
Shiena yang sedang memikirkan cara lain untuk bisa membantunya mengalahkan Putra Mahkota. Marry datang terburu-buru dan masuk ke kamar Shiena tanpa izin terlebih dahulu.
"Ma-maafkan kelancangan saya, Nona." ucap Marry tergesa-gesa.
"Ada apa? Kenapa kau berlari-lari seperti itu?" tanya Shiena.
"A-ada Kepala Kesatria Kekaisaran di ruang tamu, Nona." ucap Marry.
"Ada perlu apa dia kemari?" tanya Shiena bingung.
"Sa-saya tidak tau, Nona." ucap Marry.
"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang." ucap Shiena.
Shiena pun berjalan menuruni tangga ke lantai satu menemui Kepala Kesatria Kekaisaran yang datang secara mendadak tanpa pemberitauan terlebih dahulu.
"Apakah seorang Kepala Kesatria Kekaisaran tak memiliki sopan santu? Sehingga datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu." ucap Shiena marah.
"Maafkan saya, Nona." ucap Kepala Kesatria Kekaisaran.
"Apakah hanya dengan kata maaf bisa langsung dimaafkan?" tanya Shiena menghina.
"....." Kepala Kesatria Kekaisaran diam.
"Ayah dan ibuku memang di penjara saat ini tapi mereka belum dinyatakan bersalah dan Gelar Seorang Duke belum dilepaskan darinya. Apakah seperti ini caramu bicara pada Putri seorang Duke?" tanya Shiena marah.
"Maafkan kelancangan saya, Nona. Saya hanya ingin menyampaikan sebuah surat dan memberikan sesuatu kepada Nona dari Yang Mulia Putra Mahkota." ucap Kepala Kesatria Kekaisaran sopan.
__ADS_1
"Putra Mahkota?" tanya Shiena sinis.
'Ada perlu apalagi Putra Mahkota itu mengirimiku surat? Bukankah aku sudah menolak tawarannya? dan lagi apa yang dia berikan padaku? Kenapa firasatku buruk?' fikir Shiena.
Lalu, Kepala Kesatria Kekaisaran memberikan sebuah kotak kado dan sebuah surat kepada Shiena. Shiena yang melihat Kepala Kesatria Kekaisaran masih ada di depannya bertanya dengan marah. Shiena tak ingin bersikap sopan kepada bawahan Putra Mahkota karena baginya itu hanya membuang waktu saja.
"Bukankah surat dan hadiah ini sudah ku terima. Ada perlu apa lagi anda masih disini, Tuan?" tanya Shiena sinis.
"Saya diperintahkan Putra Mahkota untuk langsung menerima balasannya, Nona." ucap Kepala Kesatria Kekaisaran.
Setelah mendengar perkataan itu, Shiena tak bisa lagi memberikan senyum manis atau sopan santunnya. Shiena sangat marah karena Putra Mahkota sangat tidak tau malu dan tidak tau diri sama seperti bawahannya.
"Baik, kalau begitu jika anda ingin surat balasan secara langsung saya akan memberikannya langsung tapi silahkan tunggu di depan pintu luar karena rumah ini tidak menerima anda, Tuan." ucap Shiena dingin.
Shiena yang marah memerintahkan Marry mengantar Kepala Kesatria Kekaisaran ke depan pintu luar dan Shiena berbalik arah pergi meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya membawa hadiah serta surat dari Putra Mahkota.
Kepala Kesatria Kekaisaran sangat marah dan merasa sangat terhina dengan sikap dan tindakan Shiena. Kepala Kesatria Kekaisaran ingin menolak dan membalas perbuatan Shiena tapi dirinya tak bisa melakukan itu karena Putra Mahkota memerintahkannya untuk jangan pernah membantah Shiena meskipun kesal sekalipun.
Shiena yang telah berada di dalam kamarnya pun membuka hadiah dari Putra Mahkota. Shiena melihat ada sebuah alat perekam di dalamnya. Shiena yang penasaran akan isinya membukanya dan melihatnya sampai selesai.
Shiena yang melihat isi rekaman itu menjadi sangat marah, wajahnya menjadi merah, tangan dan kakinya bergetar seolah ingin menghabisi seseorang. Di sisi lain, Shiena juga tak kuasa menahan air matanya untuk mengalir. Ada perasaan sedih, takut dan khawatir bercampur menjadi satu.
Shiena sangat sedih melihat ayahnya yang seorang Duke yang sangat dihormati harus menerima penderitaan yang sangat kejam. Para Penjaga tahanan itu mengikat kaki dan tangan Duke Carrole lalu mencambuknya hingga lemas dan bersimbah darah. Tak hanya sampai disitu, saat Duke Carrole kelelahan Para Penjaga itu menyiraminya dengan air dingin hingga Duke Carrole menggigil lalu Penjaga tahanan itu mengambil balok kayu yang tebal dan besar dan memukulkannya ke lutut Duke Carrole hingga berdarah dan patah.
Sementara Duchess Carrole yang melihat langsung suaminya disiksa di depan matanya terus saja menangis dan meminta tolong tapi tak ada yang mendengarkan. Sehingga Duchess Carrole kelelahan dan pingsan.
Shiena tak terima jika orang tuanya diperlakukan sangat tidak adil. Shiena yang merasa ingin protes dan marah kepada Putra Mahkota.
__ADS_1
Lalu, Shiena pun membaca surat dari Putra Mahkota yang isinya adalah Putra Mahkota sengaja memerintahkan Penjaga Tahanan itu menyiksa Duke Carrole dan Duchess Carrole karena Shiena telah berani menolak tawarannya untuk menjadi Ratunya.
Putra Mahkota juga memberi Shiena kesempatan terakhir untuk datang ke Istana dan menjadi Ratunya karena jika kali ini Shiena menolak maka besok saat Penobatan Kaisar baru selesai, Duke Carrole, Duchess Carrole dan semua orang yang bekerja di Kediaman Duke Carrope akan di hukum mati.
Shiena yang membaca surat Putra Mahkota tak bisa lagi menahan keseimbangannya hingga jatuh ke lantai. Shiena pun tak kuasa menahan air matanya yang sudah jatuh sedari tadi.
Shiena menangis memikirkan hal yang pernah terjadi di Kehidupannya yang lalu. Shiena yang telah bertekad akan melindungi semua orang yang ada di pihaknya tak bisa hanya tinggal diam dan menerima semuanya terjadi.
Shiena tak ingin Duke Carrole, Duchess Carrole, Pelayan serta Para Kesatria dihukum mati oleh Putra Mahkota karena mereka semua tidak bersalah. Shiena tau itu semua hanya rencana Putra Mahkota untuk menghancurkan keluarganya.
Marry yang datang dan masuk ke kamar Shiena sangat terkejut melihat Shiena yang terjatuh di lantai. Marry pun membantu Shiena bangun dan memapahnya menuju sofa.
Marry tak tau apa yang telah terjadi tapi Marry bisa menarik kesimpulan bahwa telah terjadi hal yang buruk sehingga Nonanya bisa terjatuh di lantai.
Shiena yang melihat Shiena sangat terpukul pun pergi ke dapur dan membuatkan Teh Camomile untuk menenangkan Shiena lalu meminta Shiena meminumnya dan Shiena pun menurut.
Setelah dirasa tenang, Shiena mulai menunjukkan isi rekaman itu kepada Marry dan memberika surat Putra Mahkota. Marry sangat terkejut dan shock melihatnya.
Marry yang tau apa yang sedang dirasakan Shiena tak berani mengatakan apapun karena takut akan memperkeruh suasana tapi Marry memberanikan diri bertanya tentang rencana Shiena selanjutnya.
Shiena yang sudah merasa baikan telah memutuskan untuk datang ke Istana Kekaisaran tempat Putra Mahkota berada untuk menemuinya.
Shiena pun meminta Marry dan Ana membantunya merapikan diri, bersiap-siap dan berdandan. Shiena yang telah siap tak segera turun ke lantai satu menemui Kepala Kesatria.
Shiena memilih pergi menggunakan Sihir Angin dan Sihir Gelapnya. Shiena tak ingin pergi ke Istana menggunakan kereta kuda yang telah disiapkan oleh Putra Mahkota karena Shiena merasa sudah sangat muak dengan semuanya.
#Bersambung#
__ADS_1
Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁
Baca Juga Novel Terbaru Author "Terpaksa Menikah Karena Wasiat" Terima Kasih 🥰😍❤😘