The Last Big Boss

The Last Big Boss
26


__ADS_3

Mansion Mark


" kreeeek ". Pintu kamar Haya terbuka. Mark tersenyum manis menatap Haya yang terlelap.


Mark memang mengurung Haya di mansionnya, namun Mark jarang sekali pulang ke mansion nya.


Sejak Haya di mansion Mark, terhitung ini kali ketiga Mark pulang ke mansion nya.


Haya tak pernah bertanya kemana Mark pergi dan kenapa tak pulang.


Antara tak ingin tau atau tak perduli.


Haya benar benar tipe yang sulit di tebak isi otak nya.


Oleh sebab itu seluruh ruang mansionnya Mark terpasang cctv. Agar kala Mark rindu, dia dapat mengetahui apa yang di kerjakan Haya tanpa menelepon nya.


Mark memasuki kamar tidur Haya. Mark melepas jas yang di pake nya. Mark mulai membersihkan dirinya di kamar mandi.


Tubuh nya terasa lengket akibat aktivitas nya seharian.


Mark yang selesai mandi hanya berlilit kan sebuah handuk kecil menutupi area pusaka nya, berjalan mendekati tempat tidur Haya.


Tanpa pikir panjang, Mark naik ke ranjang berukuran big size itu.


Mark mulai menenggelamkan tubuhnya di balik selimut yang sama dengan Haya.


Haya yang terlelap merasakan aroma tubuh Mark yang bertelanjang dada itu.


Tanpa Mark raih, tubuh Haya secara alami bergerak mencari kenyamanan di balik dada bidang Mark.


Mark tersenyum melihat tingkah Haya yang seperti magnet pada nya. Menempel otomatis.


Kini Haya berbantal kan lengan kokoh Mark. Haya tampak menikmati kenyamanan nya itu. Haya memeluk tubuh Mark yang setengah telanjang, erat.


Mark mencium kening Haya.


" I miss you, baby ".


Mark yang lelah ikut terlelap.


Belum 30 menit Mark memejamkan mata ngantuk nya.


" duk ". Mark terbangun. Kaget.


" ukh ". Rintihan Mark sambil meringis sakit.


Haya menendang pusaka Mark dengan lutut nya.


Pusaka yang terbangun sejak tadi sebelum Mark berusaha menutup mata lelah nya.


Yang dengan susah payah Mark menidurkan nya.


Malah di bangkitkan dengan cara yang tak biasa oleh pujaan hati nya.


Mark menoleh ke wajah Haya yang terlelap tanpa dosa.


" tahan. . . Tahan. . . " dengus kesal Mark menatap wajah polos Haya yang berdamai dengan mimpi.


" sek. . . Sek. . . " Haya bergerak. Selimutnya ter sikap, menunjukan tonjolan bukit kembar nya yang hanya tertutup kain tipis.


Sedetik mata Mark seakan hendak meloncat keluar. Mark menenggak ludah nya kasar.


Suhu ruang cukup dingin, namun tubuh Mark seakan dalam oven.


Mark mulai kedinginan. Nafas nya mulai tak beraturan.

__ADS_1


" sek. . . " Haya kembali bergerak.


Kini kaki nya menindih area pusaka Mark yang berdiri tegak lurus.


Paha mulus Haya terlihat jelas sampai batas segitiga dalaman nya.


Bukit kembar yang menonjol tergencet dada bidang Mark seolah berteriak meminta pertolongan pada siapa pun yang melihat nya,


Mark benar - benar dalam masalah besar.


\=\=\=\=\=


Haya membuka matanya pelan.


" uhhhh . . . ". Haya yang masih di tempat tidur meregangkan otot lengan nya.


" duk ".


" o', kau pulang " sapa Haya yang tak sengaja menonjok wajah Mark.


Haya menatap wajah Mark sedikit lama.


" wajah mu, kau bekerja sangat keras rupanya. Kantung matamu itu, mau bersaing dengan panda ya.


Siapa orang hebat yang menyiksa mu hingga mirip zombie. Kenalkan lah padaku". Beo Haya cuek, sambil turun dari ranjang nya meninggalkan Mark yang mirip mayat hidup.


Mark menatap lelah kepergian Haya yang menuju kamar mandi.


" dasar tak tau diri, sendirinya yang membuat orang jadi zombie malah ngatain. Awas aja kau ". Gumam Mark kesal sembari kembali masuk dalam selimut.


Haya selasai membersihkan diri nya pagi itu.


Haya yang tak mempedulikan Mark sama sekali berjalan menuju meja makan.


Haya yang sudah berhari - hati tinggal di mansion Mark tak kaget lagi dengan tingkah Mark yang seenaknya nya pada nya.


Meski Mark bersikap lancang mencium dan memeluk nya. Namun, Mark tak melampaui batasan nya. Itu yang membuat Haya nyaman - nyaman saja tidur seranjang bersama.


\=\=\=\=\=


Disisi lain,


" Ken tak bisa seperti ini terus ". Ucap Jhuna yang saat itu datang bersama Jessy.


" mereka benar - benar jahat ". Gumam Jessy kesal.


" tapi papa, siapa mereka. Kenapa mereka sejahat ini pada kita? ". Tanya Jessy penasaran.


" Hanya seseorang yang kuat yang berani mengusik mommy mu ". Jawab Jhuna menjelaskan singkat.


Jessy yang juga memanggil Bulan mommy sangat mengerti maksud dari jawaban Papa nya.


" pertarungan para moster ya ". Gumam nya lirih, ngangguk - ngangguk.


" kak, aku tak bisa lagi menunggu"


" tetaplah disini bersama Ken sementara ku selesaikan semua ini dengan cara ku ".


Ucap Bulan dingin.


Tak berapa lama seseorang datang mendekati Bulan dan yang lainnya.


" Bos ". Sapa seseorang itu.


" Stella, kau disini ". Tanya Bulan yang tak tau menahu kedatangan Stella yang mendadak.

__ADS_1


Stella tampak bingung.


" katakan ". Ucap Bulan dingin, sambil menatap tajam wajah bingung Stella.


" itu, emmm. . . Markas kita di wilayah barat kota F semalam di serang. Ratusan mafiso kita tewas bersama runtuhnya bangunan markas.


Tentang kerugian, belum terperinci namun bisa di pastikan mencapai angka yang tak sedikit ". Stella melaporkan maksud kedatangan nya.


Kaki Bulan lemas, Bulan hampir jatuh namun di tangkap oleh Alex yang berada tak jauh dari nya.


" berapa mafiso kita yang selamat ". Tanya Bulan dengan nada rendah.


" Tak sampai 100 orang ". Jawab Stella.


" Baiklah pindahkan semuanya ke markas induk. Beri perawatan terbaik. Dan untuk keluarga mafiso yang tewas, jamin kehidupan keluarga dan pendidikan nya". Perintah Bulan pada Stella.


Stella mengangguk dan pergi melaksanakan perintah Bos nya.


Bulan adalah mafia yang memiliki solidaritas tinggi.


Terhadap mafiso nya, Bulan sangat peduli. Tak seperti mafiso lain yang hidup seperti anjing tuan nya, mafiso Bulan semua di perlakuan seperti saudara oleh nya.


Bulan sangat menghargai nyawa setiap mafiso nya.


Tapi untuk mafiso musuh, oh maaf maaf saja.


Iblis tetap lah iblis.


" JASON. . . " gumam Bulan penuh kebencian.


\=\=\=\=\=


Mansion Mark


" baby, kau tak bosan kah menatap huruf setiap saat nya ". Ucap Mark menatap Haya yang asik membaca di perpustakaan mansionnya.


Haya acuh.


Mark berjalan mendekati Haya.


" cup ". Mark mengucup lembut kepala Haya.


Haya tak bergeming.


Tiba - tiba,


" buk". Haya menutup kasar buku yang di baca nya.


Haya menatap kosong rak buku di hadapan nya.


Mark menatap tajam perubahan sikap Haya.


Haya menoleh menatap wajah Mark, sembari tersenyum aneh.


Senyuman aneh Haya di balas senyuman yang sama oleh Mark.


" MAKA, JELASKAN LAH ". Ucap Haya dengan tampang iblis nya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍


AND KOMENT


Happy reading all 🌷

__ADS_1


__ADS_2