
Ketika Shiena dan Putra Mahkota Franz sedang duduk bersantai di Taman. Duke Carrole dan Duchess Carrole datang setelah mengurus pekerjaan mereka dengan Penasehat Kekaisaran Shiena yang tau isi fikiran Duke Carrole segera memberika kode untuk tak membahas masalah itu saat ini. Duke Carrole dan Duchess Carrole yang menyadari kode dari Shiena pun tak melanjutkan rasa penasaran mereka.
"Kami menghadap Yang Mulia Putra Mahkota Kekaisaran Pearl. Semoga Yang Mulia selalu sehat dan sejahtera." ucap Duke Carrole dan Duchess Carrole sopan.
"Jangan terlalu sopan seperti Tuan Duke dan Nyonya." ucap Putra Mahkota Franz.
Putra Mahkota Franz pun segera membawa Duke Carrole, Duchess Carrole dan Shiena ke ruang makan yang telah disediakan sesuai dengan Perintah Putra Mahkota Franz. Putra Mahkota Franz yang sangat sadar jika ingin mendapatkan hati Shiena maka harus mendapatkan hati kedua orangtuanya terlebih dahulu sehingga Putra Mahkota Franz melakukan berbagai cara untuk membuat Duke Carrole dan Duchess Carrole. Putra Mahkota Franz tau jika Duchess Carrole lebih menyukai Marquess Laurence sehingga Putra Mahkota Franz tidak tinggal diam terus melakukan apapun untuk membuat Duchess Carrole menyukainya termasuk memberikan sebuah kalung mewah yang sangat langka yang dikirimkan oleh Kerajaan Zambrud untuk hari Kedewasaannya nanti.
"Silahkan duduk Tuan Duke dan Nyonya. Ah, Lady Shiena juga silahkan duduk. Bisakah kita makan bersama?" tanya Putra Mahkkota Franz.
Duke Carrole yang sadar jika tak baik menolak permintaan Putra Mahkota Franz pun segera duduk dan diikuti oleh Duchess Carrole dan Shiena. Putra Mahkota menyediakan makanan yang sangat lezat, berkualitas tinggi dan mewah yang membuat siapapun yang melihat hidangan itu tak bisa menolak untuk memakannya.
Setelah makan, Putra Mahkota Franz menepuk tangannya dan segera Kepala Pelayan Kekaisaran membawakan sebuah kotak perhiasan yang sangat mewah dan menunjukkannya kepada Duchess Carrole. Duchess Carrole yang bingung bagaimana harus bersikap dipaksa oleh Putra Mahkota Franz untuk membuka kotak itu. Ketika Duchess Carrole membukanya, Duchess Carrole sangat kaget dan sangat menyukai kalung itu.
Putra Mahkota Franz yang melihat reaksi Duchess Carrole pun menyunggingkan senyuman tanda puas. Putra Mahkota Franz pun memaksa Duchee Carrole menerimanya dan tentu saja Duchess Carrole menolak tapi setelah Putra Mahkota Franz mengatakan bahwa hadiah itu sebagai penghargaan untuk kesetiaan Keluarga Carrole akhirnya baik Duke Carrole maupun Duchess Carrole setuju menerimanya kecuali Shiena yang mengetahui niat dari Putra Mahkota Franz yang ingin menyogok kedua orangtuanya. Shiena tak menyukai cara Putra Mahkota Franz tapi Shiena menyukai kalung yang diberikan karena sangat pantas untuk Ibunya.
Putra Mahkota Franz tak hanya memberikan Duchess Carrole hadiah tapi juga memberikan Shiena sebuah Gaun dan sepasang Sepatu. Dihadapan Duke Carrole dan Duchess Carrole, Putra Mahkota Franz meminta izin untuk meminta Shiena menjadi pasangannya saat Acara Penobatannya nanti menjadi Kaisar yang baru. Duke Carrole yang mendengar permintaan Putra Mahkota Franz menjadi dilema karen Duke Carrole tak ingin memaksa Shiena hingga akhirnya Duchess Carrole yang menyatakan bahwa semua keputusan ada pada Shiena.
Putra Mahkota Franz pun menanyakannya pada Shiena. Shiena yang sadar tak punya pilihan lain dan Kedua orangtuanya pun juga telah memberikan keputusan padanya akhirnya Shiena pun setuju. Putra Mahkota Franz yang awalnya merasa tak memiliki gairah hidup menjadi cerah kembali setelah mendapatkan lampu hijau dari Duke Carrole dan Duchess Carrole.
Lalu, Duke Carrole, Duchess carrole dan Shiena pun kembali ke Kediaman mereka dengan menggunakan kereta kuda setelah berpamitan dengan Putra Mahkota Franz. Di dalam kereta, Duke Carrole dan Duchess Carrole yang sudah memiliki seribu pertanyaan tak bisa menahan diri.
"Shiena Ve Carrole! Kau berhutang penjelasan pada kami!" ucap Duchess Carrole.
Shiena yang sadar akan arti tatapan tajam dari Duchess Carrole pun hanya bisa menelan ludahnya dan mengangguk tanda mengerti.
__ADS_1
Sementara itu, Duke Watson, Duchess Watson dan Tuan Muda Alphonso yang sudah sampai di Istana disambut baik oleh Kesatria yang berjaga. Kepala Pelayan Kekaisaran yang datang setelahnya segera membawa Duke Watson, Duchess Watson dan Tuan Muda Alphonso ke salah satu Ruangan Istimewa. Disana Putra Mahkota Franz yang tau jika Bibi, Paman dan Keponakannya datang segera menyambut mereka.
"Hamba Menghadap Yang Mulia Putra Mahkota Franz semoga Yang Mulia selalu diberkati." ucap Keluarga Watson.
"Jangan terlalu sopan Paman, bukankah kita masih keluarga?" tanya Putra Mahkota Franz.
"Maaf Yang Mulia tapi hamba tidak bisa." ucap Duke Watson yang menolak dengan sopan.
"Jangan dengarkan pamanmu keponakanku. Kau bisa memanggilku Bibi seperti kau kecil dulu. Sungguh Bibi sangat senang melihatmu masih hidup. Bibi juga sangat senang anak pembunuh itu tak menjadi Kaisar." ucap Duchess Watson terang-terangan.
"Istriku!" panggil Duke Watson khawatir.
"Kenapa? Apa yang aku katakan itu semuanya dalah kebenaran, bukahkah begitu keponakanku?" tanya Duchess Watson.
"Tentu saja Bibi. Paman tak perlu khawatir tak ada yang akan berani melakukan apapun tanpa seizinku!" ucap Putra Mahkota Franz punuh penakanan di akhir kata yang membuat semua Kesatria dan Pelayan yang berada disana menunduk takut.
Setelah perbincangan ringan itu, Duke Watson meminta waktu Putra Mahkota Franz untuk membicarakan masalah Takhta. Duchess Watson yang mengerti pun meminta izin untuk berkeliling di Taman Istana sendiri karena Duchess Carrole yakin bahwa pembicaraan itu akan melibatkan putranya. Putra Mahkota Franz mengangguk dan memerintahkan Kepala Pelayan Kekaisaran untuk menemani.
Setelah kepergian Duchess Carrole, Duke Watson mulai berbicara serius yang mengubah artmosfer di ruangan itu dalam sekejap.
"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia tapi Hamba harus mengatakan ini. Yang Mulia sebaiknya Acara Penobatan anda menjadi Kaisar baru harus segera dilaksanakan bahkan akan lebih baik jika dilaksanakan setelah Acara Pemakaman Kaisar." ucap Duke Watson.
"Kenapa begitu paman?" tanya Putra Mahkota Franz bingung.
"Saya mendapatkan informasi dari mata-mata saya bahwa ada sekelompok Bangsawan yang berencana melakukan kudeta sebelum Acara Kedewasaan Yang Mulia." ucap Tuan Muda Alphonso.
__ADS_1
"Apa kau yakin dengan informasi itu?" tanya Putra Mahkota Franz.
"Ya,Yang Mulia. Saya sangat yakin." ucap Tuan Muda Alphonso.
Putra Mahkota Franz yang mendengar keyakinan dalam perkataan Tuan Muda Alphonso dan raut wajah Duke Watson yang tampak sangat serius membuat Putra Mahkota Franz menyadari jika masalah ini sangat serius.
"Baiklah. Aku janji akan sangat mempertimbangkannya." ucap Putra Mahkota Franz.
Setelah selesai dengan percakapan serius itu, Duke Watson meninggalkan Tuan Muda Alphonso dan Putra Mahkota Franz berdua untuk membuat mereka menjadi akrab agar hubungan mereka menjadi baik nantinya setelah Tuan Muda Alphonso naik menjadi Kepala Keluarga Duke Watson.
"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia tapi ada yang ingin hamba tanyakan." ucap Tuan Muda Alphonso serius.
"Katakanlah!" perintah Putra Mahkota Franz.
"Apakah Yang Mulia menyukasi Lady Shiena Ve Carrole?" tanya Tuan Muda Alphonso.
"Tentu saja. Dia gadis yang cantik, baik dan juga pintar." ucap Putra Mahkota Franz.
"Sebaiknya Yang Mulia berhenti mengejarnya karena Shiena bukanlah gadis yang dapat Yang Mulia permainkan." ucap Tuan Muda Alphonso dengan nada sedikit mengancam.
Putra Mahkota Franz yang mendengarnya pun tak bisa menahan tawanya. Tuan Muda Alphonso yang bingung dengan sikap Putra Mahkkota Franz menaikkan alisnya tanda tak setuju.
"Aku tau jika kau juga menyukainya dan aku tak akan melarangnya. Kita bisa bersaing mendapatkan cintanya. Satu hal yang perlu kau tau jika aku tak pernah main-main masalah cinta!" ucap Putra Mahkota Franz.
#Bersambung#
__ADS_1
Jangan Lupa Like, Komen dan Vote nya ya..
🥰😍😘😚 Terima Kasih