The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 306. Hukuman Keluarga Boufanski II


__ADS_3

Permaisuri Shiena yang tidak suka diabaikan pun memilih untuk memberi pelajaran kepada mata-mata itu dengan cara mengeluarkan Sihir Angin Level Surgawi dengan sangat cepat lalu mengarahkannya ke mata-mata. Udara yang berada di sekitar mata-mata itu pun menjadi padat lalu membentuk sebuah gelembung udara yang tak terlihat dan membungkus seluruh bagian tubuh mata-mata itu.


Permaisuri Shiena membuat udara itu berubah wujud menjadi karbon dioksida dan mengeluarkan semua oksigen yang ada di dalamnya sehingga membuat orang yang berada di dalamnya menjadi kesulitan bernafas.


Mata-mata itu pun merasa ada sebuah gelembung yang tak terlihat di sekelilingnya lalu mencoba untuk menghancurkannya tapi tidak bisa hingga mata-mata itu merasa kelelahan.


Akhirnya mata-mata itu pun terjatuh dari tempat persembunyiannya lalu berguling memegang lehernya karena merasa tidak bisa bernafas. Mata-mata itu pun berusaha berbicara dengan Permaisuri Shiena dan mengucapkan kata maaf dan ampunan berulang kali.


"A-Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba Mohon." ucap Mata-mata itu terbata-bata.


Permaisuri Shiena yang melihat ada sebuah Lambang Keluarga Laurence yang jatuh dari saku celana mata-mata itu pun menghentikan Sihir Anginnya. Perlahan-lahan mata-mata itu pun dapat bernafas kembali seperti semula.


Permaisuri Shiena yang penasaran dengan orang yang telah dengan sengaja mengirim mata-mata padanya pun bertanya dengan penuh karisma.


"Sekarang katakan padaku! Siapa yang telah mengirimmu dan apa alasannya?" tanya Permaisuri Shiena.


"Maafkan hamba Yang Mulia. Saya mohon ampuni kelancangan hamba. Hamba adalah kesatria Keluarga Laurence. Hamba dikirim oleh Tuan Duke untuk mencari tau keberadaan Yang Mulia Permaisuri karena Tuan Duke tidak melihat Yang Mulia Permaisuri di tempat Eksekusi Keluarga Boufanski." ucap Kesatria Laurence.


'Jadi kakak mengkhawatirkanku. Aku harus memberi tau kakak jika aku baik-baik saja. Aku tidak boleh membiarkannya merasa cemas terus padaku.' ucap Permaisuri Shiena dalam hati.


"Aku mengerti. Tetaplah disini aku akan menulis sebuah surat dan sampaikan suratku ini pada Kak Roan." ucap Permaisuri Shiena.


"Baik Yang Mulia." ucap Kesatria Laurence.


Permaisuri Shiena pun bangun dari tempat duduknya dan pindah ke Ruang Kerjanya yang berada di sisi lain. Permaisuri Shiena pun membuka laci lalu mengambil kertas dan pena kemudian menulis surat. Tak butuh waktu lama, surat pun telah selesai dibuat. Permaisuri Shiena pun menyerahkan surat itu kepada Kesatria Laurence.

__ADS_1


Setelah mendapatkan surat itu, Kesatria Laurence segera pergi tapi sebelumnya memberi hormat kepada Permaisuri Shiena karena seluruh Kesatria Laurence tau jika Duke Laurence telah melakukan sumpah setia kepada Permaisuri Shiena yang artinya Permaisuri Shiena juga adalah Tuan dari seluruh Pasukan Kesatria Keluarga Laurence.


Dalam waktu beberapa menit, Kesatria itu sampai di tempat Eksekusi tepat setelah Eksekusi Hukuman Marquess Boufanski telah selesai dilaksanakan. Kesatria Laurence pun menyerahkan surat itu kepada Duke Laurence.


Duke Laurence pun membaca surat itu dan mengetahui bahwa Permaisuri Shiena baik-baik saja dan hanya tidak ingin melihat hal-hal mengerikan itu untuk sementara waktu. Duke Laurence yang tau akan kemampuan Permaisuri Shiena pun dapat menebak bahwa mata-mata yang dikirimnya pasti akan segera ketahuan.


Duke Laurence yang sudah mengetahui dengan jelas jika Permaisuri Shiena tidak akan berada di Panggung Eksekusi pun memilih untuk kembali ke Kediaman Laurence dan menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Namun ketika berada di kereta kuda, Duke Laurence menghubungi Permaisuri Shiena menggunakan alat sihirnyam Duke Laurence masih merasa khawatir karena tidak melihat Permaisuri Shiena secara langsung meskipun telah mengetahui keadaannya secara langsung dari surat yang ditulis oleh Permaisuri Shiena sendiri.


Permaisuri Shiena yang sedang membuka laporan pembangun sekolah tidak mengetahui jika Duke Laurence menghubunginya sehingga membuat Duke Laurence menjadi cemas. Duke Laurence kemudian mengirimkan pesan melalui alat sihir itu dan berharap Permaisuri Shiena segera membalasnya.


Lalu Duke Laurence pun memerintahkan kusir untuk kembali ke Kediaman Laurence. Duke Laurence pun memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya di Kediaman Laurence serta Menara Sihir.


Namun hal itu berbanding terbalik dengan Bangsawan lain yang mencoba untuk pergi. Kaisar Franz langsung mencegahnya pergi dengan mengirimkan Kesatria Elit hingga akhirnya Bangsawan-bangsawan itu pun menyerah dan kembali duduk ke tempatnya masing-masing.


Kaisar Franz kemudian memerintahkan untuk Hakim melanjutkan Hukuman Eksekusi untuk Marchioness Boufanski. Jenderal Istana kemudian membunyikan Gong Besar untuk menenangkan Rakyat dan Bangsawan. Hakim yang mendalatkan perintah dari Kaisar pun segera menuruti perkataan Kaisar Franz dan melanjutkan membacakan dakwaan dan hukuman untuk Marchioness Boufanski.


"Marchioness Boufanski, didakwa telah membantu Marquess Boufanski dalam melakukan perbudakan terhadap Rakyat Kekaisaran dan telah dengan sengaja menutupi perbuatan Marquess Boufanski sehingga dihukum dengan pencabutan status Bangsawannya menjadi Rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pancung." ucap Hakim.


Marchioness Boufanski yang merasa tidak memiliki harapan hidup lagi hanya bisa diam menerima dakwaan dari Hakim. Namun, Rakyat Kekaisaran tidak bisa menerima hukuman itu begitu saja sehingga ada beberapa Rakyat yang melemparkan batu ke arah Marchioness Boufanski. Marchioness Boufanski yang menerima lemparan itu pun menjerit kesakitan karena mengenai beberapa bagian tubuhnya hingga berdarah.


"Arrgghh!" teriak Marchioness Boufanski.


Jenderal Istana yang melihat kejadian itu segera menghentikan aksi yang dilakukan oleh Rakyat Kekaisaran. Jenderal Istana kemudian membunyikan Gong Besar satu kali dan membuat semuanya terdiam. Setelah semua keadaan menjadi kondusif, Kesatria Istana segera membawa Marchioness Boufanski ke tempat Hukuman. Hanya dalam waktu singkat Marchioness Boufanski telah kehilangan nyawanya.

__ADS_1


Kaisar Franz kemudian memerintahkan Jenderal Istana untuk segera menyingkirkan mayat Marchioness Boufanski lalu membereskan tempat Eksekusi.


Rakyat Kekaisaran yang telah mellihat Hukuman untuk Para Bangsawan itu tanpa ada panduan atau aba-aba dari siapapun meneriakkan pujian untuk Kaisar Franz dan hal itu membuat banyak Bangsawan semakin hati-hati dalam bertindak.


"Hidup Yang Mulia Kaisar Franz." ucap Rakyat.


"Panjang umur Yang Mulia." ucap Rakyat.


"Semoga Yang Mulia sejahtera selalu." ucap Rakyat.


Kaisar Franz yang mendengar pujian dari seluruh Rakyat Kekaisaran menjadi sangat senang karena merasa telah berhasil memimpin Rakyat di Kekaisaran Pearl. Kaisar Franz kemudian meninggalkan tempatnya lalu kembali ke Istana.


Keesokan harinya berita tentang Hukuman Keluarga Boufanski tersebar ke seluruh tempat di Kekaisaran Pearl bahkan sampai ke Kerajaan sekutu. Bangsawan yang awalnya menolak keputusan Kaisar Franz mulai menghentikan aksinya dan perlahan setuju karena takut akan membuat Kaisar Franz marah dan malah menjadi masalah bagi Keluarga mereka.


Kaisar Franz yang senang rencananya berhasil pun mulai menunjukkan keterlibatannya terhadap Pembangun Sekolah Rakyat biasa secara terang-terangan.


Kaisar Franz kemudian memutuskan untuk kembali ke Istana dan menemui Permaisuri Shiena. Ketika Permaisuri Shiena melihat Kaisar Franz pun segera menutup laporannya dan segera menemui Kaisar Franz.


#**Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


🥰😊😍😘


Terima kasih**

__ADS_1


__ADS_2