangan meskipun dalam hati merasa norak melakukannya.
Tapi Gista dengan tulus merasa sedih karena hari-hari di rumah ini akan berakhir. Entah seperti apa kedepannya mereka, pasti akan butuh waktu sangat lama sebelum Gista bisa kembali lagi ke kediaman Endra.
Gista merasa sedih hanya memikirkannya.
"Teteh enggak mau minum obat aja?" Endra memperbaiki bantal lembut yang sengaja dibawa untuk Gista sebagai pasien. "Takutnya nanti Teteh muntah-muntah."
Gista menggeleng. "Aku enggak mabuk darat."
Kalau soal naik mobil jauh, Gista sudah sangat terbiasa. Sudah jadi rahasia umum kan perkotaan akan selalu akrab dengan kendaraan. Sejak kecil Gista bolak-balik sekolah naik angkutan umum, bus, dan kendaraan apa pun yang bisa dipakai.
Di kota pun setiap kali bepergian dengan Ashar, Gista lebih sering naik mobil daripada motor, jadi Gista tidak ingat pernah mabuk darat.
"Tapi nanti pas masuk protokol bakal banyak bau, Gis." Dari kursi depan, Ashar menyahut. "Mending kamu minum obat terus tidur. Perjalanan juga lama sampe ke rumah sakit."
Gista tetap menggeleng, sebab ia tak enak malah tidur nyaman sendirian sementara tiga penumpang lain terjaga. Mobil memang sangat lenggang, tapi tetap saja.
__ADS_1
"Yaudah, Teteh baring aja di sini kalo ngantuk." Endra memastikan posisi bantal Gista sudah sangat nyaman lalu mendorong Gista bersandar santai. "Teteh tutup mata."
"Halah, kamu tuh, Gasen, Gasen." A Zaka berdecak sebal. "Neng Gista juga bukannya anak bayi. Tidur juga kalo mau tidur. Iya kan, Neng?"
Gista terkekeh kecil. Tapi Endra langsung membela diri dengan berkata, "Pacar romantis saya mah. Makanya laku."
"Kunyit di pasar juga laku enggak perlu romantis."
"Halah, udah." Endra pura-pura membuang muka, lalu menatap Gista penuh perhatian. "Gausah dengerin yang lain yah, Teh? Teteh sukanya suara saya aja, kan?"
"Serah kamu, deh." Gista malas ikut-ikutan perdebatan tidak penting itu.
Jalanan keluar dari desa menggunakan mobil memang luar biasa tidak enak. Gista bahkan baru sadar itu karena cuma pernah melewati ini saat naik motor dengan Endra.
Waktu akhirnya mobil memasuki jalan protokol, perasaan Gista baru mulai tidak enak. Bukan karena mabuk kendaraan, melainkan karena ia terus berpikir kalau sebentar lagi akan bertemu orang tuanya.
Karena Endra duduk di sebelah Gista, dia menyadari kegelisahan Gista itu.
"Teteh kenapa?"
__ADS_1
Endra bertanya dengan suara berbisik. Tangannya menyelip di belakang punggung Gista buat memeluknya, agar lebih mudah mendekap Gista sambil dia menunduk.
Bahu Endra di depannya langsung jadi sandaran kening Gista.
"Takut," bisiknya lebih pelan. "Saya takut ketemu Ayah."
Tangan Endra di pinggangnya langsung naik menepuk-nepuk punggung Gista.
"Takut, yah?" Endra bergumam, menenangkan Gista dengan suaranya yang penuh kasih sayang. "Teteh coba tutup mata. Katanya kalo kita takut terus ngantuk, takutnya berkurang."
Gista malah lebih dulu tersenyum karena perkataan Endra.
"Nanti ngomong apa sama Ayah sama Ibu?" tanya Gista sekaligus mengalihkan pembicaraan. Tentu, ia masih betah dalam posisi pinggangnya dirangkul, dan wajahnya terbenam di leher Endra.
Walau Endra berkeringat, Gista tidak terlalu peduli.
"Ngomong apa?" balas Endra, makin terdengar manis dan halus. "Soal Teteh pacar saya? Atau mau langsung bilang calon istri?"
Bibir Gista saling menekan. Tapi ia cuma mencubit kecil perut Endra tanpa menolak apa pun yang dia katakan.
__ADS_1
*