
Tiga hari pun berlalu dengan cepat, kabar tentang hukuman yang akan dijatuhkan pada Keluarga Boufanski telah tersebar sampai ke seluruh Kekaisaran Pearl.
Panggung Eksekusi telah dibangun dengan sangat kokoh dan tempat untuk dilaksanakannya Hukuman itu telah terpasang bersamaan dengan adanya algojo di samping tiang gantung.
Semua Rakyat telah terbiasa menyaksikan Hukuman untuk para Bangsawan yang melakukan kesalahan selama beberapa tahun terakhir. Hukuman itu dilaksanakan selama kepemimpinan Kaisar Franz sehingga banyak Rakyat yang menyayangi Kaisar. Semua rakyat berfikir Kaisar Franz berbeda dengan Kaisar lain karena dengan tegas melawan Bangsawan yang telah merugikan Kekaisaran.
Rakyat Kekaisaran berfikir jika Kaisar Franz selalu berpihak kepada Rakyat biasa dan itu dibuktikan dengan terbangunnya berbagai fasilitas untuk Rakyat. Kaisar Fran juga membuat keputusan untuk mengahapus setengah pajak yang harus disetorkan oleh Rakyat kepada Kekaisaran dan bahkan Rakyat baru menyadari jika Kaisar Franz bekerja sama dengan Gadis Suci untuk membangun Sekolah gratis untuk membantu Rakyat Biasa.
Namun hal itu berbanding terbalik dengan beberapa Bangsawan yang baru diangkat Statusnya. Mereka semua tidak setuju dengan semua keputusan yang diambil oleh Kaisar Franz yang berhubungan dengan Rakyat terutama Pembangunan Sekolah Gratis untuk anak-anak yang berasal dari Rakyat biasa.
Mereka karena khawatir jika nantinya Rakyat itu memiliki keterampilan maka akan mengganggu kekuasaan yang telah mereka miliki. Kaisar Franz yang menyadari kekhawatiran Bangsawan itu tidak terlalu memikirkannya bahkan Kaisar Franz tetap fokus dengan apa yang ingin dilakukannya.
Kaisar Franz yang tak ingin dikendalikan oleh Bangsawan seperti Kaisar-kaisar sebelumnya hingga akhirnya membuat sebuah rencana untuk menutup mulut Bangsawan itu satu per satu hingga tidak bisa melalukan protes apapun lagi.
Semua Bangsawan diundang untuk melihat Hukuman yang dijatuhkan pada Keluarga Boufanski. Kaisar Franz ingin menunjukkan kekuasaan yang dimilikinya hingga siapapun yang berani menentangnya akan mengalami nasib yang sama.
Permaisuri Shiena yang tidak ingin melihat hal-hal mengerikan itu lagi setelah melihat Jenderal Istana memenggal kepala Lady Zoufay yang sedang terduduk tidak berdaya dihadapan semua orang tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Permaisuri Shiena pun memilih untuk tetap berada di kamarnya bersama Marry dan Ana sambil menikmati camilan manis dan membaca buku.
Duke Laurence yang juga hadir di Acara Eksekusi Keluarga Boufanski tidak melihat kehadiran Permaisuri Shiena. Duke Laurence yang khawatir pun memanggil Kesatrianya untuk mencari tau apa yang terjadi pada Permaisuri Shiena.
Sementara itu, Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski yang dikurung di dalam Penjara Kekaisaran dibawa ke Panggung Eksekusi dengan menggunakan Kereta Tahanan.
Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski yang telah tau jika kematian telah berada di depan mata mereka hanya bisa diam menurut karena tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Mereka hanya bisa meratapi nasibnya dan menyesali semua perbuatan buruk yang telah mereka lakukan selama ini.
Marchioness Boufanski yang merasa sangat terpukul ketika melihat Putri yang telah dikandungnya selama sembilan bulan dan telah dibesarkannya dengan penuh kasih sayang harus kehilangan nyawanya dengan cara yang tragis di depan matanya.
__ADS_1
Marchioness Boufanski merasa sangat menyesal tidak memberikan maaf pada Lady Zoufay dan memeluknya terlebih dahulu. Marquess Boufanski yang melihat kesedihan yang mendalam yang ada dimata Marchioness Boufanski hanya bisa memberikan pelukan untuk menenangkan.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Marquess Boufanksi dan Marchioness Boufanski sampai di Panggung Eksekusi. Penjaga Tahanan pun membuka Kereta Tahanan namun tak disangka mereka melihat Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski sedang berpelukan. Penjaga Tahanan yang tidak memiliki rasa iba sedikit pun memaksa mereka untuk turun dari Kereta Tahanan lalu naik ke Panggung Eksekusi.
Rakyat yang telah menunggu-nunggu kedatangan keduanya langsung melemparkan tomat dan telur busuk secara terus-menerus hingga seluruh pakaiannya berubah menjadi sangat kotor. Penjaga Tahanan yang ikut mengawal Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski sampai ke atas Panggung Eksekusi juga ikut terkena lemparan dari Rakyat.
Kaisar Franz yang melihatnya hanya diam saja dan tidak berusaha menghentikan. Kaisar Franz ingin memberi tau bahwa kekuatan Rakyat tidak boleh diremehkan apabila mereka telah bersatu.
Rakyat yang mengetahui bahwa Keluarga Boufanski adalah dalang dari adanya perbudakan rakyat menjadi sangat marah terlebih lagi ada yang anggota keluarga atau orang terdekatnya yang telah menjadi korban sehingga membuat rakyat itu terus mengucapkan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk diucapkan.
Rakyat yang merasa sakit hati akan perbuatan Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski melemparkan batu yang cukup besar kearah keduanya hingga mengenai kepala hingga mengeluarkan darah. Rakyat yang lain pun ikut mencari batu dan melemparkannya juga kearah keduanya hingga mengenai tubuh Marquess Boufanski dan Marchioness Boufanski.
Kaisar Franz yang tak ingin keduanya mati dengan mudah memberi isyarat kepada Jenderal Istana untuk menghentikan aksi yang dilakukan oleh Rakyat-rakyat itu tapi tidak berhasil akhirnya Kaisar Franz memberikan isyarat untuk Kesatria membunyikan Gong besar untuk membuat semuanya diam.
Setelah Gong Besar itu berbunyi dengan sangat keras, Rakyat yang tadinya melempar batu-batu itu pun berhenti. Suasana yang awalnya sangat berisik menjadi tenang kembali.
"Segera laksanakan hukumannya." perintah Kaisar Franz.
"Baik Yang Mulia." ucap Hakim.
Hakim pun membacakan dakwaan dan hukuman yang dijatuhi untuk Marquess Boufanski terlebih dahulu.
"Marquess Boufanski, Kepala Keluarga Boufanski didakwa telah melakukan Perbudakan di Wilayah Kekaisaran Pearl serta melakukan Penggelapan Pajak Kekaisaran demi kepentingan pribadi. Oleh karena itu Marquess Boufanski dicabut gelar Bangsawannya dan dijadikan Rakyat biasa, seluruh harta kekayaan milik Keluarga Boufanski akan diambil oleh Kekaisaran serta Kepala Keluarga Boufanski akan dijatuhi hukuman pancung di depan seluruh Rakyat Kekaisaran Pearl." ucap Hakim.
Setelah mendengar dakwaan dan hukuman yang dibacakan oleh Hakim. Penjaga Tahanan dengan cepat mengangkat dan menyeret Marquess Boufanski ke arah Algojo.
Rakyat yang melihat detik-detik kematian Marquess Boufanski menjadi semakin semangat dan semakin sering mengeluarkan kata-kata menghina yang ditujukan kepada Marquess Boufanski.
__ADS_1
Dalam waktu hitungan detik, Marquess Boufanski telah kehilangan nyawanya. Jasadnya tergeletak lemah tak bernyawa. Marchioness Boufanski yang melihat kematian anak dan suaminya di depan matanya tidak bisa menahan jeritannya lalu jatuh pingsan di atas Panggung Eksekusi.
Kaisar Franz yang melihatnya memerintahkan Kesatria untuk menyingkirkan mayat Marquess Baufanski lalu menyiram wajah Marchioness Boufanski dengan air dingin agar dirinya dapat segera bangun karena Kaisar Franz tidak mau menunda Hukuman itu hanya karena saru orang penjahat yang pingsan.
Sementara itu, Permaisuri Shiena yang memiiki kemampuan yang hebat dapat mengetahui bahwa ada orang yang sedang memata-matainya lalu Permaisuri Shiena memerintahkan Marry dan Ana untuk keluar meninggalkannya sendiri. Marry dan Ana yang tidak curiga segera keluar.
Setelah merasa tidak ada lagi hawa keberadaan Marry dan Ana, Permaisuri Shiena pun menepuk kedua tangannya sebagai tanda untuk mata-mata itu.
"Keluarlah! Aku tau kau ada disni!." perintah Permaisuri Shiena.
"....." Kesatria itu diam.
"Apa kau ingin kehilangan nyawamu dulu baru mau keluar?" tanya Permaisuri Shiena.
"....." Kesatria itu.
"Baiklah jadi jangan salahkan aku." ucap Permaisuri Shiena.
Permaisuri Shiena yang tau jika Kesatria itu dikirim oleh seseorang yang tidak berniat buruk, awalnya ingin bertanya tujuan mata-mata itu mengawasimya tapi melihat kelancangan Permaisuri Shiena pun ingin memberinya pelajaran.
#**Bersambung#
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..
🥰😊😍😘
Terima kasih**
__ADS_1