
Shiena yang telah meminta bantuan kepada Tuan X yang sebenarnya adalah Putra Mahkota Franz untuk menyelidiki apa yang akan dilakukan Putra Mahkota Brian. Meskipun Shiena sudah bisa menebaknya karena itu pernah terjadi di masa lalu.
'Sepertinya Putra Mahkota akan mencoba membunuh Kaisar karena hasutan dari Anastasya. Putra Mahkota ingin mempercepat kenaikan tahtanya karena tertangkapnya Tuan Robert.' fikir Shiena.
Shiena yang tak tau kebenaran dari rencana Putra Mahkota Brian apa benar Putra Mahkota Brian akan membunuh Kaisar atau tidak. Shiena yang tak bisa hanya diam menunggu kabar memanggil Zee.
"Saya menghadap, Nona." ucap Zee menundukkan kepala.
Shiena yang melihat sikap Zee yang tak biasa menjadi curiga dan mencoba membaca fikirannya.
'Kenapa Nona memanggilku? Bukankah selama ini Nona sudah jarang memanggilku. Apa Nona ingin tau laporanku tentang siapa yang ditemui Tuan Besar? Kalau betul begitu, apa yang harus aku katakan?' fikir Zee frustasi.
'Ah, ternyata itu yang difikirannya. Aku sebenarnya sudah lupa tentang tugas itu tapi baiklah aku akan memberimu hukuman karena tak menjalankan perintahku.' fikir Shiena.
"Apa kau tau apa kesalahanmu?" tanya Shiena santai.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak menjalankan perintah dengan baik." ucap Zee takut.
"Syukurlah jika kau masih ingat salahmu. Aku tak tau masih harus menerimamu atau membuangmu." ucap Shiena menyeruput tehnya.
"Ma-maafkan saya Nona. Saya mohon Nona jangan pecat saya. Saya mohon Nona maafkan kelalaian saya." ucap Zee khawatir.
"Memaafkanmu? Sepertinya tidak semudah itu." ucap Shiena dengan tangan di dada.
"Saya mohon Nona Maafkan saya. Saya akan melakukan apapun Nona asalkan Nona mengampuni saya." ucap Zee.
"Melakukan apapu? Apa kau yakin?" tanya Shiena.
"Ya, ya Nona. Tentu saja." ucap Ze yakin.
"Kalau begitu, aku ingin kau minum racun." ucap Shiena meletakkan cangkir tehnya.
"A-apa?" ucap Zee terkejut.
'Kau sangat terkejut bukan. Siapa suruh membual di depanku? dan tidak menuruti perkataanku.' ucap Shiena dalam hati.
"Tenang saja aku hanya bercanda. Aku tak menyuruhmu meminum racun tapi jika kali ini kau tak bisa melakukan apa yang aku perintahkan dengan benar. Aku tidak akan menyuruhmu meminum racun tapi aku bisa pastikan Kepalamu tak akan berada diposisinya lagi!" ancam Shiena.
"....." Zee menelan ludahnya sendiri.
'Aku tau kau sangat setia pada keluargaku tapi jika kesetiaanmu itu tidak kau tunjukkan padaku. Maka aku tak membutuhkan orang sepertimu. Akan lebih baik jika aku menyingkirkanmu terlebih dulu.' ucap Shiena dalam hati.
"Baiklah. Aku ingin kau mengikuti dan menyelidiki Lady Anastasya Shera Larsca. Aku ingik kau melaporkan apa saja yang dilakukannya dan dengan siapa saja dia bertemu. Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?" tanya Shiena.
__ADS_1
"Ya, Nona." ucap Zee.
"Baguslah. Ambil ini!" uca Shiena sambil meminta Marry menyerahkan sebuah benda.
"....." Zee diam.
"Itu dapat kau gunakan untuk merekam apapun. Kau hanya tinggal menekan tombol merah itu. Lalu untuk melaporkannya, kau hanya tinggal menekan tombol biru. Apapun yang kau rekam akan otomatis langsung terkirim padaku." ucap Shiena.
"Baik, Nona." ucap Zee.
Zee pun langsung pergi menemukan Anastasya. Shiena yang telah membagikan tugas penting kepada orang-orang menjadi sedikit lega.
'Semua sudah sesuai dengan prediksi. Aku hanya tinggal menunggu hasilnya.' fikir Shiena.
Shiena yang merasa bosan berada di Kediamannya mencoba menanyakan pada Marry kegiatan apa yang sebaiknya dilakukannya.
"Marry!" teriak Shiena.
"Ya, Nona." ucap Marry ragu-ragu.
"Ada apa denganmu Marry? Apa kau sakit?" tanya Shiena.
'Aduh, Nona menanyakanku. Aku kok jadi merasa takut ya pada Nona. Nona kan sudah bilang jika itu hanya bercanda.' fikir Marry.
'Ah, ternyata dia memikirkan ucapan dan ancamanku pada Zee. Sebenarnya aku tak ingin membuat orang merasa takut padaku tapi rasa takut ini sekali-kali bagus juga untuk menggertak orang agar semakin setia padamu.' ucap Shiena dalam hati.
"Hmmm, Marry aku bosan. Apa kau punya saran?" tanya Shiena.
"Bagaimana jika kita pergi ke pasar, Nona." ucap Marry.
"Pasar?" tanya Shiena bingung.
"Benar, Nona. Saya dengan setiap hari ini di pasar akan ada pertunjukan jalanan. Akan ada orang yang mengeluarkan burung, mengeluarkan kartu atau bunga dari dalam topi padahal topi itu kosong." ucap Marry antusias.
'Ah, pertunjukan sulap. Di zaman modern aku sering melihatnya, tak disangka ada juga pertunjukan sulap di zaman ini. Lagipula, Marry sepertinya sangat ingin melihatnya.' fikir Shiena.
"Baiklah, kita akan kesana sekarang. Marry bisa bantu saya." ucap Shiena.
"Tentu saja, Nona." ucap Marry penuh semangat.
Marry mendadani Shiena dengan sederhana dan tidak terlalu mencolok karena memang mereka ingin pergi ke pasar. Marry sangat cekatan, telaten dan juga cepat. Shiena sangat menyukai hasil pekerjaan Marry.
Marry telah meminta pelayan lain menyiapkan kereta kuda jadi ketika Marry selesai mendadanin Shiena, mereka bisa langsung pergi tanpa harus menunggu lama.
__ADS_1
Butuh waktu beberapa menit sampai di pasar. Shiena tak ingin kereta kudanya pasrkir terlalu dekat karena ingin melihat-lihat sekeliling.
Shuena dan Marry pun turun dan mencari letak pertunjukan sulap itu berada. Ketika Shiena melihat kerumunan orang. Shiena yakin bahwa itu adalah tempatnya.
Shiena yang di bantu Marry masuk di kerumunan orang dan berada di barisan paling depan. Shiena melihat pertunjukan sulap yang telah lama tidak dilihatnya. Mulai dari mengeluarkan beda dari topi, memasukkan barang dari topi, bahkan pertunjukkan memotong tubuh dan menyatukannya kembali pun dipertontonkan.
Semua orang merasa senang dan bertepuk tangan. Begitu pula dengan Shiena yang sangat senang bisa melihat pertunjukan sulap kembali. Shiena pun bertepuk tangan tanpa malu dan mengeluarkan beberapa koin emas untuk diberika kepada Pemain Sulap.
Namun, tiba-tiba ada seseorang yang datang. Seorang laki-laki dengan tubuh yang besar datang menghampiri Shiena dan langsung meletakkan pedang ke leher Shiena.
Shiena yang tak tau apa pun terkejut tapi tidak takut sama sekali dan wajahnya terlihat sangat tenang. Shiena sebenarnya dapat melepaskan diri dengan mudah tapi Shiena ingin mengetahui kejadian sebenarnya terlebih dahulu baru lah memutuskan.
Shiena membaca fikiran orang-orang di sekitarnya dan orang yang menyanderanya. Shiena dapat menarik kesimpulan bahwa dirinya saat ini menjadi tawanan karena orang yang menangkap Shiena tak bisa lari dari kejaran kesatria penjaga.
'Ternyata orang ini adalah pencuri dan dia tak berhasil mencuri tapi malah hampir ditangkap karena takut masuk penjara maka menangkapku sebagai sandera agar bisa kabur. Cukup pintar! Tapi kau salah mencari tawanan.' ucap Shiena dalam hati.
Shiena yang sudah bersiap menggunakan Sihir Angin terhentikan oleh seorang pria yang berpakaian seperti Bangsawan Tinggi tapi Shiena tak pernah melihat wajahnya.
Bangsawan itu dengan cepat melumpuhkan pencuri dan menangkap Shiena yang hampir terjatuh karena terlepas dari genggaman pencuri. Shiena yang hampir terjatuh dengan cepat berputar seperti berdansa dan berada di pelukan Bangsawan Muda itu.
"Tangkap orang ini dan penjarakan dia!" ucap Putra Mahkotq Franz.
"Baik." ucap Kesatria.
'Siapa orang ini? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya tapi aku haru segera berterima kasih. Sepertinya pria ini adalah Bangsawan kelas Atas. Jika dia bukan berasal dari Kekaisaran Pearl mungkin saja dia berasal dari Kerajaan tetangga. Aku harus menjalin hubungan baik dengannya karena aku tak boleh mencari musuh dikehidupanku sekarang.' ucap Shiena dalam hati.
Putra Mahkota Franz yang telah memutuskan untuk menyelamatkan Shiena harus menutupi identitasnya. Putra Mahkota yang sadar bahwa sedang memeluk Shiena dengan cepat melepaskan pelukan itu.
"Ma-maafkan ketidaksopanan saya Lady." ucap Putra Mahkota Franz.
"Justru saya yang harusnya berterima kasih. Terima kasih karena telah menyelamatkan saya." ucap Shiena lembut lalu menunjukkan senyum tercantik dan terbaik yang dimilikinya.
Setelah mengucapkan terima kasih Marry datang dan menanyakan bebagai hal untuk memastikan Shiena baik-baik saja. Lalu, Marry langsung mengajak Shiena pulang karena takut Duke Carrole sudah mendengar berita itu dan jika Shiena belum kembali maka Duke Carrole bisa saja langsung menutup pasar ini.
Shiena pun berbalik dan menemui Putra Mahkota Franz dan mengucapkan terima kasih sekali lagi lalu meminta izin untuk kembali pulang dengan memberikan senyuman manisnya.
Putra Mahkota Franz yang melihat senyuman Shiena seketika itu juga merasa ada yang aneh.
'A-ada apa denganku? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat?' fikir Putra Mahkota Franz.
#Bersambung#
Tunggu selalu up selanjutnya.. 😍❤ Jangan lupa vote nya ya.. 🥰❤😘🤩
__ADS_1