
Belinda malam ini sedang membereskan barang yang akan di bawa ke America besok.
Ben pun membantunya karena kasihan melihat sang istri lelah sendiri.
"Bella, jangan lupa bawa vitamin" ucap Ben.
"Ya mas terimakasih sudah mengingatkan" Jawab Belinda tanpa menoleh pada sang suami.
Ben kemudian menyerahkan kopi susu pada Belinda.
"Untukmu" ucapnya.
"Terimakasih! Mas selama aku tak ada disini, jaga diri kamu, Jangan telat makan ya karena kata papi, kamu punya gerd! Dan jangan sampai lupa minum vitamin" tutur Belinda.
"Ya Bella aku akan menjaga diriku baik-baik" jawabnya singkat.
"Stop Bella bertingkah layaknya istri yang sesungguhnya karena aku tidak menganggapmu demikian. Cintaku hanya milik Tiffany seorang" Ucapnya dalam hati.
Ben pun berlalu menenangkan hatinya di balkon kamar itu. Jiwanya seakan ingin bermurah pada sang istri, ingin membantu dan ingin bersikap baik padanya tapi hatinya seolah berkata: Jangan Ben! Jangan bersikap baik pada istrimu. Jangan berikan celah pada hatimu karena hatimu hanya milik Tiffany. Istrimu hanyalah benalu dalam hubungan kalian berdua. Belinda tidak pantas mendapatkan cinta yang istimewa di hatimu.
Ben menyugar rambutnya dengan prustasi. Dia pun berjalan ke kamar mandi dan mengisi bathub dengan air hangat dan menuangkan esensial oil pada air hangat itu.
"Air untukmu mandi sudah ku siapkan! Ayo mandi dulu biar badanmu relax" Ben pun kemudian meraih kunci dan jaketnya dan keluar dari rumah itu.
"Mau kemana mas?" tanya Belinda.
"Kau tak berhak tahu Bella" jawabnya singkat.
Belinda pun tak menanggapi lagi dan akhirnya dia putuskan untuk mandi.
Di dalam mobil, Ben menelepon Tiffany yang sedang di marahi oleh mamanya.
"Fany kemana saja kamu seminggu tidak pulang ke rumah? Kamu tinggal dimana?" tanya Haruni.
"Sudahlah ma, kan aku sudah pulang kenapa mama tanya itu terus sih!" jawab Tiffany jengah.
"Jawab mama kamu tinggal dimana selama seminggu ini?" Haruni melotot karena terlalu kesal dengan sang anak.
"Ya aku jujur, aku tinggal dirumah Kak Bella" jawabnya seolah tanpa dosa.
"Apa? Kau tinggal bersama mereka? Jadi kau merecoki kakakmu?" Haruni dibuat semakin emosi.
"Ya aku tinggal bersama mereka! Aku kasihan saja pada kak Bella mungkin dia butuh teman" jawabnya santai.
Plakkkk!!!
"Keterlaluan kamu fany! Tidak seharusnya kamu seperti ini pada kakakmu. Mama bilang lepaskan Ben sayang lepaskan masih banyak pria di luar sana yang lebih dari dia. Mama mohon jangan jadi duri di pernikahan Bella mama mohon nak" Haruni menangis.
"Mama sudah menamparku dua kali! Mama pikir aku akan semudah itu menuruti untuk melepaskan cintaku pada Ben? Tidak ma tidak! Dan mama harus ingat yang menjadi duri dalam cinta kami itu Kak Bella bukan aku" ucapnya tak kalah dengan sang mama.
__ADS_1
"Apa kamu tidak kasihan kepada kakakmu Fany? Dia sangat menyayangimu!" ucap Haruni lirih.
"Aku sayang pada Kak Bella, tapi aku juga sangat mencintai Ben dan Ben pun demikian. Sampai kapanpun aku takan bisa melepaskan dia" jawab Tiffany sembari keluar dari rumahnya.
"Fany mau kemana kamu?" tanya Haruni.
"Itu bukan urusan mama" ucapnya sembari masuk kedalam mobilnya.
Drtttttt--------Drttttttttttttt!!!!!! Ponselnya bergetar. Ben menelepon dirinya.
"Hallo sayang"sapa Tiffany.
" Global hotel. Aku tunggu disana" Ben langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tiffany pun langsung menuju ke tempat yang Ben tunjuk.
Sesampainya disana Tiffany langsung membuka pintu kamar hotel yang sudah Ben pesan. Terlihat Ben sedang termenung memandangi Tiffany dengan mata nanar.
"Sayang!" Tiffany berhambur ke pelukan Ben.
"Aku merindukanmu cintaku" Ben membalas pelukan sang kekasih.
"Aku butuh pelepasan" ucap Ben dengan mata sayu.
Gairah yang dia tahan karena melihat Belinda, dia balaskan pada sang kekasih Tiffany. Malam itu mereka lagi dan lagi melakukan permainan panas.
"Ya Tuhan semoga suamiku baik-baik saja di luar sana Jaga dia Ya Tuhan dari segala marabahaya yang mengancam jiwanya. Jauhkan dia dari segala dosa kemaksiatan yang akan menghancurkan hidupnya. Ben Lazuardy Mahardika semoga kau bisa menjadi suami seutuhnya untuku" lantunan do'a Belinda panjatkan pada Ben yang sedang bertukar peluh dengan adiknya sendiri.
Belinda pun tidur karena dia harus berangkat pagi-pagi.
Belinda menggeliatkan tubuhnya, dia terkejut ketika dada bidang dan tangan kekar sedang memeluk tubuhnya, matanya terpejam dengan damai karena mungkin semalam dia kelelahan setelah puas bercinta dengan sang kekasih.
"Dia kapan datangnya?" ucap Belinda dalam hati. Dia pun segera bangkit dan berjalan ke kamar mandi.
Sesudah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya, Belinda segera ke dapur untuk membuatkan sang suami sarapan.
Nasi goreng dan cokelat panas menjadi sarapan mereka.
Ben mengerjap-ngerjapkan matanya karena sinar mentari pagi menembus celah matanya.
"Hoammmmm.. Ini sudah pagi rupanya" Ben pun bangkit dari ranjang dan segera masuk kamar mandi.
Ben keluar dari kamarnya dengan mengunakan pakaian casual. Dia mencium aroma masakan yang sangat harum. Belinda yang menyadari sang suami telah berdiri di dekatnya langsung berbalik badan.
Ben seketika tercengang saat melihat wajah Belinda yang sudah rapi dengan make-up yang sedikit tebal, Bibir seksinya dia pakaikan lipstik merah maroon seakan menambah kesan sensual padanya.
"Bibirnya jauh lebih seksi di bandingkan bibir Tiffany. Oh tuhan aku bisa gila jika lama-lama dekat dengan Bella" gumamnya.
"Ayo kita sarapan" ucapan Belinda membuyarkan lamunan Ben.
__ADS_1
"Iya!" jawabnya sembari mendudukan bokongnya.
Tak ada suara hanya ada dentingan sendok dan piring yang saling beradu dalam acara sarapan mereka sampai sarapan pun selesai.
"Mas, kamu mau kemana pakai baju santai seperti itu? Kamu tidak bekerja?" Belinda bertanya heran.
"Aku akan mengantarkanmu ke bandara pagi ini. Aku nanti berangkat ke kantor siang jam satu" jawab Ben dingin.
"Terimakasih mas sudah mau mengantarkanku. Hati ini sangat tersanjung" belinda tersenyum manis membuat Ben ingin menerkamnya tapi balik lagi hatinya selalu bicara JANGAN!
Sampailah dia di bandara. Ben membawakan koper sang istri. Tak di sangka dia bertemu dengan Aldo yang sama-sama akan berangkat ke America.
"Bu Bella!" ucap Aldo.
"Hai Pak Aldo. Anda mau kemana?" tanya Belinda.
"Saya mau ke America" jawabnya singkat.
"Oh bisa kebetulan sama ya" ucapnya.
Aldo hanya tersenyum.
Ben memeluk Belinda sebelum dia berangkat. Aldo hanya memandanginya dengan tatapan nanar.
Pesawat kelas bisnis menjadi pilihan Aldo dan Belinda. Kebetulan juga kursi mereka bersebelahan.
"Oh yaampun Pak Aldo di sebelah saya"Belinda tersenyum.
" Ya mungkin hanya sebuah kebetulan Bu Bella" ucapnya singkat.
"Pak Aldo!" seru Belinda.
"Ya Bu" jawab Aldo.
"Terimakasih atas cokelatnya" Belinda menunjukan cokelat pemberian Aldo yang hanya tinggal setengah itu.
Aldo hanya mengangguk saja.
"Anda kan asisten pribadinya suami saya, berarti Pak Aldo berangkat ke America ada pekerjaan apa? Seharusnya suami saya kan yang berangkat ke luar negeri sama seperti saya karena tugas ke luar negeri tidak bisa di gantikan?" tanya Belinda.
"Ya benar seperti itu. Hanya saja Pak Ben menyuruh saya menggantikannya karena dia tidak berkenan berangkat" ucap Aldo santai.
Hati Belinda seakan di remas. Sakit sekali rasanya mendengar ucapan Aldo. Ben tahu dirinya akan berangkat ke America dan dirinya ternyata ada pekerjaan disana, tetapi kenapa dia enggan untuk berangkat dan tidak bilang padanya. Dia malah menyuruh Aldo untuk menggantikannya. Tak terasa air matanya menetes.
Aldo tahu apa yang di pikirkan wanita di sebelahnya. Aldo pun memberikan saputangannya pada Belinda tetapi dia hanya diam
"Hapus air mata anda! Saya paling tidak senang melihat wanita menangis" ucap Aldo sembari menghapus air mata Belinda.
"Air matamu terlalu berharga. Aku tidak sanggup melihatmu begini my little pony" gumamnya dalam hati.
__ADS_1