Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
20. Aa Sunda Bikin Candu


__ADS_3

Gista berusaha tidak memperlihatkan rasa putus asa ketika menyendok air sup. Ia masukkan ke mulutnya, ditelan namun bergegas mengambil buah jeruk untuk menghilangkan rasa amis di lidahnya.


"Enggak bisa yah, Teh?" Endra menghela napas.


Rasanya dia juga ikut putus asa.


Gista luar biasa takut kalau Endra juga mengatakan ia beban dan tidak normal.


"Enggak usah kasih saya makan." Jadi ia akan berusaha tidak memebabani. "Jeruk aja cukup kok. Yang lain enggak usah. Makasih."


"Coba-coba kan enggak pa-pa, Teh," balas Endra sabar. "Kalau enggak coba mana kita tau kan ternyata Teteh makan belimbing juga."


Iya, belimbing kecil super kecut yang ditambah garam dan cabe rawit, di mana A Zaka dan Juli diam-diam heran bagaimana ia bisa makan sesuatu seperti itu.


Cuma itu yang bisa Gista telan setelah jeruk dan seduhan rempah-rempah.


"Enggak usah terlalu peduli sama saya, Endra."


Gista masih bisa merasakan sisa-sisa sup menjijikan itu di mulutnya, tapi ia berusaha tidak memperlihatnya. Memilih fokus pada hal yang menurutnya mesti dibahas.


"Saya tau kamu baik. Saya juga tau kamu mau saya enggak hopeless. Tapi ... enggak usah. Saya begini aja enggak pa-pa."


"Teh—"

__ADS_1


"Jangan sampe saya jadi manja sama kamu, berharap kamu terus bantuin saya yang begini. Saya enggak sepantes itu kamu tolongin terus."


"...."


"Saya sendirian aja enggak pa—"


Omongan Gista berhenti karena Endra tiba-tiba tersenyum menahan tawa.


Apa? Apanya yang lucu? Gista bahkan mau menangis karena ucapannya sendiri dan dia malah ketawa?


"Endra?"


Pemuda itu benar-benar tertawa sekarang. "Ya habisnya, Teteh ngomong A padahal kenyataannya B."


"Hah?"


Ap ... hah?


Gista melongo melihat pemuda manis itu meletakkan supnya di atas meja, lalu menatap Gista seolah ada sesuatu yang sangat dia nikmati di sana.


"Susahin aja, Teh."


"Apa?"

__ADS_1


"Iya. Susahin saya aja, enggak pa-pa. Teteh mau saya jungkir balik juga saya jungkir balik. Tapi kalau bisa sih jangan yah soalnya saya enggak pernah nyoba. Saya kan anak kedokteran yah, Teh. Jarang olahraga saya mah. Soalnya waktu saya diabisin sama ngafal. Kalo jungkir balik, takutnya saya encok."


Kenapa dia malah membahas jungkir balik?


"Tapi kalo yah, Teteh ngerasa mau banget saya jungkir balik ya yaudah. Kalo bisa bikin senyum Teteh mah saya jungkir balik. Atau teteh mau saya jalan pake tangan? Ya itu sih impossible buat saya, Teh, cuma kalo menghibur sih yah saya coba dulu. Teteh bilang aja, Teh. Silakan."


Buset, orang ini harus Gista sebut apa? Baik atau gob—tidak, hideung yah bahasa Sunda-nya?


"Endra, saya enggak becanda—"


"Saya enggak suka liat Teteh nangis."


Ketika mengucapkan itu, Endra diam-diam terlihat sendu. Seolah mengenang sesuatu yang membuat dia merana.


"Saya enggak suka kalau Teteh ngurung diri karena capek. Apalagi kalo Teteh nangis kayak kemarin. Apalagi kalo Teteh sampe ngomong mau bunuh diri. Iya, saya tau saya enggak paham kondisi Teteh. Teteh sakit apa sih sebenernya saya enggak tau."


Jantung Gista mencelos rasanya.


Apalagi waktu Endra senyum.


"Tapi yang saya tau, saya enggak bisa biarin. Jadi kalau Teteh ngerasa saya susah, yaudah susahin aja. Teteh mau apa, Teteh butuh apa, bilang aja sama saya. Mau saya direpotin kok, Teh.. Saya yang bilang. Enggak masalah lagi, kan?"


Masalah.

__ADS_1


Masalah karena kalau dia begini terus, Gista jadi candu. Kalau Gista sudah candu, dia mau tanggung jawab?


*


__ADS_2