
Mansion Bulan
Suasana pagi yang cukup bersahabat dan tampak hangat. Bulan yang terbangun lambat menuruni ranjang big size nya setengah mengantuk.
" hooaaam. . . ." Haya menguap sembari melangkah menuju kamar mandi. Haya yang telah membersihkan diri kemudian bersiap untuk sarapan.
Haya dengan santai nya menuruni anak tangga mansion mommy nya. Haya yang mengenakan baju rumahan tanpa lengan yang dipadukan dengan celana pendek, tak mengurangi sedikit pun pesona nya.
Rambut yang dikucir asal - asalan nyaris acak - acak an membuat wajah cubby nya terlihat makin imut.
Haya yang berjalan acuh tak memperhatikan sepasang mata coklat menatap nya tanpa nafas.
" pagi mom. . . pagi dad. . ." sapa Haya pada kedua orang tuanya sembari mencium satu sisi wajah Bulan dan Alex.
Alex dan Bulan yang sedang menikmati breakfast nya menyambut hangat sapaan putri nya.
Pemilik sepasang mata coklat yang sedari tadi tak melepas pandang dari Haya ikut menyapa Haya.
" pagi baby. . ." sapa Mark tersenyum polos.
Haya cuek bebek. Haya yang duduk berseberangan dengan Mark acuh. Tak menganggap Mark ada.
Mark yang di abaikan pun tertunduk sedih.
Bulan yang melihat ekspresi Mark merasa tak tega. Bulan menyenggol Alex sembari melempar mata ke arah Mark dan Haya.
Tak berapa lama.
" oh . . . Mark, kau kah itu ?" Ken yang datang tiba - tiba terkejut melihat Mark yang duduk sarapan bersama keluarganya.
Mark menatap Ken sambil tersenyum.
Ken dengan cepat duduk di samping Mark. Ken yang tak sadar situasi dengan santai nya bertanya tentang wanita tunangan Mark tempo hari.
" jadi, itu tunangan mu anak mana?"
" seksi gila loh " ucap Ken sembari mengedipkan satu mata nya melirik Mark.
Mata Mark tiba - tiba melebar. Mark berhenti bernafas beberapa detik. Sembari melirik ekor mata pada Haya, Mark berbicara dalam hati.
" MAMPUS . . . Ken kau memajukan tanggal kematian ku".
Mark yang berubah ekspresi dari sedih menjadi takut, keringat dingin.
Tampak rasa takut dari raut wajah Mark. Sesekali Mark mengusap keringat nya yang mengalir cukup deras. Mark yang tertunduk tak berani menatap Haya.
__ADS_1
Ken tak sadar situasi. Ken dengan cueknya menyantap sarapan pagi nya dengan lahap.
Ken yang asyik dengan kegiatan nya tiba - tiba merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh nya.
Ken yang sadar suhu di sekitar nya berubah, menghentikan aksi nya.
" kok tiba - tiba suasana terasa mencengkam gini ya " batin Ken masih menatap piring berisi aneka makanan di hadapan nya.
Ken yang merasa aneh dengan suhu ruang yang berubah drastis mendongak kan wajah nya menatap Haya yang duduk berhadapan dengan nya.
Seketika Ken ikut - ikutan berhenti bernafas beberapa detik.
" MATI AKU. . ." gumam Ken yang kini merasakan mati suri.
Mata Ken terbelalak lebar menatap Haya. Ken dengan pelan menarik tubuhnya bersandar pada sandaran kursi yang di duduki nya.
Ken yang merasa terancam hendak mencari pertolongan pada Mark. Ken dengan cepat menoleh ke arah Mark yang duduk sejajar dengan nya.
Betapa terkejut nya Ken, Mark yang biasa nya terlihat garang bag raja hutan kini terlihat mirip bekicot sawah. Kisut dan pasrah.
Ken makin tertekan . . . Ken yang tak kehabisan akal hendak mencari perlindungan pada mommy nya. Dan. . .
" HABIS SUDAH " batin Ken, ternyata Bulan memandang Ken dengan aura yang sama mematikan nya dengan Haya.
Ken yang merasa tak kan lagi bisa terselamatkan kemudian tertunduk lesu.
"baiklah. . . ambil lah nyawa ku " gumam Ken pasrah tertunduk tak memandang Haya.
"CETAK". . . Haya menjitak kepala Ken.
"Aow. . . . Ay, sakit. . . ." rintih Ken manja sambil memasang puppy eyes nya.
" Ay. . . kan yang selingkuh Mark kok aku yang di jitak " Ken protes dengan nada hati - hati.
" ah kau Ken, apa yang kau katakan. Aku tak berselingkuh" Mark membela diri.
Haya tak menanggapi ucapan Mark. Haya kembali menyantap sarapan nya. Haya yang merasa cukup kenyang kemudian meletakkan alat makan nya.
Haya kini beralih menatap Mark dalam. Bulan dan Alex yang sedari tadi sudah tak berselera dengan sarapan nya menatap Haya dan Mark bergantian.
"baiklah. . . jelas kan". Ucap Haya datar sambil melipat kedua tangan nya di dada.
Mark yang menyadari tak mungkin lagi bisa bersembunyi menatap Bulan dan Alex tajam.
Sementara Ken menatap ke empat orang mengerikan itu, bingung.
" baiklah baby, dengarkan penjelasan ku" ucap Mark memulai cerita nya.
__ADS_1
" hm " jawab Haya datar tak berekspresi.
" sebelum nya maaf baby, soal yang kau lihat kemaren aku sungguh tak berselingkuh. Aku hanya memainkan peran ku sebagai tunangan Lea sebelum bertemu dengan mu". Mark menjelaskan singkat.
" lalu " gumam Haya masih datar.
" Ramon ayah Lea memiliki surat perjanjian peralihan seluruh kekayaan Jason. Sebagai jaminan pertunangan ku dengan putri nya",
" aku tak bisa meninggalkan Lea begitu saja, aku harus merebut kembali hasil kerja keras kakak ku. Tak kan ku biarkan orang lain menikmati hasil darah dan keringat kakak ku begitu saja" jelas Mark yang merasa tak punya pilihan.
Haya mendengar tapi tak berekspresi. Mark menatap Haya ragu.
" LANGSUNG KE INTINYA SAJA" ucap Haya yang kini terdengar tak cukup sabar.
Mark lagi - lagi menatap Bulan dan Alex tajam. Mata Mark seakan berkata: " apa yang harus kukatakan?".
Haya terus menatap Mark, dingin. Pandangan Mark yang masih menatap Bulan, menegang. Mark tampak tersudut.
" huh. . . " Bulan buang nafas kasar. Bulan kemudian melipat kedua tangan nya sembari duduk bersandar.
" sudah ku bilang kau tak usah melakukan itu" Ucap Bulan yang tahu segala sesuatunya.
Ken yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia mulai paham situasi.
"Jadi mommy tau Mark masih hidup, Mommy juga tau Mark punya tunangan?" Ucap Ken penasaran.
" bagaimana tidak, mommy lah yang mecangkok jantung Jason pada Mark. Mommy juga tau rencana Mark yang tetap menempel pada tunangan monyet nya itu" ucap Haya melirik ekor mata Bulan dan Alex.
Bulan dan Alex saling pandang pura - pura gila.
" Dan kau Mark. . . Kau pikir dengan terus menempel pada anak Ramon, kau bisa menyelamat kan ku?".
Mendengar ucapan Haya, Mark cukup terkejut. Mark tak menyangka ternyata Haya tau segala nya.
Mark merasa bersalah sembari menatap sayu Haya.
" ku beritahu kau sesuatu. . ." ucap Haya terdengar meremehkan.
" entah itu anak Ramon atau bahkan Ramon sekalipun, mereka takkan pernah bisa menyentuh ku. TAKKAN PERNAH!"
Ucap Haya dengan aura hitam mendominasi.
Mendengar ucapan Haya, seketika Bulan menoleh kasar menatap Haya yang di kuasai aura hitam nya. Bulan menatap dalam, wajah iblis putri nya.
" MUNGKINKAH. . ." batin Bulan mencurigai sesuatu yang mengerikan dibalik ucapan Haya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
happy reading all 🌷