Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
87. Tak Mau Sakit Mental


__ADS_3

Senyum Gista seketika hilang.


"Eh?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya karena terkejut.


Maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba Endra membahas rumah sakit?


Tunggu, jangan bilang dia sudah tidak kuat bersabar menghadapi keluhan Gista?


Tapi kalau dipikir-pikir, kenapa Endra harus bersabar? Ayah saja tidak bisa bersabar sampai berkata bahwa Gista menjadi gila. Apalagi Endra yang notabene adalah orang asing.


Memang seharusnya dia tidak perlu bersabar.


Tapi ... tapi kalau Endra juga sudah tidak bisa bersabar maka ....


"Teteh." Endra buru-buru menarik Gista dari jurang keputusasaan yang nyaris menelannya dalam hitungan detik.


Jari telunjuk dan jari manis Endra menekan lembut jugularis Gista, titik nadi di lehernya yang memberitahu peningkatan denyut nadi gadis itu.


"Saya jelasin dulu kenapa. Teteh tenang, yah." Endra berhati-hati mengelus tangan Gista, agar dia tak merasa stres. "Maksud saya, kita ke rumah sakit periksa. Saya anter Teteh ke rumah sakit, buat rontgen."


Gista merasa tenang karena Endra mengusap-usap tangannya sayang, tapi perkataan dia tetap membuat Gista gelisah.


"Kamu bilang di sini aja." Gista bergumam gugup. "Kamu yang ngelarang saya pulang kemarin. Kok sekarang?"

__ADS_1


Demi Tuhan, Gista takut kalah sedikit saja Endra merasa muak padanya.


Jangan.


Tolong jangan.


Mungkin Gista akan terlihat sangat payah, menjadi benalu dan parasit di hidup Endra tapi tolong jangan.


Jangan dia yang muak pada Gista.


Setelah semua yang dia lakukan, tolong jangan lelah. Bahkan kalau Gista melelahkan.


"Ka-kalau kamu marah saya muntah kemarin, saya enggak bakal gitu lagi."


Gista buru-buru mengemis dan tak peduli ia sekarang tampak menyedihkan.


"Sshhhh." Endra menutup mulut Gista dan langsung memeluknya lagi. "Teteh kenapa jadi panik gini? Kesannya saya jadi selingkuh."


Gista tak bisa tertawa. Malah ia memeluk Endra kuat-kuat, tak peduli bahwa tenaganya lemah.


"Maksud saya tuh bukan marah. Saya enggak ngusir Teteh." Endra berbisik lembut agar Gista berhenti merasa ketakutan. "Saya sama A Zaka temenin Teteh ke rumah sakit. Kita ketemu dokter sama-sama."


"...."

__ADS_1


"Saya kemarin emang bilang enggak usah, tapi ini udah diluar tanggungan saya. Kalau Teteh kenapa-napa, saya yang bakal nangis kenceng. Masa saya biarin Teteh kenapa-napa? Jadi ayo ke rumah sakit."


Gista menggeleng kuat-kuat. "Enggak mau," tolaknya, nyaris merengek malah. "Saya cuma mau kamu. Enggak mau."


"Iya, Teteh Sayang. Ada Endra nemenin Teteh. Si Endra tuh enggak idup kalo enggak sama Teteh mah. Mustahil."


Endra membujuknya halus dan penuh kesabaran. "Ayok yah, Teh? Ke rumah sakit, yah?"


Gista tetap menggeleng. Tetap menenggelamkan wajahnya di bahu Endra sambil terus menolak.


Tidak mau.


Siapa yang mau melepaskan pelukan nyaman untuk pergi ke neraka?


Tidak mau.


"Enggak usah sembuh," ucap Gista tanpa berpikir lagi, sebab ia telah melihat sesuatu yang baginya jauh lebih penting. "Enggak usah sembuh enggak pa-pa. Asal sama kamu enggak pa-pa."


Kalau Endra kesusahan, mulai sekarang Gista bersumpah tidak akan mengeluh.


Ia akan hidup dengan penciumannya yang seperti ini, lidahnya yang seperti ini, tidak bisa makan nasi lagi, tidak bisa makan ikan lagi, tidak bisa makan sayur lagi, tidak bisa makan makanan enak lagi—asal ada Endra.


Sakit fisik tidak ada bobotnya dibandingkan sakit mental.

__ADS_1


Gista tidak mau sakit mental jadi biar saja fisiknya sakit.


*


__ADS_2