The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 87. Awal Pertemuan Baru


__ADS_3

Setelah Putra Mahkota mengetahui semua yang telah terjadi dari Robert. Putra Mahkota, Robert dan beberapa kesatria pergi membantu.


Ketika seorang Nona Muda yang cantik sedang di tarik paksa oleh seorang perampok, Putra Mahkota datang dan membantu menyelamatkannya.


Putra Mahkota pun beradu pedang dengan perampok itu dan terkena sayatan pedang namun berhasil membuat perampok itu kehilangan nyawanya.


Namun di lain sisi, Robert dan kesatria lain sedang bertarung melawan perampok dan akhirnya semua perampok yang ada telah terbunug sementara kepala perampok melarikan diri.


Putra Mahkota yang mengetahui itu langsung memerintahkan Robert unrtuk mengejar ketua perampok itu.


Robert melaksanakan tugas yang diperintahkan Putra Mahkota dan berhasil membawa perampok itu ke hadapan Putra Mahkota.


Putra Mahkota yang melihat ketua kelompok langsung menarik pedangnya dan menebas lehernya.


Semua orang yang ada di rombongan itu melihat kejadian mengerikan itu langsung berteriak dan memalingkan wajah.


Hanya Nona Muda dari rombongan itu saja yang bersikap tenang melihat hal itu. Putra Mahkota yang menyadari tindakannya langsung memerintahkan para kesatria menyingkirkan mayat itu.


Putra Mahkota berjalan mendekati Nona Muda dan bertanya keadaanya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Putra Mahkota.


"A-aku baik-baik saja. Te-terima kasih." ucap Nona Muda dengan terbata-bata.


"Syukurlah. Kami akan pergi sekarang. Hati-hati." ucap Putra Mahkota.


"Tu-tungu tuan. Maafkan kelancangan saya. Tapi anda terluka tuan. Izinkan saya untuk mengobati anda. Saya memiliki sihir cahaya jadi saya bisa menyembuhkan luka." ucap Nona Muda takut.

__ADS_1


"Baiklah." ucap Putra Mahkota.


Putra Mahkota pun setuju untuk di obati oleh Nona Muda dari Rombongan itu. Ketika sedang mengobati, ada perasaan kagum dan juga tertarik dari Nona Muda dan ingin mengenal sang pahlawan lebih jauh.


"Maafkan kelancangan saya. Tuan mau pergi kemana?" ucap Nona Muda.


Putra Mahkota yang mendengar pertanyaan itu terdiam dan melihat keseluruhan wajah dan tubuh wanita yang sedang menyembuhkannya.


'Wanita yang cantii, kulitnya juga putih dan bersih. Hmmm, tubuhnya juga sangat menarik.' fikir Putra Mahkota.


Putra Mahkota yang memandang Nona Muda itu dengan seksama membuat sang Nona Muda menjadi salah tingkah dan malu-malu.


Putra Mahkota pun mencoba berbaik hati dan membalas pertanyaannya.


"Aku ingin ke Akademi Arasha. Aku akan belajar lebih awal disana. Kau mau kemana?" tanya Putra Mahkota.


"Ah, aku tau Akademi itu. Aku juga akan belajar disana tahun ini. Jika begitu nanti kita bertemu Tuan." ucap Nona Muda.


Nona Muda yang mendengar namanya menjadi bingung karna setau dirinya, nama itu adalah nama Putra Mahkota Kekaisaran Pearl saat ini. Namun fikiran itu langsung dibantah sendiri oleh Nona Muda dan berfikir mungkin hanya kebetulan saja namanya mirip.


"Ah, baiklah ian." ucap Nona Muda sambil tersenyum sangat cantik.


Putra Mahkota yang melihat kecantikan itu hanya bisa membalas dengan senyuman juga.


"Ah, iya. Saya sedang dalam perjalanan ke ibu kota untuk bertemu bibiku. Karna sebentar lagi adalah hari kedewasaanku ian." ucap Nona Muda.


"Oh ya. Baguslah. Siapa namamu?" tanya Ian.

__ADS_1


"Hmmm, namaku Anastasya Shera Larsca. Ian bisa memanggilku Tasya." ucap Tasya dengan tersenyum.


Setelah mengobati Putra Mahkota Ian, Nona Tasya di ajak ke perkemahan Putra Mahkota Ian karna Putra Mahkota Ian khawatir bahwa akan ada perampok lain atau hewan buas lain yang akan datang jika mereka berpisah begitu saja.


Nona Tasya pun menyetujuinya dan rombongan itu pun ikut menuju perkemahan Putra Mahkota.


Di perjalanan, Putra Mahkota Ian dan Nona Tasya berjalan beriringan dan saling mengobrol banyak hal satu sama lain.


Ketika sampai di Perkemahan, Nona Tasya terkejut karna di kereta kuda itu ada lambang Kekaisaran Pearl.


'Apa maksud semua ini? Apa ian adalah Putra Mahkota?' fikir Tasya.


Saat Nona Tasya sedang dalam lamunannya, Putra Mahkota Ian datang menghampirinya dan mengajaknya duduk bersama di bawah api unggun untuk menghangat tubuh.


Nona Tasya yang kebingungan pun akhirnya hanya mengikuti perkataan Putra Mahkota Ian tanpa bisa berkata apapun.


'Aku tidak bisa diam saja. Aku harus bertanya. Apa dia benar Putra Mahkota?' fikir Tasya.


#Bersambung#


**Ayo di tebak..


Kira-kira Tasya jadi tanya atau ngak ya?


Lalu, apa yang akan dilakukan Tasya setelah mengetahui kebenarannya?


Yang tau jawabannya komen di bawah ya.. 😁🥰👇

__ADS_1


Jangan Lupa Tekan Like, Komen, Vote dan Favorite nya ya.. 😁


Terima kasih.. 🥰😍❤😘**


__ADS_2