The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 143. Sumpah Putra Mahkota


__ADS_3

Anastasya telah bisa menebak bahwa Putra Mahkota adalah dalang dari semua rencana penyuapan itu karena Robert tidak akan melakukan apapun tanpa perintah dari Putra Mahkota.


Anastasya mencoba menenangkan Putra Mahkota dengan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja dan Anastasya percaya pada Putra Mahkota. Putra Mahkota yang mendengar hal itu mengangkat wajahnya.


"Ian, aku tau ian pasti sangat sedih karena kehilangan Tuan Robert tapi Ian tidak boleh bersedih. Ian harus memikirkan cara untuk melepaskan Tuan Robert dari tuduhan itu." ucap Anastasya.


"Apakah itu bisa?" tanya Putra Mahkota putus asa.


"Tentu saja. Aku yakin, Ian pasti bisa melakukannya." ucap Anastasya sambil tersenyum.


Putra Mahkota yang mendengar perkataan Anastasya mulai memiliki jiwa kembali. Putra Mahkota mulai percaya bahwa dirinya pasti melepaskan Robert karena dirinya adalah Putra Mahkota sehingga tak akan ada yang bisa menentangnya.


Putra Mahkota yang telah mulai tenang melihat Anastasya. Putra ingat dengan perbuatan Anastasya yang tak menjawab panggilannya dan malah dekat dengan Duke Simons.


"Untuk apa kau kemari? Sebaiknya kau pergi dari sini!" ucap Putra Mahkota marah.


'Kenapa lagi dengan Putra Mahkota bodoh ini? Kenapa dia tiba-tiba marah padaku?' fikir Anastasya.


"Apa maksudnya ini Ian? Kenapa aku harus pergi? Tentu saja aku harus disini. Bagaimana aku bisa meninggalkamu sendiri dalam keadaan seperti ini?" ucap Anastasya mencoba memegang tangan Putra Mahkota.


"Kenapa tidak? Bukankah kau telah memiliki Duke Simons disisimu." ucap Putra Mahkota marah dengan menepis tangan Anstasya.


'Apakah dia cemburu? Aku tidak boleh ketahuan punya perasaan pada Val. Ian harus percaya jika aku hanya mencintainya.' fikir Anastasya.


"Aku tak punya hubungan apapun dengan Tuan Duke. Aku hanya mencintaimu Ian. Aku dekat dengan Tuan Duke karena ingin membuat Ian cemburu karena Ian sudah tidak suka lagi padaku. Ian lebih peduli pada mantan tunangannya daripada aku." ucap Anastasya menangis.


'Jadi, Tasya tak punya perasaan pada Duke Simons dan dia hanya mencintaiku. Dia melakukan semua itu karena ingin membuatku cemburu.' fikir Putra Mahkota.


"Siapa bilang aku tidak suka lagi padamu. Aku masih menyayangimu Tasya tapi aku tak bisa melepaskan Shiena." ucap Putra Mahkota.


"Kenapa? Apakah memilikiku masih kurang?" ucap Anastasya.


"Bukan begitu." ucap Putra Mahkota.


"Lalu apa? Apa aku kurang cantik? Apa kurang sexy? atau aku kurang memuaskan?" tanya Anastasya mendesak.


'Kau sangat cantik dan sexy dan tubuhmu itu membuatku selalu tak bisa jauh darimu tapi aku juga mencintai Shiena lagipula Shiena berasal dari latar belakang yang kuat jika aku menjadikannya wanitaku maka tak akan ada lagi yang bisa menentangku.' fikir Putra Mahkota.


"Kau lebih baik darinya dalm hal apapun bai di segi fisik tapi tidak dengan latar belakang. Aku membutuhkan latar belakangnya untuk memperkuat posisiku." ucap Putra Mahkota.


'Sialan! Bilang saja jika kau ingin memiliki kami berdua. Aku tak sudi berbagi. Aku ingin memilikimu seutuhnya.' ucap Anastasya dalam hati.


"Aku tidak bisa seperti itu Ian. Aku tak ingin cintamu terbagi." ucap Anastasya menangis di.

__ADS_1


Putra Mahkota yang melihat Anastasya menangis menariknya kedalam pelukannya dan mencoba menenangkannya.


"Aku tak membagi cintaku. Cintaku hanya untukmu. Aku hanya membutuhkan kekuatan untuk memperkuat posisiku nanti Tasya. Aku janji, meskipun ada Shiena di sisiku. Posisimu di hatiku tak akan pernah terganti." ucap Putra Mahkota memeluk Anastasya.


"Ian bohong! Bagaimana aku bisa percaya? Kau saja bisa memiliki dua hati." ucap Anastasya menangis.


"Aku tak bohong. Percayalah padaku." ucap Putra Mahkota.


"Tidak! Aku tak bisa berbagi dirimu dengan wanita lain!" ucap Anastasya melepaskan pelukan dari Putra Mahkota lalu berdiri.


"Apa yang harus aku lakukan agar kau percaya?" tanya Putra Mahkota.


"Berjanjilah padaku atas nama Kekaisaran Pearl bahwa meski kau memiliki wanita lain. Kau akan menempatkan aku sebagai Permaisurimu!" ucap Anastasya.


Putra Mahkota yang mendengar permintaan Anastasya pun ikut berdiri dan menggenggam tangan Anastasya. Lalu, Putra Mahkota bersujud dengan satu kaki di lantai dan berjanji akan menepati janjinyanya.


'Tidak masalah jika Tasya menjadi Permaisuriku asalkan aku bisa memiliki keduanya. Aku tak bisa melepaskan Tasya untuk Duke Simons.' fikir Putra Mahkota.


"Aku, Putra Mahkota Kekaisaran Pearl, Brian Shura De Pearl, bersumpah ketika aku naik takhta nanti. Meskipun aku memiliki wanita lain, posisi Permaisuriku hanya akan aku berikan kepada Anastasya Shera Larsca." sumpah Putra Mahkota.


"Ian!" ucap Anastasya terharu.


Setelah mengucapkan sumpah itu, Putra Mahkota pun berdiri dan disambut dengan pelukan hangat dari Anastasya.


"Hmm, Tentu saja." ucap Anastasya sambil tersenyum.


Setelah mendapatkan kepercayaan dari Anastasya, Putra Mahkota pun memeluk Anastasya lalu mencium bibirnya. Anastasya yang senang dengan sumpah Putra Mahkota yang artinya semua keinginannya akan tercapai pun menerima dan menyambut dengan hangat ciuman dari Putra Mahkota.


'Meskipun, Ian berfikir untuk menjadikan Shiena sebagai Ratunya. Aku tak akan membiarkan itu. Ian hanya milikku. Aku akan melakukan berbagai cara agar Ian membencinya lalu membuangnya.' fikir Anastasya.


Putra Mahkota yang tadinya sedih perlahan kembali segar setelah kedatangan Anastasya. Anastasya yang ingat akan tujuannya menemui Putra Mahkota pun memberikan alat sihir perekam miliknya.


"Ian, maafkan aku tapi sepertinya kita punya masalah dengan takhtamu!" ucap Anastasya.


"Apa maksudmu Tasya?" tanya Putra Mahkota bingung.


"Sebelum aku kemari, aku merasa seperti ada yang mengikutiku lalu aku menggunakan alat sihir untuk kabur. Aku tak tau siapa yang mengikutiku tapi aku malah sampai di Tenda rahasia Yang Mulia Kaisar." ucap Anastasya menaikkan kepalanya memastikan ekspresi wajah Putra Mahkota.


"Ada yang mengikutimu. Siapa? Apa kau benar-benar tidak tau siapa?" tanya Putra Mahkota memastikan.


"...." Anastasya menggelengkan kepala.


"Lalu, apa orang itu masih mengikutimu?" tanya Putra Mahkota.

__ADS_1


"Aku tak tau. Meskipun dia masih mengikutiku dan berhasil tau aku disini. Dia tak akan tau apa yang kita bicarakan." ucap Anastasya percaya diri.


"Bagaimana bisa?" tanya Putra Mahkota bingung.


"Aku menggunakan Sihir Cahaya untuk menyegel tempat ini agar tak ada seorangpun yang bisa masuk, melihat atau mendengar percakapan kita." ucap Anastasya.


Putra Mahkota yang mendengar perkataan Anastasya sangat senang lalu memuji kepintaran Anastasya.


"Ah, Ian aku ingin memberi taumu sesuatu." ucap Anastasya manja di dada Putra Mahkota.


"Katakanlah. Aku akan mendengarkan." ucap Putra Mahkota.


"Hmmm, aku tapi kau harus menahan emosimu dan jangan lepas kontrol. Kau harus berfikir dengan jernih setelah mendengar perkataanku." ucap Anastasya.


"Aku janji! katakanlah. Jangan membuatku menjadi penasaran." ucap Putra Mahkota yang mulai kesa.


"Hmmm, baiklah. Ketika aku melarikan diri dan sampai di Tenda Yang Mulia Kaisar. Aku mendengar Kaisar ingin mengeksekusi Tuan Robert lalu menurunkan Ian dari status Putra Mahkota dan mengankat Tuan Muda Alphonso sebagai Putra Mahkota yang baru." ucap Anastasya.


"Tidak mungkin! Kau pasti berbohong!" ucap Putra Mahkota mendorong Anastasya.


"Aku tidk berbohong. Aku serius. Aku punya buktinya." ucap Anastasya percaya diri.


"Berikan buktinya!" ucap Putra Mahkota.


Anastasya pun mengeluarkan alat rekam yang dia simpan di balik gaunnya dan memberikannya kepada Putra Mahkota. Putra Mahkota menerimanya dan mendengarkan rekaman itu dan ternyata isinya mengatakan semua kebenaran yang dikatakan oleh Anastasya.


Putra Mahkota yang tidak terima pun marah dan membanting alat rekam itu ke lantai. Anastasya yang melihat itu mencoba menenangkan dan mengingatkan akan janjinya.


"Ian tenanglah." ucap Anastasya.


"Bagaimana aku bisa tenang? Ayahku sendiri bahkan melakukan hal itu padaku. Aku ini anak kandungnya sendiri." ucap Putra Mahkota yang marah.


"Aku tau jika kau saat ini sangat marah dan tak terima tapi Ian harus ingat janjimu untuk tidak marah-marah seperti ini. Aku yakin semua pasti ada jalan keluarnya." ucap Anastasya meyakinkan.


"Jalan keluar! Apa jalan keluarnya?" ucap Putra Mahkota.


#Bersambung#


Main tebak-tebakan yok..


Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Putra Mahkota ya? Apa jalan keluar yang ada difikiran Anastasya? 🙄😏🤔 Yang tau jawabannya komen di bawah ya.. Jawaban yang bagus dan menarik akan direalisasikan ke cerita selanjutnya.. 😁😍


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁

__ADS_1


Terima kasih.. 🥰😍❤😘


__ADS_2