The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 170. Rencana Penobatan Kaisar Baru


__ADS_3

Putra Mahkota yang telah mempersiapkan segalanya mengambil alih pekerjaan Istana karena kondisi Kaisar yang tidak memungkinkan menjalankan semua kebijakan.


Putra Mahkota yang merupakan penguasa pertama menggantikan Kaisar memulai rencana dengan membuat Surat Keputusan bahwa Robert tidak bersalah sehingga Robert segera dilepaskan dan langsung mendapatkan pertolongan dari dokter dan dibantu dengan Sihir Cahaya sehingga keesokan harinya Robert sudah sehat seperti biasanya.


Robert yang sudah bebas merasa sangat senang karena Putra Mahkota benar-benar menepati janjinya melepaskannya dan bahkan belum sampai satu minggu Robert telah bebas.


Robert yang telah sehat dan segar kembali datang menemui Putra Mahkota. Putra Mahkota yang melihat Robert sudah sehat menjadi sangat senang. Robert pun meminta pekerjaan pada Putra Mahkota dan Putra Mahkota yang merasa Robert sudah tak tahan bekerja memerintahkan Robert memberika pengumuman kepada semua bangsawan untuk memulai Rapat Darurat.


Putra Mahkota memimpin Rapat Darurat dan menggiring opini Bangsawan untuk segera melakukan Pengangkatan Kaisar baru ketika Kaisar saat ini lagipula Dokter telah berkata bahwa kemungkinan hidup Kaisar hanya sepuluh persen.


Semua bangsawan mulai memikirkan untung dan rugi yang akan mereka terima. Sehingga sangat mudah bagi Putra Mahkota membuju para bangsawan untuk membuat semuanya setuju untuk memilih Putra Mahkota sebagai Kaisar yang baru.


Beberapa jam berlalu dan Pemungutan Suara Bangsawan akan sedang dilakukan. Putra Mahkota yang telah membuat suara untuknya telah berhasil mendapatkan suara yang banyak meski hanya berlebih satu orang. Putra Mahkota tak terlalu memperdulikan hal itu karena yang terpenting saat ini dirinya akan segera menjadi Kaisar yang baru.


Putra Mahkota yang telah selesai melakukan Rapat merasa sangat lelah dan pergi menuju kamarnya. Putra Mahkota yang beberapa hari sangat sibuk melupakan Anastasya dan Shiena sehingga setelah semua urusannya satu per satu selesai Putra Mahkota memanggil Robert.


"Hamba menghadap, Yang Mulia." jawab Robert.


"Apakah Anastasya dan Shiena telah berada di Istana?" tanya Putra Mahkota.


"Maafkan hamba yang Mulia, Lady Anastasya dan Lady Shiena saat ini tidak ada di Istana. Mereka berdua tidak berangkat ke Istana." ucap Robert menyesal.


"Apa maksudmu mereka tidak ada disini?" tanya Putra Mahkota memcoba berfikir positif.


"Maafkan saya Yang Mulia. Lady Shiena menolak untuk tinggal di Istana sebagai Ratu dan Lady Anastasya tak bisa kemari karena kondisinya kurang sehat." ucap Robert.


"Apa kau bilang?" teriak Putra Mahkota.


'Shiena! Ternyata kau benar-benar menentangku! Akan aku buat kedua orang tuamu semakin menderita! Aku ingin kau menyesali perbuatanmu dan bersujud lalu memohon padaku!' ucap Putra Mahkota dalam hati.


"Siksa dan Pukul Duke Carrole hingga tak bisa bergerak. Jangan lupa patahkan kakinya. Satu hal lagi, jangan lupa kau rekam semua itu dan kirimkan kepada Shiena!" ucap Putra Mahkota.


"Baik Yang Mulia." ucap Robert patuh.


"Lalu, apa yang terjadi sebenarnya pada Anastasya?" tanya Putra Mahkota.


"Lady Anastasya terjatuh dari kamar mandi sehari sebelum keberangkatan, Yang Mulia." ucap Robert.


"Jatuh? Bagaimana kandungannya?" tanya Putra Mahkota khawatir.


"Kandungan? Maksud Yang Mulia apa?" tanya Robert bingung.

__ADS_1


Putra Mahkota lupa jika Robert baru saja bebas dari Penjara dan tidak mengetahui beberapa hal yang telah terjadi. Putra Mahkota pun menghela nafas dan menjelaskannya secara singkat dan padat.


"Saat ini, Anastasya sedang mengandung anakku karena itu lah aku memintanya ke Istana dan menjadikannya Permaisuri." ucap Putra Mahkota.


"Yang Mulia! Apa anda yakin Lady Anastasya benar-benar mengandung anak anda?" tanya Robert curiga.


"Tentu saja. Apa kau meragukanku?" tanya Putra Mahkota kesal.


"Tentu saja tidak Yang Mulia. Saya hanya bingung bagaimana bisa Lady Anastasya bisa hamil sekarang. Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia." ucap Robert menyesal.


"Tentu saja itu bisa terjadi. Aku telah tidur dengannya beberapa kali. Wajar saja itu mungkin." ucap Putra Mahkkta kesal karena diragukan.


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia." ucap Robert.


"Sudahlah. Aku ingin istirahat. Kau keluarlah. Hmmm, aku ingin kau mengirimkan Dokter Kekaisaran ke Kediaman Anastasya untuk memeriksa kandungannya. Aku tak ingin anakku kenapa-kenapa. Lalu, kirimkan satu set gaun dan satu set perhiasan juga untuk menghibur Anastasya karena tak bisa kemari. Tuliskan suratku padanya untuk istirahat." perintah Putra Mahkota.


"Baik, Yang Mulia. Hamba permisi terlebih dahulu." ucap Robert.


"....." Putra Mahkota mengangguk.


Robert yang mengerti maksud Putra Mahkota langsung keluar dan menjalankan perintahnya.


Putra Mahkota yang sendirian dikamar diam-diam memikirkan perkataan Robert setelah mendengar 0qdàaqw di Perburuan Naimar. Anastasya terlihat dekat dengan Duke Simons meskipun Anastasya hanya beralasan ingin membuat Putra Mahkota cemburu.


"Hamba menghadap, Yang Mulia." ucap Kesatria.


"Aku punya tugas untukmu." ucap Putra Mahkota serius.


"Hamba menerima tugas dari Yang Mulia." ucap Kesatria.


"Aku ingin kau mengawasi Lady Anastasya Shera Larsca. Aku ingin kau melaporkanku semua gerak-geriknya dan melaporkan dengan siapa dan kemana saja dia." perintah Putra Mahkota.


"Baik, Yang Mulia." ucap Kesatria.


"Satu hal lagi, cari tau siapa ayah kandung dari bayi yang sedang di kandungnya." perintah Putra Mahkota.


"Siap laksanakan Yang Mulia." ucap Kesatria.


Kesatria pun pergi meninggalkan kamar Putra Mahkota dan Putra Mahkota berbaring di kamarnya hingga tertidur.


Keesokan paginya, Penasehat Kekaisaran datang menghadap Putra Mahkota. Putra Mahkota berfikir bahwa Penasehat Kekaisaran adalah salah satu orang yang tidak berpihak pada Putra Mahkota dan setelah rapat darurat ketika Penasehat Kekaisaran memberikan suara terakhir yang menjadi penentu baru lah saat itu Putra Mahkota percaya bahwa Penasehat Kekaisaran berada di pihaknya.

__ADS_1


"Hamba menghadap Yang Mulia Putra Mahkota." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Katakan ada perlu apa Penasehat?" tanya Putra Mahkota.


"Hamba ingin mengucapkan selamat kepada Putra Mahkota yang sebentar lagi akan menjadi Kaisar." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Terima kasih Penasehat. Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Putra Mahkota.


"Hamba hanyalah rakyat biasa dan hanya seorang ayah dari dua orang putri." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Apa kau bermaksud menawarkan salah satu Putrimu untuk menjadi selirku?" tanya Putra Mahkota.


"Hamba tak memiliki maksud lain, Yang Mulia. Sebagai seorang ayah, saya hanya ingin yang terbaik untuk putrinya." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Baiklah, aku mengerti. Kau bisa membawa mereka ketika acara penobatanku nanti." ucap Putra Mahkota.


"Terima kasih, Yang Mulia." ucap Penasehat Kekaisaran.


'Orang yang difikir jujur ternyata serakah juga. Tak disangka ternyata Penasehat Kekaisaran cukup pintar mencari peluang dan memanfaatkan situasi.' ucap Putra Mahkota dalam hati.


"Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba memiliki sedikit saran untuk acara penobatan, Yang Mulia." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Cepat, katakan!" perintah Putra Mahkota.


"Yang Mulia, selama ini rakyat tidak pernah mengetahui tentang wajah Putra Mahkota Kekaisaran kita bahkan sampai Yang Mulia akan menjadi Kaisar, rakyat tak mengetahuinya. Bagaimana jika saat hari Penobatan Kaisar, Sebelum Yang Mulia Putra Mahkota melakukan Upacara Penobatan, Yang Mulia menyapa rakyat dan memberi kesan sebagai Calon Kaisar yang bijaksana?" tanya Penasehat Kekaisaran.


"Kaisar yang Bijaksana?" tanya Putra Mahkota mulai berfikir.


"Benar, Yang Mulia. Bukankah selama ini rakyat selalu mendapatkan gosip yang buruk tentang Yang Mulia. Jadi akan lebih baik jika sekarang Yang Mulia mengganti pandangan rakyat terhadap Yang Mulia sehingga rakyat dapat memuja-muja Yang Mulia Putra Mahkota sebagai Kaisar Bijaksana kedepannya." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Itu bagus! Aku suka tapi bagaimana caranya? Apa aku hanya perlu menunjukkan wajahku?" tanya Putra Mahkota.


"Ah, tentu saja tidak Yang Mulia. Kita akan mengumpulkan semua rakyat dan memberikan satu hari libur nasional khusus untuk acara Penobatan Kaisar Baru. Saat rakyat sudah berkumpul, Putra Mahkota datang dan memberi salam kepada Rakyat lalu saat itu juga. Orang-orang dari Menara Sihir yang telah bekerja sama dengan Kekaisaran akan membuat sebuah tampilan tentang kerjakeras Putra Mahkota selama ini kepada Rakyat. Seperti mengatasi masalah Kekeringan di Wilayah Amore, Yang Mulia." ucap Penasehat Kekaisaran.


"Baiklah, aku setuju. Aku ingin kau mempersiapkannya dengan sempurna. Aku ingin semua rakyat melihatnya dengan jelas tentang siapa Kaisar baru mereka." ucap Putra Mahkota sambil tertawa.


"Baik, Yang Mulia. Serahkan saja semuanya padaku." ucap Penasehat Kekaisaran.


Penasehat Kekaisaran pun pergi dari Ruangan Kerja Putra Mahkota sementara Putra Mahkota masih dengan fikirannya.


#Bersambung#

__ADS_1


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁


Baca Juga Novel Terbaru Author "Terpaksa Menikah Karena Wasiat" Terima Kasih 🥰😍❤😘


__ADS_2