Teteh Kesayangan Aa Dokter

Teteh Kesayangan Aa Dokter
60. Berasa Pelakor


__ADS_3

Gista melotot kaget begitu terbangun, ia malah sudah berbaring di kasurnya Endra, memakai selimut tapi ditemani kipas angin.


Pemuda itu sudah hilang entah ke mana, tidak meninggalkan pesan melainkan kamar yang rapi dan buku-buku tersusun sempurna.


Akh, dasar Gista bodoh!


Kalau begini terus malah kelihatan dirinya pemalas yang bahkan bangun lebih terlambat daripada kambing!


Gista harus menyusul. Ia harus makan lalu menyusul Endra, karena seharusnya Gista juga bekerja membantu dia di perkebunan.


Dia bilang begitu di awal, tapi sedikitpun tidak pernah memanggil Gista. Dia tidak membiarkan Gista melakukan apa-apa malah.


"Juli, Endra lagi ke kebun, kan? Tadi dia bilang ap—"


Ucapan Gista terhenti karena yang berkutat di kulkas ternyata bukan Juli. Gadis berambut panjang itu ternyata Yura, tampak sedang memasukkan sesuatu entah apa ke dalam sana.


"Halo, Teh." Dia menyapa Gista canggung. "Teteh Juli jam segini masih di sekolah, Teh. Terus, kalo A Gasen ada di kebun. Hari ini ada tamu dari kota."


Gista mengerjap, ikut canggung tiba-tiba. "Gitu, yah."


Duh, Gista tidak pernah bisa lupa setiap kali ia bertemu Yura. Fakta kalau gadis ini dijodohkan dengan Endra membuat Gista sering merasa ia adalah pelakor.


Apalagi ditambah fakta Yura menyukai Endra.


"Ohiya, Teh. Saya disuruh Mamah bawain puding ke sini juga. Puding cokelat, Teteh mau coba?"


Gista agak spontan berkata, "Enggak usah."


Niatnya sih bukan menolak karena yang memberi itu cewek yang suka pada Endra, tapi murni karena Gista memang tidak bisa makan.

__ADS_1


Sayangnya, penolakan Gista malah terkesan seperti ia memusuhi Yura.


Duh, demi Tuhan, enggak. Lagian buat aku dia masih anak-anak. Masa aku saingan sama anak-anak?


Gista tidak pernah menganggap Yura saingannya. Yah, walau Gista beberapa kali kelepasan senang kalau Endra tidak memiliki Yura tapi sumpah, Gista menganggap dia anak-anak.


Tidak berdosa. Bahkan di mata Gista, dia masih sepolos anak kecil yang sukanya bermain layang-layang.


"Maaf, Yura. Aku enggak bisa makan puding. Rasanya masih kayak daging. Sumpah, bukan karena apa-apa. Maaf." Gista minta maaf setulus-tulusnya.


Membuat Yura malah jadi lebih canggung lagi. "Ohiya yah, Teh. Saha lupa. Maaf juga."


"Hehe, iya."


Lalu hening.


Gista merasa perutnya malah tiba-tiba sakit. Entah kelaparan atau sedang mulas.


Mungkin seharusnya ia kabur dulu ke atas, biar situasi canggung ini juga segera berakhir.


Tapi, waktu Gista mau beranjak, Yura tiba-tiba memanggilnya.


"Teh Gista."


Tentu saja Gista langsung menjawab, "Iya, Yura?"


Anak polos itu menipiskan bibirnya yang sudah tipis, terlihat sangat manis sebenarnya waktu dia menunduk ragu-ragu. Kayaknya ada yang mau dia katakan tapi sulit.


Dan Gista menyadarinya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu bebas ngomong kalau mau."


Yura tetap ragu-ragu meski dia pun mengatakannya.


"Soal A Gasen ...."


Gista menelan ludah. Kenapa dengan Endra?


"Teteh tau kan kalau A Gasen sama saya udah dijodohin?"


Perasaan Gista tidak enak. Mungkin Gista akan menyesal sudah mengurungkan niat kabur tadi.


"Mungkin buat Teteh ini kedengerannya kayak enggak tau diri, tapi saya udah sayang sama A Gasen."


Gista mematung.


"Saya udah lama suka sama A Gasen. Mungkin dari kecil. Saya tau mungkin buat Teteh saya keliatan enggak berkelas, atau norak, atau mungkin terlalu baperan. Tapi, Teh, saya udah dinyanyiin soal saya sama A Gasen bakal nikah dari lama."


Mata Gista nanar melihat gadis desa itu tampak akan menangis saat dia mengatakannya.


"Mohon maaf banget, Teh, bisa enggak Teteh jangan ngerebut? Saya ngerti Teteh lagi sakit. Saya ngerti banget. Saya cuma ...."


Yura akhirnya menangis juga.


"Saya enggak sanggup kalo A Gasen ninggalin saya, Teh."


*


Tinggalin like kalian sebagai dukungan bagi karya author 😊

__ADS_1


__ADS_2